<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>GREENHOME</title>
	<atom:link href="http://marjinal0606.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://marjinal0606.wordpress.com</link>
	<description>BERSANDAR PADA ANGIN</description>
	<lastBuildDate>Thu, 11 Feb 2010 17:14:18 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
<cloud domain='marjinal0606.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://s2.wp.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title>GREENHOME</title>
		<link>http://marjinal0606.wordpress.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="http://marjinal0606.wordpress.com/osd.xml" title="GREENHOME" />
	<atom:link rel='hub' href='http://marjinal0606.wordpress.com/?pushpress=hub'/>
		<item>
		<title>Pohon Mas Kawin</title>
		<link>http://marjinal0606.wordpress.com/2010/02/11/pohon-mas-kawin/</link>
		<comments>http://marjinal0606.wordpress.com/2010/02/11/pohon-mas-kawin/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 11 Feb 2010 17:14:18 +0000</pubDate>
		<dc:creator>marjinal0606</dc:creator>
				<category><![CDATA[PERJALANAN DINAS]]></category>
		<category><![CDATA[http://ads.kompas.com/www/delivery/ck.php?oaparams=2__bannerid=1238__zoneid=499__cb=89b17192f5__maxdest=http://www.kompasiana.com/events/nga/?]]></category>
		<category><![CDATA[kompasiana.com]]></category>
		<category><![CDATA[pohon mas kawin]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://marjinal0606.wordpress.com/?p=179</guid>
		<description><![CDATA[Lima tahun lalu, saya sering diajak pihak Perhutani Kuningan Jawa Barat untuk berkeliling hutan dan gunung. Selain untuk melakukan reportase juga sekaligus arena rekreasi. Sebab saya jarang sekali berolahraga. Jika naik gunung, anggap saja sedang berolahraga untuk menyehatkan tubuh. Ajakan Perhutani, belum sampai diajak ke puncak unung Ciremai, yakni gunung tertinggi di Jawa Barat, tingginya [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=marjinal0606.wordpress.com&amp;blog=1688390&amp;post=179&amp;subd=marjinal0606&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:justify;"><a href="http://marjinal0606.files.wordpress.com/2010/02/pepeling.jpg"><img class="alignleft size-full wp-image-180" title="pepeling" src="http://marjinal0606.files.wordpress.com/2010/02/pepeling.jpg?w=250&#038;h=333" alt="" width="250" height="333" /></a>Lima tahun lalu, saya sering diajak pihak Perhutani Kuningan Jawa Barat untuk berkeliling hutan dan gunung. Selain untuk melakukan reportase juga sekaligus arena rekreasi. Sebab saya jarang sekali berolahraga. Jika naik gunung, anggap saja sedang berolahraga untuk menyehatkan tubuh.</p>
<p style="text-align:justify;"><span id="more-179"></span>Ajakan Perhutani, belum sampai diajak ke puncak unung Ciremai, yakni gunung tertinggi di Jawa Barat, tingginya 3.078 mdpl. Baru sebatas gunung-gunung kecil atau lebih tepatnya bukit. Diantaranya Gunung Tilu. Gunung Tilu, tepatnya di daerah perbatasan antara Provinsi Jawa Barat dengan Jawa Tengah.</p>
<p style="text-align:justify;">Tepatnya di Desa Ciangir Kecamatan Cibingbin Kabupaten Kuningan dengan Desa Capar Kecamatan Salem Kabupaten Brebes. Gunung tersebut berada sekitar 1.500 mdpl-an. Namun memiliki keragaman hayati cukup membanggakan. Ada tanaman langka, seperti kemuning, sonokeling, Kemenyan (Styra sp), Kemiri (Dipterocarpus sp), Mata Buta atau Gaharu (Excoecaria agallocha).</p>
<p style="text-align:justify;">Mata Kucing atau Damar (Shorea sp), Sawo Kecik (Manilkata kauki), Suren (Toona sureni) dan Tembesu (Fagraea fragrans). Selain pohon langka masih terdapat harimau lodaya, macan tutul, surili, monyet, ular piton dan ular hijau. Burung elang jawa dan jalak suren.</p>
<p style="text-align:justify;">Kendati tidak semuanya pohon langka dan hewan dilihat langsung. Namun masih sempat diditunjukan. Ketika diberitahu Muhamad Faiz, Kepala Perhutani seperti macan kumbang terlihat pada senja hari, tengah berada di atas pohon.. Kontan saya terhenyak dan hendak pingsan begitu kaget dan takut.</p>
<p style="text-align:justify;">Pendakian ke Gunung Tilu dilakukan sebab seminggu sebelumnya terjadi tanah longsor dan menimbulkan banjir bandang ke Desa Ciangir. Akibat banjir itu, seorang anak tewas terjebak di jembatan ketika hendak melewatinya. Desa Ciangir, dilintasi sungai yang berasal dari Gunung Tilu.</p>
<p style="text-align:justify;">Tanah yang longsor terbilang luas. Lebar sekitar 300 meter dan tinggi kurang lebih 150 meter. Atas longsoran itu, pohon berusia ratusan tahun seperti sono keling, gaharu, kemuning dan kemenyan hancur seketika. Hal itu membuat luka tanah menganga di Gunung Tilu cukup mengerikan.</p>
<p style="text-align:justify;">Padahal gunung tersebut di wilayah itu merupakan pusat resapan air dan sumber mata air bagi warga di Kecamatan Cibingbin. Termasuk daerah perbatasan Jawa Barat-Jawa Tengah, khususnya Kabupaten Brebes. Longsoran itu membuat semua pihak prihatin dan terpangil untuk melakukan reboisasi.</p>
<p style="text-align:justify;">“Hutan bukan saja tanggung jawab instansi terkait. Seperti Perhutani, Dinas Kehutanan dan Perkebunan (Dishutbun) saja. Namun elemen masyarakat pun memiliki kewajiban sama untuk memelihara hutan. Termasuk wartawan, selain melakukan peliputan juga lakukan apa yang bisa. Misalnya menanam pohon meskipun hanya satu batang,” ucap Muhamad Faiz.</p>
<p style="text-align:justify;">Kami pun selain melakukan pemotoan lokasi longsor dari dekat. Turut juga menebar bibit pohon. Diantaranya sengon, pelending, akasia dan pohon produktif lainnya. Penyebaran bibit itu, sebelumnya hanya tergugah atas ucapan Faiz. Namun setelah lama direnungkan, sudah waktunya memelihara alam.</p>
<p style="text-align:justify;">Pengalaman cukup berharga itu, tidak didiamkan saja menjadi bahasa koran. Perlu ada tindakan nyata, khususnya dari aparat pemerintah. Tujuannya supaya peduli, namun iklim di daerah harus dimulai oleh pucuk pimpinan. Setelah pimpinan memiliki interest dan digetoktularkan pada bawahannya. Mau tidak mau akan turut serta.</p>
<p style="text-align:justify;">Bencana skala kecil terus terjadi di wilayah Kabupaten Kuningan. Terutama tanah longsor. Kendati sekala kecil, namun memberikan motivasi kepada pemimpin daerah dalam hal ini bupati untuk melakukan terobosan dalam penyadaran masyarakat terhadap lingkungan hutan.</p>
<p style="text-align:justify;">Selang setahun dari peristiwa Gunung Tilu, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Kuningan, mengeluarkan kebijakan. Kebijakan cukup unik yakni “<strong><em>program pepeling</em></strong>”. Pepeling dalam bahasa Sunda berarti petuah atau nasihat. Namun Pemkab, bukan mengartikan pepeling sebagai petuah.</p>
<p style="text-align:justify;">Namun merupakan singkatan. Pepeling diartikan pengantin peduli lingkungan. Terobosan ini cukup menggemparkan. Sebelumnya terjadi pro kontra. Sebab pepeling, dianggap mengada-ada dan tidak sesuai syariat agama Islam. Kenapa terjadi pro kontra dalam program ini?</p>
<p style="text-align:justify;">Sebab dalam pepeling, ada kewajiban bagi warga yang ingin melangsungkan pernikahannya harus menyertakan lima pohon sebagai mas kawin. Pohon tersebut diserahkan ke petugas pencatat pernikahan untuk ditanam di tanah kosong. Tujuannya supaya lahan tetap hijau.</p>
<p style="text-align:justify;">Empat tahun program itu terus digulirkan. Kesadaran semakin ditumbuhkan supaya masyarakat semakin peduli lingkungan. Dampaknya pun cukup luar biasa. Pohon yang dapat dikumpulan dari program itu, sekarang mencapai 50.000 pohon dan tersebar di lahan kritis.</p>
<p style="text-align:justify;">Pohon pepeling yang mengurusinya, bukan pihak lain. Tapi si pengantin itu sendiri. Mereka merawat supaya tumbuh besar dan rimbun. Lahan kritis pun sedikit demi sedikit dapat teratasi, meski pun tidak sepenuhnya bisa diselesaikan. Sebab masih terdapat galian C di wilayah yang sudah ditentukan.***</p>
