Arsip untuk November, 2008

h1

“Ewuh Pakewuh” Rupiah Terhadap Dolar, Ganti Saja!

November 20, 2008

Kondisi ekonomi dunia yang terus gonjang-ganjing berdampak terhadap negara-negara berkembang, termasuk Indonesia. Perekonomian Indonesia belum juga “menarik nafas” sudah diancam keterpurukan ke lembah kemiskinan lebih dalam. Memang diakui pelbagai pihak, dewasa ini ketergantungan ekonomi antar negara semakin kuat. Namun, pondasinya tidak sekokoh negara-negara maju. Sehingga kerap ada guncangan, ekonomi Indonesia turut terguncang.

Paska porak porandanya perekonomian Tahun 1998, semua mata mulai terbuka bahwa pertumbuhan ekonomi yang dianggap maju pesat (saat itu disebutnya rencana pembangunan lima tahun tahap tinggal landas) betul-betul kandas di tengah jalan. Selama tiga puluh dua tahun, ekonomi Indonesia disebutnya ekonomi semu (tidak mengarah ke liberal atau sosialis). Soemitro yang menjadi embah ekonomi Indonesia telah menganjurkan, “Pertumbuhan ekonomi akan cepat di dukung dana negara yang kuat. Guna meningkatkan anggaran ada dua hal yaitu meminjam dari negara donor dan investasi,”

Petuah yang sakral itu diterapkan sepenuhnya oleh Soeharto. Meningkatkan pinjaman dari negara donor untuk meningkatkan pembangunan serta membuka lebar-lebar kran investasi. Namun dalam prakteknya, terjadi disorientasi. Sistim ekonomi Pancasila dikebiri dengan ekonomi liberal dan sosialis semu. Penggerakan sektor-sektor ekonomi tidak berbasiskan kerakyatan. Atau setidak-tidaknya memberikan ruang untuk masyarakat melakukan apresiasi terhadap pertumbuhan ekonomi. Masyarakat hanya dijadikan penonton, bukan pelaku ekonomi.

Dampaknya sekarang, perekonomian Indonesia hanya mengandalkan impor. Mulai dari kebutuhan bayi, sampai barang mewah. Betapa kecutnya, ketika kita tidak menemukan barang original buatan dalam negeri. Mungkin hanya batik dan jamu, itu pun kini sudah diklaim Malaysia. Sebagai contoh, susu hanya bisa dipenuhi oleh produksi lokal, tidak jauh dari 30 persen dari total kebutuhan. Sedangkan sisanya diimpor dari Australia dan negara lainnya.

Begitu pun hasil peternakan, seperti daging sapi. Jika sudah demikian, muncul pertanyaan. Bagaimana dengan kebesaran pendudukan Indonesia yang konon mampuh melakukan swasembada pangan? Setiap daerah, dalam laporan akhir tahunnya, selalu menyebutkan mengalami surplus beras dan kebutuhan pokok lainnya. Betapa hebatnya, laporan itu. Artinya, rakyat Indonesia tidak pernah kekurangan sandang pangan bahkan mungkin papan.

Namun selalu kita dengar isakan mereka tentang kemiskinan yang meraja lela. Penganggur setiap tahun bertambah, kendati dalam laporan angkanya dapat diturunkan. Lapangan pekerjaan terus bertambah baik di sektor riil dan jasa. Tapi ketika ada bursa lowongan kerja di buka lebar-lebar, yang datang bukan ratusan tapi ribuan. Begitu pun dengan terjadinya migrasi dan urbanisasi dari desa ke kota, setiap tahun tidak pernah berkurang.

Sampai-sampai Ibu kota Indonesia (Jakarta) sesak oleh pendatang. Begitu sesaknya, Pemrov DKI menerapkan aturan tidak manusia. Merajia KTP, dan melakukan deportasi kepada masyarakat pendatang. Masyarakat pendatang pun tidak pernah kapok diperlakukan seperti itu, bagaikan sudah tidak memiliki lagi hati dan harga diri. Setiap hari di layar kaca, kita saksikan pedagang-pedagang di gusur (bahasa pemerintah ditertibkan).

Bukan kah sama halnya bahwa hak dasar sebagai warga negara Indonesia untuk memeroleh penghidupan yang layak dan aman tidak berhasil diterapkan oleh pemimpin Bangsa Indonesia. Tidak saja pemimpin yang sekarang. Mulai dari Soekarno, Soeharto, BJ. Habibi, Gusdur, dan Megawati. Semuanya tidak mampu memberikan peningkatan ekonomi secara signifikan. Betapa sedihnya ketika terjadi hiruk pikuk di gedung DPR/MPR yang konon refresentatif rakyat Indonesia.

Setiap tahun menghasilkan undang-undang, tapi apa hasilnya bagi rakyat yang terus digerus kemiskinan karena susahnya memeroleh penghasilan sepadan dengan kebutuhan. Bagaimana, mereka tidak menjerit terhimpit kemiskinan, harga-harga sudah tidak berlebel rupiah lagi tapi dolar Amerika. Ketika kita belanja, tentu menggunakan rupiah. Tapi, di balik itu, jumlah harga yang disodorkan sama senilai dengan harga dolar.

