Cerpen Yudhi Ms
Rasa penat yang mendera mendadak sirna manakala kakinya mulai menjejak di halaman rumah sederhana dan agak terpencil. Terbersit di wajah lelaki itu sebuah kelegaan bahwa penempuhan panjang dari kota yang jauh hingga mencapai daerah pegunungan itu akhirnya berujung pada satu tempat yang memang ia tuju. Hari yang berangkat senja dan kerindangan pohon-pohon mangga, nangka, dan pisang di halaman rumah itu membuat suasana semakin teduh. Udara bersih pun memekarkan harapan di hati lelaki itu.
Oleh keraguan yang pelahan menyusup dada, ia termangu memandang rumah kayu dengan genting yang kehitaman dimakan usia. Hatinya yang digenggam kebimbangan justru melengkapkan kelengangan. Padahal seharusnya ia beranjak beberapa tindak lantas mengucapkan salam atau mengetuk pintu yang daunnya setengah terbuka.