<p>http://ads.kompas.com/www/delivery/ck.php?oaparams=2__bannerid=1238__zoneid=499__cb=89b17192f5__maxdest=http://www.kompasiana.com/events/nga/?</p>
<p style="text-align:justify;">
<br />Filed under: <a href='http://marjinal0606.wordpress.com/category/perjalanan-dinas/'>PERJALANAN DINAS</a> Tagged: <a href='http://marjinal0606.wordpress.com/tag/httpads-kompas-comwwwdeliveryck-phpoaparams2__bannerid1238__zoneid499__cb89b17192f5__maxdesthttpwww-kompasiana-comeventsnga/'>http://ads.kompas.com/www/delivery/ck.php?oaparams=2__bannerid=1238__zoneid=499__cb=89b17192f5__maxdest=http://www.kompasiana.com/events/nga/?</a>, <a href='http://marjinal0606.wordpress.com/tag/kompasiana-com/'>kompasiana.com</a>, <a href='http://marjinal0606.wordpress.com/tag/pohon-mas-kawin/'>pohon mas kawin</a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/marjinal0606.wordpress.com/179/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/marjinal0606.wordpress.com/179/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/marjinal0606.wordpress.com/179/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/marjinal0606.wordpress.com/179/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/marjinal0606.wordpress.com/179/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/marjinal0606.wordpress.com/179/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/marjinal0606.wordpress.com/179/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/marjinal0606.wordpress.com/179/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/marjinal0606.wordpress.com/179/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/marjinal0606.wordpress.com/179/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/marjinal0606.wordpress.com/179/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/marjinal0606.wordpress.com/179/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/marjinal0606.wordpress.com/179/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/marjinal0606.wordpress.com/179/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=marjinal0606.wordpress.com&amp;blog=1688390&amp;post=179&amp;subd=marjinal0606&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://marjinal0606.wordpress.com/2010/02/11/pohon-mas-kawin/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/3cab78dc3ed683557364ea054a6f75f0?s=96&#38;d=monsterid" medium="image">
			<media:title type="html">greenhome</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://marjinal0606.files.wordpress.com/2010/02/pepeling.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">pepeling</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Dua Kemampuan Orang Indonesia</title>
		<link>http://marjinal0606.wordpress.com/2010/01/01/dua-kemampuan-orang-indonesia/</link>
		<comments>http://marjinal0606.wordpress.com/2010/01/01/dua-kemampuan-orang-indonesia/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 01 Jan 2010 14:00:38 +0000</pubDate>
		<dc:creator>marjinal0606</dc:creator>
				<category><![CDATA[SECANGKIR KOPI]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://marjinal0606.wordpress.com/?p=176</guid>
		<description><![CDATA[Kemampuan orang Indonesia hanya dua yaitu memuji setinggi langit sampai orang yang dipujinya jatuh terkapar. Kemampuan lainnya ialah marah. Kemarahan itu dilampiaskan dengan berbagai hal mulai dari mengeritik paling menyakitkan atau menangis sampai sampai si objeknya jatuh terkapar juga. Lalu puas lah mereka. Dua kemampuan itu merupakan senjata pembunuh paling dahsyat. Orang ketika memuji dan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=marjinal0606.wordpress.com&amp;blog=1688390&amp;post=176&amp;subd=marjinal0606&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:justify;">Kemampuan orang Indonesia hanya dua yaitu memuji setinggi langit sampai orang yang dipujinya jatuh terkapar. Kemampuan lainnya ialah marah. Kemarahan itu dilampiaskan dengan berbagai hal mulai dari mengeritik paling menyakitkan atau menangis sampai sampai si objeknya jatuh terkapar juga. Lalu puas lah mereka.</p>
<p style="text-align:justify;"><span id="more-176"></span>Dua kemampuan itu merupakan senjata pembunuh paling dahsyat. Orang ketika memuji dan mendukung, tidak disadari bahwa dia sedang dibunuh. Bagaimana kuatnya Soekarno memimpin negeri ini dengan sebuah misi, visi revolusi untuk membangun negara. Toh ia harus terkapar atas pujian-pujian dan dukungan bawahannya.</p>
<p style="text-align:justify;">Begitu pun jaman Soeharto, siapa yang tidak mengeluarkan pujian kepadanya. Mungkin orang-orang yang dilahirkan tahun 70 ke bawah pernah melontarkan pujiannya. Baik di sengaja atau tidak, maka tidak aneh ketika ia dinobatkan sebagai Bapak Pembangunan. Kata puja-puji, terlihat secara kasat mata dari menteri sampai pejabat kelas teri di daerah.</p>
<p style="text-align:justify;">Anehnya, tidak ada kata lain selain memuji pada jaman itu. Media cetak, elektronik (radio) maupun televisi tidak pernah mengeluarkan kata-kata makian. Kritikan atau pun kalimat-kalimat menyakitkan. Jika pun ada, kita pun turut menyalahkan orang yang berkata menyakitkan. Padahal meski perkataan itu benar, namun selalu kembali memuji-muji.</p>
<p style="text-align:justify;">Selama tiga puluh dua tahun puja-puji mewabah di masyarakat. Harus berkata santun, penuh etika dan coba mengerti perasaan orang lain. Kata-kata eufimisme pun selalu ke luar, jika tidak berkenan dengan pihak lain. Di sini ada permainan bahasa dan logika yang cerdas yang dimulai oleh Harmoko. Namun pujian itu pun menjadi tragis, Soeharto pun lengser.</p>
<p style="text-align:justify;">Kemampuan memuji setinggi langit, tiba-tiba berubah menjadi dunia penuh caci maki. Tidak saja di tingkat presiden, menteri, anggota DPR, tokoh masyarakat dan imbasnya ke lapisan terendah yakni rakyat. Caci maki yang dibungkus bahasa “kritikan” menjadi wabah. Apalagi kritikan itu terus berlanjut sampai terkapar.</p>
<p style="text-align:justify;">Bentuk kritikan tidak saja ditemukan dalam media cetak dan elektronik. Betapa mudahnya dari sebuah budaya beralih ke budaya lainnya. Begitu gampang dari tukang puja-puji menjadi tukang pengkritik alias tukang marah. Kemarahan yang terus berlanjut sampai hari ini dan telah menumbangkan seorang Bapak Demokrasi Indonesia “Gusdur” atau Abdurahman Wahid.</p>
<p style="text-align:justify;">Kepandaian marah pun berlanjut, di blog, di facebook dan mungkin entah di tempat apa lagi setelah orang Amerika menemukan media yang paling tepat, efisien lagi. Rakyat Indonesia hanya mampu berbicara dengan aroma kemarahan dan puja-puji tidak lebih dan tidak kurang. Sementara kemampuan dalam bidan teknologi nol besar.</p>
<p style="text-align:justify;">Kita hanya bangsa pemakai dari produk-produk bangsa lain namun seolah-olah telah mampu menguasai segalanya. Namun tidak pernah disadari, bahwa kemajuan itu bukan dari pandainya berbicara pujian atau marah. Tapi mampu melakukan pencerahan untuk rakyat, konon katanya orang Indonesia banyak yang pandai.</p>
<p style="text-align:justify;">Banyak orang Indonesia yang kuliah di negri orang mengambil rupa-rupa ilmu pengetahuan. Sekali lagi apa hasilnya? Mereka tetap saja menjadi budak-budak perusahaan asing. Tidak pernah mandiri, tidak pernah menjadi bangsa yang ajeg dengan kepercayaan diri di pelbagai bidang. (mungkin ini juga sebuah makian yang diwariskan).***</p>