Contoh tidak sederhana, kebutuhan ondoerdil kendaraan setiap melonjak-lonjak dengan alasan dolar. Begitu pun dengan barang elektronik. Jika sudah demikian, tahun mendatang seluruh barang akan dibandrol dengan dolar. Artinya, penjajahan terhadap rakyat Indonesia tidak pernah berakhir. Namun tidak kasat mata, ibarat kita membaca komik, semuanya terasa hitam putih. Tokoh antagonis dan protagonisnya jelas. Begitu pun bidang ekonomi tokoh kapitaslis, sosialis telah menghancurkan sisi kemanusiaan rakyat Indonesia dari segala aspek.****

h1

Pesta Emosial Atas Kemenangan Obama

November 7, 2008

La, la, la,

La, la, la.

Hey, hey, hey

Goodbye.

Sekitar 2.000 orang berkumpul di depan Gedung Putih, merayakan kemenangan calon presiden yang baru, Barack Obama. Mereka menyanyi, menari, menangis terharu, serta saling menyalami dan memeluk satu sama lain sebagai ekspresi kebahagiaan.

Hari itu kegembiraan diluapkan di luar kantor tempat Presiden George W Bush berkantor. Januari mendatang, Bush secara resmi mundur dan menyerahkan jabatannya kepada Obama.

Seperti ada cinta yang meluap ke udara saat kegembiraan tercurah oleh setiap orang. Di antara kerumunan massa, Ted Howard (64), pria berdarah Afro-Amerika, tak mampu menyembunyikan emosinya. Ia memeluk teman-teman di sekitarnya yang juga sangat bergembira.

”Saya tak pernah mengira dapat menyaksikan hari yang seperti ini,” tuturnya. Howard pernah mengalami momen penting ketika memberikan suara pertamanya untuk Presiden John F Kennedy tahun 1960. Dia juga menyaksikan prosesi pemakaman Presiden AS akibat dibunuh tahun 1963. Namun, momen kali ini, menurut dia, lebih bernilai spiritual ketimbang politis. ”Saya betul-betul merasa emosional,” tambahnya.

Beberapa blok di sebelah utara Gedung Putih, ribuan orang juga memenuhi jalan yang dipilih sebagai tempat perayaan. Band perkusi bertabuhan, sementara orang-orang menari bersama di bawah sorotan lampu-lampu malam. Sejumlah orang memanjat lampu-lampu merah dan berdiri di atas halte. Mereka mengangkat-angkat poster Obama. Bunyi-bunyian klakson ikut menyemarakkan suasana malam itu.

”Kita tengah melalui momen terpenting dalam hidup,” ujar Sarah Reed (21), mahasiswa George Washington University.

”Kami akhirnya melakukannya. Ini merupakan pertama kalinya saya merasa bangga menjadi warga Amerika,” tambah wanita yang memulas jidatnya dengan nama Obama.

Di Times Square New York, warga menari dan meneriakkan kegembiraannya. Mereka berteriak, ”Obama! Obama!”

Di Philadelphia, ribuan warga kulit hitam dan putih berkumpul di City Hall, sesaat setelah mendengar kemenangan Obama lewat radio mobil. Para pengendara seketika langsung berhenti di tengah jalan dan membuka pintu mobil mereka. Kondisi ini mengakibatkan kemacetan parah.

Di Chicago, kampung halaman Obama, diperkirakan 125.000 orang berkumpul di Grant Park, dalam malam yang tidak biasanya menjadi hangat itu. Mereka menyambut pidato Obama. Tak sedikit yang menangis terharu di hadapan calon presiden idola mereka.

Pemimpin Hak-hak Sipil Jesse Jackson, yang juga pernah mencalonkan diri sebagai presiden tahun 1984 dan 1988, tetapi gagal pada nominasi Partai Demokrat, berada di antara kerumunan massa. Ia tampak menitikkan air mata kebahagiaan.

Kemenangan Obama dirayakan secara berbeda di mana-mana, baik sederhana maupun besar-besaran, tetapi semua orang diliputi oleh sentimen yang sama—kebahagiaan murni.

”Hari ini saya bangga menjadi warga kulit hitam Amerika,” kata Rosemary Morris. ”Ini adalah hari yang sangat baik, sangat baik, sangat baik,” tambahnya.

”Ini sangat menakjubkan, momen bersejarah untuk Amerika,” ujar Andrew Bernard, desainer produksi film. ”Saya ingin anak saya juga datang dan menyaksikannya,” tambahnya. Sementara itu, polisi berupaya keras mengontrol kerumunan di jalan.

Di Cleveland, para pendukung Obama berpesta dalam rumah dan melaksanakan pesta sampanye dan saling tos. ”Untuk sejarah baru AS,” teriak mereka.***

Sumber KOMPAS