Arsip untuk Maret, 2008

h1

Di Atap Kita Bersetubuh

Maret 16, 2008
ketika takut menyelinap diam-diam di ruang tamu.
ada sebait puisi tergeletak di atas meja, tumpah ke dalam mangkuk.
tangan gemetar di atas bahu, membawa sebatang lilin yang terperangkap gelap.
ada bisikan yang menguap diantara daun pintu dan jendela.
uang logam terbanting di pintu dan mengendap dalam angan-angan.
siapa engkau yang terbang di atas kepunden, membawa secarik alamat.
namun tidak juga ditemukan.
angin yang bertiup dari celah-celan dinding, menyapa diam-diam ke tengkuk-ku.
mengajak-ku bercengkrama dengan sekaleng first drink.
membacakan mantera diantara jelaga yang dilempar ke penggorengan.
ah …. mengapa kau masih diam, sayang?
tak terdengarkah jantungku yang bertalu-talu
membawakan rebana dengan secangkir kopi pait
mengajak mu bersetubuh di atas atap
ah…………. kenapa membisu sayang,
masih ada bantal guling yang tidak pernah setia menemani malam
tidak pernah menghadirkan mimpi
meski sekejap ….
ah ………… sayang ………..
dimana senyummu yang kerap mengikut sandalku?
h1

Jangan Sekolahkan Anak Kita

Maret 3, 2008
Dunia pendidikan dewasa ini terasa semakin kacau balau, khususnya yang terjadi di sekolah-sekolah. Tidak terkecuali. Mungkin sekolah swasta sudah jelas statusnya dan orientasinya. Meski dinaungi oleh mahluk yang bernama yayasan. Mungkin juga tidak perlu dipersoalkan.

Yang menjadi persoalan ialah sekolah-sekolah negeri. Sekolah milik pemerintah, belakangan mengalami perubahan orientasi dari mendidikan jadi cord bisnis. Alias orientasi dagang. Alis berorientasi keuntungan! Betapa tidak, pemerintah telah mengucurkan dana bantuan operasional sekolah alias BOS.
Artinya kebutuhan sekolah untuk sarana dan prasana pendidikan sudah terpenuhi. Namun kenyataan di lapangan, ini terjadi di Kabupaten Kuningan. Pihak pengelola sekolah mulai dari SD sampai SMA, (SMA tidak memeroleh BOS) telah menjadikan dunia pendidikan jadi dunia dagang.
Contoh kecil, sekolah mengakali kepada siswanya untuk membeli buku lembar kerja siswa (LKS). Celakanya lagi, memberikan pekerjaan rumah (PR) kepada siswa melalui LKS pagi dan siang. Artinya PR pagi berbeda LKS-nya dengan PR siang hari untuk dikerjakan di rumah.
Padahal buku sumber sudah di drop melalui BOS. Tidak itu saja, sekolah tetap memungut uang kepada siswa dengan dalih program pramuka, PMR dan seterusnya. Itu baru di tingkat SD.
Lebih parah lagi, tingkat SMP. Siswa harus membeli sepatu dengan lebel sekolahnya dengan harga Rp. 80.000,- gesper, kaos kaki, baju dan rok seragam. Semuanya berlebelkan sekolah bersangkutan.
Jika siswa tidak menggunakan atribut yang berlebelkan sekolahnya kena hukuman disiplin. Itu baru dari satu sisi. Belum LKS, buku sumber mata pelajaran. Dan SPP tetap berlaku namun bahasanya menjadi bantuan program penggemukan pengelola sekolah atau disingkat BP 3.
Betapa kacaunya dunia pendidikan. Sementara orang tua tidak pernah ribut dengan bayarannya meski harus banting tulang menyediakan biaya sekolah kendati mahal. Namun tidak menjamin anaknya masuk sekolah vaforit. Atau setidak-tidaknya berkualitas.
Tapi apa lacur. Dunia pendidikan hanya menuntut dan menuntut tidak saja pada pemerintah tapi juga pada orang tua siswa. Artinya, dunia pendidikan menjadi dua mata pisau yang sama tajamnya. “gorok sana … gorok sini ….” ah memang keterlaluan.
Jika sudah carut marut begini, untuk memerbaiki dunia pendidikan hanya cukup dengan satu cara. Yaitu “Jangan sekolahkan anak-anak kita di sekolah paling sedikit 6 tahun” biarkan anak kita, kita didik di rumah. Tidak harus masuk sekolah. Logikanya, jika selama enam tahun itu tidak ada yang masuk sekolah dan terjadi di seluruh Indonesia. Maka dunia pendidikan akan berubah!***