<br />Posted in SECANGKIR KOPI  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/marjinal0606.wordpress.com/176/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/marjinal0606.wordpress.com/176/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/marjinal0606.wordpress.com/176/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/marjinal0606.wordpress.com/176/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/marjinal0606.wordpress.com/176/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/marjinal0606.wordpress.com/176/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/marjinal0606.wordpress.com/176/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/marjinal0606.wordpress.com/176/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/marjinal0606.wordpress.com/176/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/marjinal0606.wordpress.com/176/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/marjinal0606.wordpress.com/176/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/marjinal0606.wordpress.com/176/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/marjinal0606.wordpress.com/176/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/marjinal0606.wordpress.com/176/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=marjinal0606.wordpress.com&amp;blog=1688390&amp;post=176&amp;subd=marjinal0606&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://marjinal0606.wordpress.com/2010/01/01/dua-kemampuan-orang-indonesia/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/3cab78dc3ed683557364ea054a6f75f0?s=96&#38;d=monsterid" medium="image">
			<media:title type="html">greenhome</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Majalah Humor</title>
		<link>http://marjinal0606.wordpress.com/2010/01/01/majalah-humor/</link>
		<comments>http://marjinal0606.wordpress.com/2010/01/01/majalah-humor/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 01 Jan 2010 13:58:02 +0000</pubDate>
		<dc:creator>marjinal0606</dc:creator>
				<category><![CDATA[SECANGKIR KOPI]]></category>
		<category><![CDATA[majalah humor]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://marjinal0606.wordpress.com/?p=174</guid>
		<description><![CDATA[Kalau tidak salah tahun 90-an masyrakat Jakarta digegerkan dengan terbitnya Majalah Humor. Kalau tidak salah pula, penggagasnya Arswendo Atmowiloto dan Gunawan Muhamad dan Ahmad Rangkuti. Dalam edisi pertamanya, ada sedikit ulasan mengenai alasan penerbitan Majalah Humor. Salah satunya bahwa masyarakat di Indonesia menyukai lawakan. Namun dijelaskan pula materi tulisan melawak dan memiliki bobot.  Mereka pun [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=marjinal0606.wordpress.com&amp;blog=1688390&amp;post=174&amp;subd=marjinal0606&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:justify;">Kalau tidak salah tahun 90-an masyrakat Jakarta digegerkan dengan terbitnya Majalah Humor. Kalau tidak salah pula, penggagasnya Arswendo Atmowiloto dan Gunawan Muhamad dan Ahmad Rangkuti. Dalam edisi pertamanya, ada sedikit ulasan mengenai alasan penerbitan Majalah Humor. Salah satunya bahwa masyarakat di Indonesia menyukai lawakan.</p>
<p style="text-align:justify;"><span id="more-174"></span>Namun dijelaskan pula materi tulisan melawak dan memiliki bobot.  Mereka pun membuat frame tulisan bagi penulis yang berminat dan dapat mengirimkan naskahnya.  Diantaranya tidak bersinggungan dengan SARA, tidak menghujat orang/pihak lain.  Selain itu tentunya harus segar, bukan duplikat, aktual dan bukan slepstick.</p>
<p style="text-align:justify;">Masih banyak kriterianya. Edisi perdana pun laku seperti kacang goreng, banyak masyarakat yang menyukainya. Sebab mereka diberikan humor segar dan bernas. Isinya ada satir, dan guyonan dengan bahasa tidak vulgar. Meski awalnya mengernyitkan jidat karena belum paham, namun ujung-ujungnya tertawa setelah memahami isinya.</p>
<p style="text-align:justify;">Begitu pun kemunculan film Warkop dengan trio Dono, Kasino dan Indro. Kalangan masyarakat menengah ke bawah antusias menonton film itu. Film mereka selalu box office, kenati kritikan selalu bermunculan karena mengandalkan slepstick-nya. Namun produser tidak bergeming, terus meluncurkan film-film Warkop.</p>
<p style="text-align:justify;">Jauh sebelumnya, kita pun disuapi dagelan Benyamin S, Bagito, Srimulat bahkan Bapaknya Pelawak Indonesia Bing Slamet. Tradisi itu tidak berhenti sampai disana, selalu muncul generasi baru seperti Bagito, Patrio (yang dibesarkan radio SK), Empat Sekawan dll. Belakangan ada Tukul Arwana, Komeng, Budi Anduk, kelompok Ekstravaganza dan seterusnya.</p>
<p style="text-align:justify;">Mereka telah menyita penonton televisi. Televisi pun tidak mau berhenti dan terus mengeksploitasi lawakan dari tanpa teks menjadi berpedoman terhadap teks. Alasannya sederhana, bahwa melawak harus memiliki bobot, bebet dan bibit. Sehingga yang ke luar tidak saja bahasa vulgar, body language seronok tapi memiliki etika dan estetika sebagai produk kesenian.</p>
<p style="text-align:justify;">Kembali ke pembicaraan awal, Majalah Humor pada saat itu kelahirannya sebagai pelampiasan dari tekanan politik yang serba tertutup. Perenungannya, membuat tulisan satir tidak mungkin dibredel oleh Menteri Penerangan, kala itu. Kebebasan mengungkapkan aspirasi berbau politik dalam kemasan humor ternyata tidak efektif.</p>
<p style="text-align:justify;">Salah satu buktinya Majalah Humor harus kandas di tengah jalan. Entah edisi ke berapa, mereka bertahan dengan humor cerdasnya. Begitu pun visualisasi humor di televisi entah sampai kapan akan bertahan? Sebab belakangan mulai kembali menyimak persoalan utama yakni “politik” seperti jamannya reformasi.</p>
<p style="text-align:justify;">Jika pun koran membuat humor satir tidak lebih dari 0,001 persen. Katakan lah di SKU Kompas dengan Oom Pasikom-nya, Pojok, Pikiran Rakyat dengan Mang Ohle dll. Humor cerdas tidak selalu dimengerti setiap lapisan masyarakat. Hanya pengambil kebijakan dan orang-orang tertentu yang memahami dan kritikan itu berhasil merubah image.</p>
<p style="text-align:justify;">Tujuan penulisan humor, tidak semata-mata menghasilkan ketawa &#8211; ketiwi setelah itu lupa dan tidak berbekas pada si pembacanya. Humor atawa lawakan, seyogyanya memberikan pencerahan terhadap pihak lain yang telah berbuat keliru dan kembali memerbaiki kesalahannya. Bukan sebaliknya. Artinya ada pesan moral disana.</p>
<p style="text-align:justify;">Humor itu pun tidak harus terjebak pada kata-kata bias dan ringan. Kendati humor kadang ditafsirkan sebagai banyolan yang mendorong orang lain tertawa. Tapi apakah hanya sampai di sana tujuan membanyol? Mungkin ada perbedaan antara humor melalui audio visual dengan tulisan.  Bukan berarti sama dengan humor cara mati orang rusia dll-kan?</p>
<p style="text-align:justify;">Saya teringat, ungkapan Jujuk Srimulat, “Ketika Taman Ria (tempat pertunjukan Srimulat) arus bubar karena sepi penonton. Saya pun harus mengamen!” Saya melihat ada kepahitan teramat dalam dari dunia lawak. Suatu ketika lawakan ditinggalkan begitu saja tanpa permisi dan menghaturkan salam setelah mereka terhibur.</p>
<p style="text-align:justify;">Hal itu pun dialami kelompok-kelompok lawak tradisional seperti Lenong yg ditinggalkan penonton padahal Panggung Hiburan Ancol memberikan tempatnya setiap malam minggu (dulu). Begitu pun ketoprak, ludruk, longser, Calung, Gembyung (Di Sunda) dll. Mereka tertolong setelah ada televisi. Pertanyaannya, mengapa sampai mengalami stagnasi dan mati?</p>
<p style="text-align:justify;">Hemat saya, ini persoalan trend atau tidak. Ketika sedang trend maka seluru energi kita tersedot abis ke arah sana. Namun jika tidak kolaps lah sudah. Begitu pun dengan ramainya taglin Ngocolaria di Kompasiana, ini hanya trend sesaat tidak mungkin abadi. Mereka akan kembali menjadi penulis serius kembali, setelah merasa bosan. beleive or not?***</p>
