Namanya juga βpembantuβ, artinya hanya membantu. Namun, dalam praktik sehari-hari para pembantu ini mendapat limpahan seluruh tugas. Katakanlah sederhananya mencuci, memasak, menyetrika, bersih-bersih, mencuci mobil, hingga membantu anak majikan mengerjakan PR sekolah! Kita sering lupa. Padahal, pembantu juga manusia, mereka punya keterbatasan tenaga.
Tugas multifungsi pembantu membuat para pembantu tidak lagi duduk nyaman di kursinya. Kursinya kadang terasa panas bisa juga adem ayem, tergantung tuan yang memberikan petunjuk. Tapi kadang pembantu juga digoblok-goblok karena dianggap tidak becus mengamankan kebijakan-kebijakan yang dilisankan tuannya.
Kadang pula pembantu tidak bisa mengerjakan apa-apa karena memang pekerjaannya diambil sang tuan. Tapi tidak jarang juga pembantu menjadi tuan-tuan bagi pembantu-pembantu lainnya. Hal ini menggambarkan sebuah trandensi moral. Betapa moral menjadi tidak bermoral ketika tuan menyuruh dan menggoblok-goblokan pembantu tapi si tuan tidak pernah mengerti tugas pokok dan pungsi pembantu.
Sangat ironis, ketika pembantu menjadi sangat pintar dan memiliki moral tinggi. Namun tuannya katakanlah tukang judi, mabuk-mabukan alias suka pergi ke kape atawa diskotik. Atau jangan-jangan jadi tukang lacur atau menjadi pelacur sekalian. Kerjanya hanya marah-marah dan marah. Tidak tega melihat uang nganggur, punya uang pembantu, uang dapur langsung diembat diludaskan di meja kasino.
Aha …. jelas ini preseden tidak bagus. Tapi anehnya, para pembantu selalu setia dan saking setianya kerap menginjak para pembantu lainnya. Katakanlah tuannya merasa tidak nyaman dengan pembantu yang berseliweran, diberikankan kewenangan. Ada yang menjadi kepala pembantu, kepala masak, kepala dapur, kepala menghidangkan makanan dan seterusnya.
Akhirnya para pembantu mengejar kedudukan dalam pembantu. Mereka tidak lagi berpikir bagaimana menjadi pembantu yang baik dan benar sesuai ejaan yang disempurnakan. Betapa pembantu menjadi menjijikan ketika tuannya datang menggonggong seperti anjing. Dan tidak jarang mengeong menjilati sepatu mengkilatnya.
Perilaku pembantu menjadi berubah, tidak layak menjadi pemimpin pembantu pun akan berusaha menjadi pemimpin pembantu. Padahal dia tidak bisa masak, menjerang air, atau mengepel dan mencuci mobil. Yang penting banyak gelar ngaregreg di pundaknya apakah raden, pangeran atau apalah sebutannya. Jelas semuanya hanya mengejar bagaimana rasanya menjadi pemimpin pembantu.
Begitu tuannya tahu, bahwa pembantunya akan terus menggonggong dan menjilati sampai lupa. Bagaimana menyejahterakan pembantu yang memang pembantu? Aturan standar gaji yang seharusnya diterima di potong. Malah ada hak yang tidak pernah diberikan. Katanlah uang lauk pauk pembantu. Tuan hanya memikirkan bagaimana caranya mengecat rumah supaya tetap kelihatan bagus.
Bagaimana taman tidak ada relief dan air pancurannya, supaya ada. Meski uang tidak ada. Akhirnya tuan menjadi tukang penghutang kelas kakap. Namanya kakap, tentu segala di caplok, apa itu plangton, ikan kecil, rebon udang, belut dan sebangsanya. Namun tidak juga memerhatikan nasibnya. Nasibnya hanya menjadi dimangsa dan dimangsa.
Kadang pembantu perlu dikasihani juga. Tapi kadang tidak perlu dikasihani. Apalagi sekarang pembantu memiliki nilai tawar tinggi. Bahkan ke depannya akan menjadi sosok menakutkan bagi para tuannya. Betapa tidak, jika sekarang tuannya mengharapkan balas jasa dengan meminta bantuan pembantu untuk suatu perkara. Tentunya jika sudah goal, apa yang terjadi?
Pembantu akan melawan karena dianggap punya jasa besar. Tapi bagaimana andaikan tidak mampu meloloskan kepentingan tuannya. Dan yang lain memerolehnya, bukan kah akan menjadi rusak juga rumah itu?***