Ketika api kebencian meluap melebihi ubun-ubun. Ketika kebencian telah melampoi garis laut. Ketika kebencian terbenam dalam dasar bumi. Tidak ada lagi tangan yang sanggup melenyapkannya. Tidak ada lagi kata-kata yang sanggup meredam untuk tidak luber. Betapa kebencian tidak pernah lekang dari jiwa manusia. Betapa kebencian selalu terlahir sejak anak-anak adam terlahir ke dunia.
Apakah kebencian akan selamanya hidup di setiap hela nafas manusia? Bukan kah kata agama tidak diperkenankan memelihara kesumat. Harus mampu memaafkan dan dimaafkan? Ah, manusia memang ditakdirkan, siapapun yang masih namanya manusia, bukan hewan atau tumbuhan kerap dihuni angkara yang tidak pernah diam.
Begitupun dengan kesumat atau kebencian yang telah berurat akar sejaman dengan tuanya dunia. Masih kah perlu memerbincangkannya? Padahal tidak diperboncangkan pun tidak dapat menyelesaikan kesumat yang terus membara. Apalagi dibicarakan, akan melahirkan kesumat-kesumat baru karena tidak bisa mereduksi kesumat menjadi enegeri positif. Meski kesumat tidak pernah dibicarakan, namun betapa dunia ini semakin dihantui ketakutan akan kebencian yang terus berlangsung.
Bagaimana bangsa-bangsa di dunia, dibangun atas kebencian dan kesumat terhadap negara-negara lain. Sebagai ilustrasi, terjadinya perang dingin antara Amerika dengan Uni Soviet yang sekarang hancur menjadi Rusia. Bukankah dihadapkan pada kebencian yang menular ke bangsa-bangsa lain? Bagaimana bangsa lain memandang Rusia dengan benci. Begitupun pandangan terhadap Amerika.
Sekarang kita dihadapkan pada kebencian atas dampak kenaikan harga BBM. Kebencian terhadap Kejaksaan yang telah mendagangkan jabatannya. Bagaimana para obligor BLBI tidak merasakan miskinnya kekurangan sandang pangan. Bagaimana mulut-mulut wakil rakyat di senayan sana hanya menjual lifstik. Tidak pernah memerjuangkan yang diwakilinya. Melahirkan undang-undang yang tidak berpihak kepada rakyat. Tapi pada partainya sendiri.
Bagaimana rakyat benci terhadap kemiskinan yang terus menerus menggerogoti tapi pemerintah tidak pernah memikirkannya. Hanya bagaimana posisinya tidak terampas. Betapa bencinya masyarakat Porong Sidoarjo yang tetap kesusahan atas lumpur lapindo tapi tidak mendapatkan perhatian serius. masih banyak kebencian dan kesumat yang dibawa sampai ke liang lahat dan tidak terselesaikan secara hukum.****