<br />Posted in SECANGKIR KOPI Tagged: majalah humor <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/marjinal0606.wordpress.com/174/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/marjinal0606.wordpress.com/174/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/marjinal0606.wordpress.com/174/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/marjinal0606.wordpress.com/174/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/marjinal0606.wordpress.com/174/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/marjinal0606.wordpress.com/174/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/marjinal0606.wordpress.com/174/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/marjinal0606.wordpress.com/174/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/marjinal0606.wordpress.com/174/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/marjinal0606.wordpress.com/174/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/marjinal0606.wordpress.com/174/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/marjinal0606.wordpress.com/174/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/marjinal0606.wordpress.com/174/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/marjinal0606.wordpress.com/174/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=marjinal0606.wordpress.com&amp;blog=1688390&amp;post=174&amp;subd=marjinal0606&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://marjinal0606.wordpress.com/2010/01/01/majalah-humor/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/3cab78dc3ed683557364ea054a6f75f0?s=96&#38;d=monsterid" medium="image">
			<media:title type="html">greenhome</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Fatwa Haram “Infotainment” Gibah tak Efektif</title>
		<link>http://marjinal0606.wordpress.com/2010/01/01/fatwa-haram-%e2%80%9cinfotainment%e2%80%9d-gibah-tak-efektif/</link>
		<comments>http://marjinal0606.wordpress.com/2010/01/01/fatwa-haram-%e2%80%9cinfotainment%e2%80%9d-gibah-tak-efektif/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 01 Jan 2010 13:55:18 +0000</pubDate>
		<dc:creator>marjinal0606</dc:creator>
				<category><![CDATA[SECANGKIR KOPI]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://marjinal0606.wordpress.com/?p=172</guid>
		<description><![CDATA[Persetruan antara Luna Maya dengan crew infotainment telah menyeret banyak pihak, termasuk pengurus besar nahdatul ulama (PBNU). Dalam persoalan ini, sosok Luna Maya memeroleh simpati dan empati dari masyarakat luas. Soalnya crew infotainment yang mendorong-dorong supaya PWI Jaya berada di depan untuk menggugat hukum Luna. Persoalannya delik aduan yang dijadikan landasan ialah UU ITE. Pada [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=marjinal0606.wordpress.com&amp;blog=1688390&amp;post=172&amp;subd=marjinal0606&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:justify;">Persetruan antara Luna Maya dengan crew infotainment telah menyeret banyak pihak, termasuk pengurus besar nahdatul ulama (PBNU). Dalam persoalan ini, sosok Luna Maya memeroleh simpati dan empati dari masyarakat luas. Soalnya crew infotainment yang mendorong-dorong supaya PWI Jaya berada di depan untuk menggugat hukum Luna.</p>
<p style="text-align:justify;"><span id="more-172"></span>Persoalannya delik aduan yang dijadikan landasan ialah UU ITE. Pada saat ini UU ITE masih dianggap kontroversial, dampak dijebloskannya Prita ke tahanan karena surat elektronik.  Gonjang-ganjing ITE, atas Luna menginspirasi pelbagai pihak. Namun substansi dari persoalan itu belum tersentuh sehingga kemungkinan akan terjadi pada setiap orang yang melek internet.</p>
<p style="text-align:justify;">Penerapan UU ITE, telah membuat para pengguna internet sedikitnya terganggu dan merasa was-was. Betapa tidak, setiap persoalan dapat saja menimbulkan suka dan tidak suka sehingga menumbuhkan “power” untuk menakut-nakuti. Dampaknya, kebebasan di dunia maya teremaskulasi dan menjadi senjata pembunuh paling dahsyat.</p>
<p style="text-align:justify;">Jika “polisi” yang bernama mahluk ITE ini tidak mendapat perhatian serius dari elemen masyarakat, kelak akan menjadi pisau penjagal. Supaya hal itu tidak terjadi, seyogianya pemerintah melalui Departemen Komunikasi dan Informasi (Depkoinfo), meninjau ulang pemberlakukan UU ITE.</p>
<p style="text-align:justify;">Pasal yang dijeratkan pada Luna Maya dan Prita Mulyasari yakni pasal 27 ayat 3, bahwa setiap Orang dengan sengaja dan tanpa hak mendistribusikan dan/atau mentransmisikan dan/atau membuat dapat diaksesnya Informasi Elektronik dan/atau Dokumen Elektronik yang memiliki muatan penghinaan dan/atau pencemaran nama baik.</p>
<p style="text-align:justify;">Pasal karet seharusnya ditinjau ulang, sebab dampaknya akan mengimbas semua pengguna elektronik, inklud didalamnya internet. Kata penghinaan dan pencemaran nama baik masih absurd, belum jelas kriterianya. Sebelum nyasa ke mana-mana, pemerintah perlu sesegera mungkin untuk mengamandemen pasal ini.</p>
<p style="text-align:justify;">Kata penghinaan dan pencemaran, jika dilihat dari sosialogis suatu daerah. Misalnya kata elo, dalam pergaulan di Jakarta tidak jadi persoalan urgen. Sebab sudah menjadi bahasa gaul. Namun jika kata tersebut di gunakan di daerah lain, umpamnya di Sunda memiliki unsur sosialogis tidak bagus. Begitu pun kata “kunyuk” maaf.</p>
<p style="text-align:justify;">Kata “kunyuk” di lingkungan tertentu, umpamanya di terminal atau di masyarakat kelas bawah bukan lagi bentuk penghinaan. Tapi merupakan bahasa pergaulan yang mampu memererat persahabatan mereka. Namun berbeda ketika kata itu diungkapkan di level mahasiswa, misalnya atau kelas menengah ke atas.</p>
<p style="text-align:justify;">Begitu pun pencemaran nama baik, seperti parameter pencemaran nama baik? Jika pengertian itu merupakan limbah, kotoran, atau zat-zat yang dapat merubah warna. Bagaimana dengan nama baik, apakah namanya yang baik atau sejenis mahluk apa? kata penghinaan dan pencemaran, selayaknya di devinisikan agar tidak bias maknanya.</p>
<p style="text-align:justify;">Saya sendiri tidak tahu, apakah ketika pembahasan di DPR, UU ITE diteliti kata perkata atau tidak! Sebab dua kata itu tidak dijelaskan parameternya.Dampak tidak jelasnya devinisi itu, mendorong Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama atau PBNU KH A Hasyim Muzadi, membuat ketegasan ahwa tayangan infotainment gibah atau gosip adalah haram.</p>
<p style="text-align:justify;">Pengharaman itu akan membuat para kreator infotainment memeras otak supaya tidak terjebak pada fatwa PBNU. Format tayangannya kemungkinan akan sama dengan materi penanyangan sebelumnya. Namun akan dikemas dengan kata-kata, fakta, realita dan aktual. Mereka tidak lagi berkelit dari kata “gosip“.</p>
<p style="text-align:justify;">Sama artinya, fatwa PBNU tidak akan mengubah substansi persoalan sepanjang UU ITE, khususnya pasal 27 ayat 3 tidak dijelaskan secara rinci. Mungkin saja, perinciannya akan dimasukan dalam peraturan pemerintah (PP). Namun hal itu tidak akan mengubah putusan, sebab jarang sekali ketika dipidanakan mengambil dasar hukumnya dari PP.</p>
<p style="text-align:justify;">Para penegak hukum akan berlandaskan UU, bukan PP. Sehingga sekecil apa pun peluang untuk memidanakan pihak lain sangat terbuka. Contoh kasus sudah kasat mata. Hal ini perlu disikapi para aktifis hukum dan pengguna internet. Fatwa PBNU pun tidakan akan efektif untuk menekan “infotainment” gibah.***</p>
