
Ny Mufidah, Dagang Jilbab : “Ini Pilpres, Bu!”
Juni 11, 2009Istri Yusuf Kalla, Ny Mufidah sangat cerdas dan memanfaatkan peluang sekecil apapun menjadi lahan usaha, minimal untuk dirinya. Pemanfaatan situasi pun ia jalani dengan kecerdasan, misalnya memanfaatkan momentum pemilihan presiden (pilpres) dengan isyu jilbab. “Jilbab” dalam kontek religiusitas tidak bisa dibantah tapi dalam kontek lain masih diperdebatkan.
Kaum “puritan” dengan mengembuskan isyu itu ditangkap Ny Mufidah dengan kecerdasan seorang pengusaha tulen. Tidak mungkin jika intuisi pejabat akan memanfaatkan situasi dengan cara melakukan usaha. Seorang pengusaha tulen, ketika menerima gagasan dan ditopang dana cukup langsung “diembat”. Tanpa perlu pikir panjang.
Ia pun tidak sungkan merogoh kocek untuk membuat “jilbab” dengan merek namanya sendiri dan istri Wiranto (pasangan capres suaminya) yakni Uga. Kontan aksi dagangnya melahirkan pro kontra. Pro kontra hal biasa, namun yang dilakukannya menjelang Pilpres. Karena mendadak mungkin label merk dan usahanya belum didaftarkan ke Notaris sebagai Hak Cipta atau ke Deperidag.
Persoalan ini memang kecil, tapi ketika masyarakat pedagang “ribut” menjadi demam “jilbab” bermerk dadakan itu menjadi luar biasa. Lalu orang belajar menganalisa dan menyambung-nyambungkan hal itu dalam Pilpres. Ketika mereka disanjung karena menggunakan busana muslimah, ternyata setelah itu menjadi pedagang, ini sebuah persoalan baru.
Persoalan barunya, kenapa sih harus dagang dengan merk pasangan ibu calon presiden dan wakil presiden? Apakah salah kalau istri calon penghuni istana berdagang? Dua pertanyaan itu dijawab tetangga saya sebut saja Kartanagara (bukan nama sebenarnya) dengan lantang.
“Salah! Mau dagang jilbab, saat sekarang tidak tepat. Sama saja artinya mereka hanya memiliki otak bisnis, otak dagang bukan otak yang berisi untuk memakmurkan rakyat!” ucapnya berapi-api.
Calon ibu presiden atau bapak presiden, kata teman saya, jangan membuat blunder dengan perilaku dan atau ucapan. Jelas berdagang jilbab apalagi tidak memiliki ijin resmi jangan dilakukan. Bahasa tubuh Ny Mufidah itu memerlihatkan pada masyarakat bahwa ia sangat cerdas dan bertalenta pebisnis. Bacaan berikutnya, jangan-jangan nanti kalau duduk tidak mengurusi rakyat.
Tapi sabaliknya akan memanfaatkan kebijakan suaminya dalam mengurus negara untuk usaha pribadinya. Contoh kecil, negara membutuhkan kertas cetakan. Seumpamanya kop surat dinas dan amplop dinas, itu peluang kecil maka ia pun akan “mencaploknya” dengan menggunakan jasa penyediaan alat tulis kantor (ATK). Belum lagi penyediaan barang dan jasa.
“Sahwat bisnisnya seharusnya ditunda atau dimasukan ke laci meja dan dikunci untuk beberapa saat. Meski pun berhati ‘kedondong’ dalam tataran sesensitif pilpres tidak perlu diperlihatkan. Berlaku lah sopan dan memiliki etika umum bukan khusus sampai jadi terlebih dahulu. Nanti kalau sudah jadi ibu presiden dan mengangkangi istana boleh dikeluarkan seluruh berahi bisnisnya,” ucapnya menyindir.***