<br />Posted in SECANGKIR KOPI  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/marjinal0606.wordpress.com/172/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/marjinal0606.wordpress.com/172/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/marjinal0606.wordpress.com/172/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/marjinal0606.wordpress.com/172/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/marjinal0606.wordpress.com/172/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/marjinal0606.wordpress.com/172/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/marjinal0606.wordpress.com/172/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/marjinal0606.wordpress.com/172/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/marjinal0606.wordpress.com/172/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/marjinal0606.wordpress.com/172/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/marjinal0606.wordpress.com/172/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/marjinal0606.wordpress.com/172/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/marjinal0606.wordpress.com/172/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/marjinal0606.wordpress.com/172/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=marjinal0606.wordpress.com&amp;blog=1688390&amp;post=172&amp;subd=marjinal0606&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://marjinal0606.wordpress.com/2010/01/01/fatwa-haram-%e2%80%9cinfotainment%e2%80%9d-gibah-tak-efektif/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/3cab78dc3ed683557364ea054a6f75f0?s=96&#38;d=monsterid" medium="image">
			<media:title type="html">greenhome</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Perempuan Membatu di Kamar</title>
		<link>http://marjinal0606.wordpress.com/2009/08/07/perempuan-membatu-di-kamar/</link>
		<comments>http://marjinal0606.wordpress.com/2009/08/07/perempuan-membatu-di-kamar/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 07 Aug 2009 06:44:38 +0000</pubDate>
		<dc:creator>marjinal0606</dc:creator>
				<category><![CDATA[NYARANDE]]></category>
		<category><![CDATA[cerpen]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://marjinal0606.wordpress.com/?p=169</guid>
		<description><![CDATA[Seorang perempuan terlelap bersarang kelambu. Rambutnya terikat pada empat tiang sudut ranjang. Tubuhnya meliuk horizontal disergap cahaya lilin membentuk silhuet. Dadanya bergerak lembut seperti tengah melakukan perlawanan. Umpama Diah Pitaloka menerima azab dari keris yang dihunusnya. Mencari buih ombak yang tidak pernah mencium pantai. Kapal saat melepas jangkar. Puluhan prajurit mengiringi Prabu Maharaja bersama putrinya [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=marjinal0606.wordpress.com&amp;blog=1688390&amp;post=169&amp;subd=marjinal0606&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:justify;">Seorang perempuan terlelap bersarang kelambu. Rambutnya terikat pada empat tiang sudut ranjang. Tubuhnya meliuk horizontal disergap cahaya lilin membentuk silhuet. Dadanya bergerak lembut seperti tengah melakukan perlawanan. Umpama Diah Pitaloka menerima azab dari keris yang dihunusnya. Mencari buih ombak yang tidak pernah mencium pantai.</p>
<p style="text-align:justify;"><span id="more-169"></span>Kapal saat melepas jangkar. Puluhan prajurit mengiringi Prabu Maharaja bersama putrinya Diah Pitaloka Citraresmi. Setumpuk penganan dan gemerincing emas permata menghuni dak. Sang Prabu dan putrinya melambaikan tangan pada rakyatnya yang mengantar di tepi sungai Citanduy. Keduabelah pihak tidak menganggap itu lambaian terakhir.</p>
<p style="text-align:justify;">Meski diiringi rasa suka cita dan do’a seluruh rakyat Kerajaan Galuh, wilwatikta berkata lain. Pasir yang terhampar menjadi klabu, kerikilnya menghujam tajam ke telapak kaki. Ketika mereka menjejakan di negeri asing yang menyambutnya dengan seringai srigala. Gajah Mada, dengan dingin tanpa basa-basi melemparkan ribuan jarum ke ulu hati Prabu Maharaja.</p>
<p style="text-align:justify;">Auman harimau menderu <em>lapat-lapat</em>. Perempuan itu menggeliat dan mendesis. Mengerjapkan mata dan tidak mengubah posisi tidurnya. Ia pun menguap tanpa ditutupi telapak tangan. Mengibaskan tangan. Lantas bergumam pelan, “belum juga datang?” Lalu tidur lagi. Suasana kembali hening. Malam pun luruh pada embun. Mencari jejak matahari yang terkubur.</p>
<p style="text-align:justify;">Dangding, diam-diam menyelinap dari angin-angin mengitari kelambu. Suaranya lembut, pelan namun mengandung daya magis. Api yang membakar sumbu lilin, meliuk-liuk. Ujungnya mematuk-matuk ke segala penjuru arah mata angin. Ajaib, silhuet yang ditimbulkan dari tubuh perempuan itu pun berubah-ubah. Kadang menyerupai darah menganak sungai.</p>
<p style="text-align:justify;">Menyerupai lolongan serigala pada malam purnama. Membentuk akar-akar yang semrawut mencari ruang-ruang tak terbatas. Menjadi tumpukan arca batu tertusuk anak panah. Kadang pula jadi ribuan lolongan kesakitan seperti dalam perang bubat. Menyerahkan harga dirinya pada mata tumbak. Bukan budak, bukan pula upeti sebagai taklukan.</p>
<br />Posted in NYARANDE Tagged: cerpen <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/marjinal0606.wordpress.com/169/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/marjinal0606.wordpress.com/169/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/marjinal0606.wordpress.com/169/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/marjinal0606.wordpress.com/169/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/marjinal0606.wordpress.com/169/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/marjinal0606.wordpress.com/169/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/marjinal0606.wordpress.com/169/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/marjinal0606.wordpress.com/169/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/marjinal0606.wordpress.com/169/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/marjinal0606.wordpress.com/169/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/marjinal0606.wordpress.com/169/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/marjinal0606.wordpress.com/169/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/marjinal0606.wordpress.com/169/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/marjinal0606.wordpress.com/169/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=marjinal0606.wordpress.com&amp;blog=1688390&amp;post=169&amp;subd=marjinal0606&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://marjinal0606.wordpress.com/2009/08/07/perempuan-membatu-di-kamar/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/3cab78dc3ed683557364ea054a6f75f0?s=96&#38;d=monsterid" medium="image">
			<media:title type="html">greenhome</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Rumah di Tengah Ilalang</title>
		<link>http://marjinal0606.wordpress.com/2009/06/22/rumah-di-tengah-ilalang/</link>
		<comments>http://marjinal0606.wordpress.com/2009/06/22/rumah-di-tengah-ilalang/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 22 Jun 2009 16:08:27 +0000</pubDate>
		<dc:creator>marjinal0606</dc:creator>
				<category><![CDATA[ANDAR-ANDAR]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://marjinal0606.wordpress.com/?p=162</guid>
		<description><![CDATA[Cerpen Endang Supriadi ILALANG yang Buana babat dengan sebilah arit seakan tak pernah habis. Selalu muncul tunas baru keesokan harinya. Dan ilalang itu tumbuh merata mengelilingi rumah sewaan yang dia tempati tiga hari lalu bersama Dinda, wanita yang dinikahi secara siri. Mereka memutuskan tinggal bersama di kampung itu tanpa sepengetahuan orang tua mereka masing-masing. Kehidupan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=marjinal0606.wordpress.com&amp;blog=1688390&amp;post=162&amp;subd=marjinal0606&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:center;"><strong>Cerpen Endang Supriadi</strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong>ILALANG</strong> yang Buana babat dengan sebilah arit seakan tak pernah habis. Selalu muncul tunas baru keesokan harinya. Dan ilalang itu tumbuh merata mengelilingi rumah sewaan yang dia tempati tiga hari lalu bersama Dinda, wanita yang dinikahi secara siri. Mereka memutuskan tinggal bersama di kampung itu tanpa sepengetahuan orang tua mereka masing-masing. Kehidupan mereka bak ilalang. Mereka belajar hidup jauh dari orang tua dan keramaian. Orang tua mereka yang berseteru, sama-sama tidak tahu dimana anak-anaknya kini berada.</p>
<p style="text-align:justify;"><span id="more-162"></span>Padahal dua sejoli ini merasa bangga memiliki orang tua yang cukup berpengaruh di pemerintahan. Orang tua mereka sama-sama menyandang gelar sebagai ketua umum partai besar yang punya begitu banyak massa. Dikarenakan misi kedua orang tua mereka berseberangan, akhirnya sering timbul perseteruan di panggung politik. Meskipun begitu, tidak ada atau belum terjadi adu massa yang dimiliki kedua belah pihak tersebut saling bentur di bawah.</p>
<p style="text-align:justify;">&#8220;Politik itu kotor dan jahat. Kita harus menghindarinya,&#8221; kata Buana sebelum mereka memilih kabur dari perseteruan kedua orang tua mereka yang tak habis-habisnya itu.</p>
<p style="text-align:justify;">Dinda menyetujui. Jalan pintas akhirnya mereka pilih. Nikah siri mereka jalani sebagai syarat agar dapat diterima tinggal bersama di tempat lain. Karena didasari oleh cinta yang suci sejak mereka duduk di bangku SLTP, dan terus berlanjut sampai lulus SMU, mereka sepakat untuk terus bersatu. Mereka sadar, mereka adalah harapan kedua orang tua, mestinya tak perlu harus kawin muda. Akan tetapi, di dalam hidup ini apapun bisa saja terjadi. Ada saja karakter dari tokoh yang harus mereka perankan. Entah sebagai tokoh apa. Tapi yang penting mereka harus berbuat sesuatu meski apapun bentuknya.</p>
<p style="text-align:justify;">Ilalang terus tumbuh di pekarangan. Kapas yang bersemi di pucuk tangkainya berlepasan ditiup angin. Satu demi satu terbang di udara. Dinda kadang harus berlari kecil menangkap kembang ilalang yang beterbangan itu.</p>
<p style="text-align:justify;">Di mata Buana, Dinda tampak semakin cantik berada di tengah ilalang yang menjulang tinggi. Sesekali gumpalan kecil kapas yang tercerabut dari tangkai ilalang oleh angin itu, hinggap di rambut Dinda. Buana mencabutinya satu demi satu kembang ilalang yang tersangkut di kepala dambaan hatinya itu.</p>
<p style="text-align:justify;">&#8220;Apa tidak lebih baik dibakar saja?&#8221; seru Dinda sambil memperhatikan seekor anak belalang bertengger di pucuk ilalang yang terayun dimainkan angin.</p>
<p style="text-align:justify;">&#8220;Dalam musim panas begini, amat riskan membakar ilalang, Dinda…&#8221;</p>
<p style="text-align:justify;">&#8220;Tapi ilalang seperti ini bakal tumbuh lagi nantinya.&#8221;</p>
<p style="text-align:justify;">&#8220;Tidak apa, asal tidak sampai menutupi rumah kita.&#8221;</p>
<p style="text-align:justify;">**</p>
<p style="text-align:justify;">RUMAH-rumah di perkampungan itu tak ada yang rapat. Di kanan-kiri rumah penduduk itu terdapat lahan yang ditanami tanaman merambat. Selain dibatasi oleh lahan yang ditanami ubi jalar, dibatasi juga oleh rumput ilalang yang tumbuh subur di tanah yang tak ditanami apa-apa. Akhirnya, Buana hanya membabat habis ilalang selebar jalan yang menuju pintu rumahnya.</p>
<p style="text-align:justify;">Sebagai warga baru, mereka menyempatkan diri bersilaturahmi ke beberapa tetangga terdekat. Mereka tidak menceritakan kalau mereka anak siapa. Mereka hanya mengaku sebagai pengantin baru yang butuh suasana baru. Itu saja.</p>
<p style="text-align:justify;">Dinda yang mahir berbahasa Inggris, bersedia memberi les bahasa tersebut secara gratis kepada para murid sekolah yang rumahnya berdekatan dengan rumah tinggalnya. Sedang Buana yang mahir melukis, menawarkan jasa untuk melukis wajah para orang tua yang anak-anaknya ikut belajar bahasa Inggris pada Dinda di rumahnya secara gratis pula. Buana juga memberi pelajaran dasar melukis kepada para remaja setempat yang berminat ingin bisa melukis seperti dirinya.</p>
<p style="text-align:justify;">Dari cara mereka memperkenalkan diri, akhirnya para penduduk kampung mau menerima kehadiran mereka berdua secara baik. Bahkan para tetangga terdekat merasa kagum dan berterima kasih atas kemurahan hati mereka yang mau menurunkan ilmunya kepada anak-anak kampung yang sangat terbelakang akan seni dan budaya.</p>
<p style="text-align:justify;">Musim kemarau tampak masih akan bertahan lama. Dan kehadiran mereka telah memasuki bulan ketiga tinggal di kampung yang cukup jauh dari kota itu. Ilalang masih terus memunculkan tunas-tunas baru yang siap menyejajarkan diri dengan ilalang yang sudah tinggi sebelumnya.</p>
<p style="text-align:justify;">Di bulan keempat, Dinda sudah tidak mens lagi. Dia dinyatakan hamil oleh bidan yang memeriksanya. Kini Buana lebih bersemangat meladang di lahan yang terdapat di belakang rumah yang menyorok ke tepi sungai. Selain bercocok tanam seperti umbi-umbian, Buana juga merawat pohon-pohon yang tumbuh di lahannya seperti, pisang, papaya, dan beberapa pohon kelapa.</p>
<p style="text-align:justify;">Buana tak menyadari kalau dirinya telah menjadi seorang petani. Jika pagi tiba, Buana membawa hasil ladang itu ke pasar untuk dijualnya. Hasil penjualannya dia belikan beberapa liter beras dan keperluan lainnya. Ketika malam datang, mereka bercengkerama tentang masa depan anaknya yang tengah dikandung. Bila si jabang bayi lahir, Buana akan bekerja sebagai sopir angkot yang routenya melewati jalan di depan rumahnya. Tujuannya adalah sambil mencari uang, Buana bisa mengawasi atau melihat kedua buah hatinya saat angkot yang dikemudikannya melintas di depan rumahnya.</p>
<p style="text-align:center;">**</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>MANDIRI</strong> adalah sebuah keharusan untuk menanggulangi kehidupan yang mereka tempuh. Tak ada kata menolak untuk kebaikan bersama. Buana tak perlu melihat dirinya anak siapa. Begitupun Dinda. Untuk hidup mandiri tak perlu melihat siapa orang tua mereka, yang harus dilihat, didukung dan dijaga adalah jalan hidup yang mereka ambil. Sekecil apapun yang didapat harus hasil dari tangannya, bukan kucuran atau subsidi dari orang tuanya yang kaya raya itu. Begitu mereka bersikap.</p>
<p style="text-align:justify;">Di rumah itu mereka tak punya pesawat televisi, kecuali sebuah radio saku. Bila malam tiba, sesekali mereka duduk-duduk di teras depan rumahnya. Memandangi bulan purnama dari sela-sela ilalang yang tinggi menjulang. Bintang-bintang yang muncul mengelilinginya mereka coba hitung bersama. Jumlahnya selalu tak pernah sama. Mereka akan tertawa bila keganjilan itu mereka temukan.</p>
<p style="text-align:justify;">Mereka jarang pergi jauh. Rotasi langkahnya hanya dari rumah ke ladang, dari ladang ke rumah atau sebentar melihat pemandangan di tepi sungai lalu kembali ke rumah. Pernah sekali waktu mereka pergi berdua menghadiri undangan perkawinan di kampung sebelah. Hiburannya waktu itu menampilkan musik jaipongan. Saat ngibing berlangsung, terjadi tawuran antarpemuda desa. Suasana tiba-tiba jadi kacau. Dinda terpisah dari Buana. Jerit ketakutan para pengunjung wanita membuat suasana semakin tak terkendali. Dinda lari masuk ke rumah penduduk. Sedang Buana menghindari tawuran lari menuju ke arah rumahnya.</p>
<p style="text-align:justify;">Tiba di rumah Buana bingung karena Dinda belum sampai di rumah. Buana khawatir akan keselamatan istrinya. Namun satu jam kemudian, Dinda muncul diantar oleh sepasang suami-istri pemilik rumah yang dimasuki Dinda malam itu.</p>
<p style="text-align:justify;">Sejak kejadian yang cukup mengerikan itu, mereka tak pernah lagi mau menonton hiburan malam di luar rumah.</p>
<p style="text-align:justify;">Di pentas politik, kedua orang tua mereka masih terus berseteru. Saling cemooh, saling mengaku bahwa misi partainyalah yang benar. Dan negara akan ambruk jika lepas dari konsep mereka. Juga dari dua kubu tersebut mulai berkembang persoalan baru atas hilangnya anak-anak mereka. Mereka saling tuduh telah menculik anak mereka masing-masing. Dari dua kubu itu juga, selain polisi, diperintahkan juga para bodyguard untuk mencari anak-anak mereka yang belum kembali ke rumah masing-masing.</p>
<p style="text-align:justify;">Di dalam rumah yang dikelilingi ilalang yang tak pernah habis dibabat, Buana sedang menanti kelahiran anak pertamanya. Bidan kampung didatangkan. Para tetangga bahu-membahu membantu kelahiran anak pertama pasangan Buana dan Dinda.</p>
<p style="text-align:justify;">Seiring kapas-kapas kembang ilalang yang beterbangan dibawa angin, si jabang bayi itu lahir ke dunia. Sehat, putih, gemuk, dan berkelamin laki-laki. Doa syukur dipanjatkan. Tali ari-ari dibenamkan ke bumi.</p>
<p style="text-align:center;">**</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>AKHIRNYA</strong> rumah di tengah ilalang itu semakin terbenam bila malam tiba karena Buana sudah jarang membabatnya setelah kehadiran anak pertamanya lahir. Buana bahagia sekali. Siapa pun tak ada yang bisa melihat bahwa ada kebahagiaan di tengah area ilalang yang berjuntai-juntai ditiup angin.</p>
<p style="text-align:justify;">Namun, entah siapa yang membawa api dendam ke tengah-tengah ilalang itu. Di malam yang pekat, di saat udara dingin mengulum perkampungan penduduk, justru ilalang yang tumbuh di sekitar rumah sewaan yang ditempati oleh kedua anak tokoh politik itu tiba-tiba terbakar. Lidah api yang dibawa angin begitu cepat menjilat ke sekeliling. Kobaran api dari ilalang yang terbakar tampak seperti tangan raksasa yang muncul dari belahan bumi mencengkeram segala yang ada di sekitarnya termasuk rumah yang dihuni oleh ketiga anak manusia yangt berada di dalamnya.</p>
<p style="text-align:justify;">Buana pernah menyampaikan kepada Dinda kalau politik itu kotor dan jahat, sekarang terbukti. Dan ilalang yang selalu tumbuh di tempat yang sunyi itu, kini telah jadi saksi atas kematian mereka.***</p>
<br />Posted in ANDAR-ANDAR  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/marjinal0606.wordpress.com/162/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/marjinal0606.wordpress.com/162/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/marjinal0606.wordpress.com/162/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/marjinal0606.wordpress.com/162/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/marjinal0606.wordpress.com/162/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/marjinal0606.wordpress.com/162/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/marjinal0606.wordpress.com/162/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/marjinal0606.wordpress.com/162/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/marjinal0606.wordpress.com/162/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/marjinal0606.wordpress.com/162/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/marjinal0606.wordpress.com/162/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/marjinal0606.wordpress.com/162/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/marjinal0606.wordpress.com/162/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/marjinal0606.wordpress.com/162/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=marjinal0606.wordpress.com&amp;blog=1688390&amp;post=162&amp;subd=marjinal0606&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://marjinal0606.wordpress.com/2009/06/22/rumah-di-tengah-ilalang/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/3cab78dc3ed683557364ea054a6f75f0?s=96&#38;d=monsterid" medium="image">
			<media:title type="html">greenhome</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Korupsi Dalam Sastra Sunda</title>
		<link>http://marjinal0606.wordpress.com/2009/06/16/korupsi-dalam-sastra-sunda/</link>
		<comments>http://marjinal0606.wordpress.com/2009/06/16/korupsi-dalam-sastra-sunda/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 16 Jun 2009 13:14:35 +0000</pubDate>
		<dc:creator>marjinal0606</dc:creator>
				<category><![CDATA[WARUNG CURHAT]]></category>
		<category><![CDATA[korupsi]]></category>
		<category><![CDATA[wordrpress.com]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://marjinal0606.wordpress.com/?p=160</guid>
		<description><![CDATA[DJASÉPUDIN*) &#8220;Rék leutik rék gedé korupsi mah sarua baé dosana. Nu matak mun rék korupsi tong kagok-kagok, héhéhé&#8230;&#8221; Mau kecil mau besar korupsi tetap sama dosanya. Maka, jika hendak korupsi jangan tanggung, he..he..he.. (Teten Masduki, Lalayang Girimukti/V/Agustus-Oktober 2002) Korupsi di Indonesia memang telah menyebar. Ihwal korupsi yang diungkapkan koordinator Indonesia Corruption Watch (ICW), itu berangkat [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=marjinal0606.wordpress.com&amp;blog=1688390&amp;post=160&amp;subd=marjinal0606&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:justify;"><strong><em> </em></strong></p>
<p style="text-align:center;"><strong>DJASÉPUDIN*)</strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong><em> </em></strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong><em>&#8220;Rék leutik rék gedé korupsi mah sarua baé dosana. Nu matak mun rék korupsi tong kagok-kagok, héhéhé&#8230;&#8221;</em></strong></p>
<p style="text-align:justify;">Mau kecil mau besar korupsi tetap sama dosanya. Maka, jika hendak korupsi jangan tanggung, he..he..he.. (Teten Masduki, Lalayang Girimukti/V/Agustus-Oktober 2002)</p>
<p style="text-align:justify;"><span id="more-160"></span>Korupsi di Indonesia memang telah menyebar. Ihwal korupsi yang diungkapkan koordinator Indonesia Corruption Watch (ICW), itu berangkat dari karya sastra Sunda. Teten Masduki lebih tahu pergerakan korupsi setelah mendalami carpon-carpon (carita pondok/cerita pendek) karya Ahmad Bakri.</p>
<p style="text-align:justify;">Menurut Kamus Umum Basa Sunda cetakan kesembilan, Mei 1995, korupsi (koreupsi) adalah kecurangan dalam menjalankan tugas mengatur keuangan milik negara, perusahaan, untuk menguntungkan diri pribadi atau golongan.</p>
<p style="text-align:justify;">Dalam naskah Sunda kuna Sanghyang Siksakanda ng Karesian yang ber-titi mangsa nora (0) catur (4) sagara (4) wulan (1), yang berarti tahun 1440 Saka (1518 M) istilah korupsi memang tidak ada namun esensi dari pembahasan korupsi tetap mengemuka.</p>
<p style="text-align:justify;">Adanya istilah nyangcarutkeun (menghianati), mipit mo amit (memetik tanpa izin), ngala mo ménta (mengambil tanpa meminta), ngajuput mo sadu (memungut tanpa memberi tahu), maka nguni tu tumumpu, maling, ngetal, ngabégal sing sawatek cekap carut, ya nyangcarutkeun sakalih ngaranna (pun merampas, mencuri, merampok, menodong, segala macam perbuatan hianat, ya menghianati orang lain namanya) semakin menandaskan korupsi sudah ada sejak zaman Sri Baduga Maharaja atau lebih dikenal Prabu Siliwangi berkuasa.</p>
<p style="text-align:justify;">Dalam Sanghyang Siksakanda ng Karesian pula, seperti yang diungkapkan arkeolog-filolog Ayatrohaedi, kita harus waspada agar terhindar dari cante yang empat. Keempat cante itu adalah siwok cante (tergoda oleh makan dan minum), simur cante (ikut perbuatan orang yang mencuri dan sejenisnya), simar cante (mengambil dagangan mas dan perak tanpa disuruh pemiliknya), dan darma cante (membantu pihak yang dibenci raja atau penguasa). Hal itu untuk menghidari pancagati (lima macam penyakit yang berupa keserakahan, kebodohan, kejahatan, ketakaburan, dan keangkuhan).</p>
<p style="text-align:center;">**</p>
<p style="text-align:justify;">Selain dalam naskah Sunda Sanghyang Siksakanda ng Karesian, carpon, dan novel, ihwal korupsi pun tampak dalam sajak. Namun, sayang, korupsi yang direkam penyajak Sunda umumnya bernada nyungkun alias menyuruh para koruptor sangkan terus memerkosa hak-hak masyarakat. Sumuhun, seperti kelakar yang dilontarkan Teten Masduki. Bahkan, anjuran untuk berperilaku korupsi harus dipupuk sejak masa mengenyam pendidikan.</p>
<p style="text-align:justify;">Bila pada tahun 1976 Kiswa Wiriasasmita menulis sajak Generasi Korupsi, di pertengahan 90-an Ricky Nugraha menulis sajak ‘Dinamika Aktivis Mahasiswa I’. Sajak utuhnya: iyeuh/ kudu aktif organisasi/ ngarah apal birokrasi/ pikeun ngumpulkeun konéksi/ jaganing géto nyiar posisi// iyeuh/ ulah tinggaleun démonstrasi/ ngarah nyaho kondisi/ sanajan saukur aksi/ ngarah batur kataji// iyeuh/ geuwat réngsékeun skripsi/ ngarah gancang meunang korsi/ nu gampil keur korupsi/ hasilna beulikeun mérsi/ (ulah poho bagi-bagi)//</p>
<p style="text-align:justify;">Sajak yang dimuat dalam antologi Nyurup Lambak (Pamass-Unpad, 1995), itu merupakan tafsir penyajak dalam membaca realitas korupsi yang terjadi di Indonesia, khususnya di tatar Sunda.</p>
<p style="text-align:justify;">Dalam sajak ini, penyajak menyentil dua pihak sekaligus, para koruptor, dan calon koruptor, yakni mahasiswa.</p>
<p style="text-align:justify;">Idealisme yang menggelora di pikiran, jiwa, dan sikap mahasiswa biasanya akan luntur seketika manakala mereka menempati kursi empuk kekuasaan. Sikap macam itu masuk pada kolom unggah adat.</p>
<p style="text-align:justify;">Inilah implementasi dari &#8220;korupsi berbarengan&#8221; atau dalam naskah Sanghyang Siksakanda ng Karesian hal tersebut masuk pada kategori simur cante (ikut perbuatan orang yang mencuri dan sejenisnya) dan simar cante (mengambil dagangan mas dan perak tanpa disuruh pemiliknya).</p>
<p style="text-align:justify;">&#8220;Nyungkun&#8221; korupsi dalam sastra Sunda terdapat juga dalam sajak Raksukan Para Juragan karya Usep Romli H.M. serta Wasiat Konglomerat karya Taufik Faturohman.</p>
<p style="text-align:justify;">Adanya pembahasan korupsi dalam salah satu pedoman atau kewajiban hidup masyarakat Sunda, Sanghyang Siksakanda ng Karesian, menunjukkan sejak baheula masyarakat Sunda memang telah akrab dengan perkara korupsi, meski dengan nama dan bentuk yang berbeda.</p>
<p style="text-align:justify;">Adapun gambaran korupsi masyarakat Sunda yang terdapat dalam karya sastra, selain menunjukkan rasa prihatin para pengarang akan situasi lingkungannya, juga menunjukkan sastra Sunda tidak selamanya berkutat pada permasalahan cinta belaka. Sastra Sunda ternyata bisa ngigelan jeung ngigelkeun jaman.</p>
<p style="text-align:justify;">Untuk membasmi korupsi sejatinya bisa dilakukan beragam cara. Salah satunya membuka jalan dengan memahami karya sastra. Sebab sastra adalah cerminan dari kehidupan masyarakatnya.</p>
<p style="text-align:justify;">Meski tidak banyak, karya sastra Sunda yang menyingung korupsi tetap ada yang menarik untuk dinikmati dan dikaji. Carpon atau novel karya Ahmad Bakri, misalnya. Kualitas karya Ahmad Bakri? Dijamin, enak dibaca dan perlu.***</p>
<p style="text-align:right;">*). Alumnus Prodi Sastra Sunda Unpad (dari PR)</p>
<br />Posted in WARUNG CURHAT Tagged: korupsi, wordrpress.com <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/marjinal0606.wordpress.com/160/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/marjinal0606.wordpress.com/160/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/marjinal0606.wordpress.com/160/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/marjinal0606.wordpress.com/160/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/marjinal0606.wordpress.com/160/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/marjinal0606.wordpress.com/160/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/marjinal0606.wordpress.com/160/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/marjinal0606.wordpress.com/160/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/marjinal0606.wordpress.com/160/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/marjinal0606.wordpress.com/160/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/marjinal0606.wordpress.com/160/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/marjinal0606.wordpress.com/160/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/marjinal0606.wordpress.com/160/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/marjinal0606.wordpress.com/160/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=marjinal0606.wordpress.com&amp;blog=1688390&amp;post=160&amp;subd=marjinal0606&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://marjinal0606.wordpress.com/2009/06/16/korupsi-dalam-sastra-sunda/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/3cab78dc3ed683557364ea054a6f75f0?s=96&#38;d=monsterid" medium="image">
			<media:title type="html">greenhome</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Teater Capres dan Kontestasi Citra</title>
		<link>http://marjinal0606.wordpress.com/2009/06/16/teater-capres-dan-kontestasi-citra/</link>
		<comments>http://marjinal0606.wordpress.com/2009/06/16/teater-capres-dan-kontestasi-citra/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 16 Jun 2009 12:58:11 +0000</pubDate>
		<dc:creator>marjinal0606</dc:creator>
				<category><![CDATA[SECANGKIR KOPI]]></category>
		<category><![CDATA[capres]]></category>
		<category><![CDATA[jk-win]]></category>
		<category><![CDATA[mega-pro]]></category>
		<category><![CDATA[sby-boediono]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://marjinal0606.wordpress.com/?p=157</guid>
		<description><![CDATA[BENNY YOHANES*) DEMOKRASI telah membawa tubuh ke wilayah persaingan di ruang publik. Mereka yang hendak meraih kekuasaan, harus memunculkan realitas fisikalnya menjadi bentuk representasi identitas. Identitas yang diwakilkan pada bentuk tampilan luar itu, telah menjadi alat ukur publik untuk menjatuhkan pilihan. Di ruang publik, foto-foto wajah beragam ukuran, dengan variasi jumlah dan kekerapan pemunculan, memberi [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=marjinal0606.wordpress.com&amp;blog=1688390&amp;post=157&amp;subd=marjinal0606&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:center;"><strong>BENNY YOHANES</strong>*)</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>DEMOKRASI</strong> telah membawa tubuh ke wilayah persaingan di ruang publik. Mereka yang hendak meraih kekuasaan, harus memunculkan realitas fisikalnya menjadi bentuk representasi identitas. Identitas yang diwakilkan pada bentuk tampilan luar itu, telah menjadi alat ukur publik untuk menjatuhkan pilihan. Di ruang publik, foto-foto wajah beragam ukuran, dengan variasi jumlah dan kekerapan pemunculan, memberi indikasi lain tentang agresivitas persuasi sang calon. Faktor kuantitatif penampilan citra tubuh, telah membawa promosi demokrasi di Indonesia lebih memberat ke wilayah visual daripada penguatan sisi epistemiknya. Demokrasi menjadi ajang kontestasi gambar, bukan kompetensi nalar.</p>
<p style="text-align:justify;"><span id="more-157"></span>Politik pencitraan menjadi babak baru persaingan calon presiden 2009-2014. Para capres-cawapres tampil ke ruang publik dengan menggunakan realitas fisikalnya sebagai isyarat awal untuk membentuk impresi tertentu. Impresi itu dapat menjadi relasi politik pertama antara calon pemilih dengan para figur calon penguasa tersebut. Dalam relasi politik itu, yang paling pertama dibangkitkan adalah sisi kepercayaan emosional calon pemilih terhadap figur.</p>
<p style="text-align:justify;">Tiga pasangan capres/cawapres memasuki ruang publik lewat berbagai strategi; melalui tatap muka langsung dengan rakyat; interaksi dengan masyarakat profesional dalam forum diskusi terbatas; dan yang lebih kerap dilakukan lewat instrumen iklan di media massa dan elektronik. Dalam realitas iklan, sosok diubah dan dimapankan sebagai citra. Memasuki ruang publik adalah memasuki wilayah political fashion. Oleh karena itu, ada kepentingan yang relatif disadari para figur capres/cawapres untuk dapat menyodorkan versi identitas yang paling acceptable. Di ranah publik, bekerja hukum persuasi yang paling sederhana: keunggulan dan kualitas anda akan dibandingkan langsung dengan kompetitor anda. Jika pembandingan itu menghasilkan kontras positif, anda akan menjadi pribadi yang lebih persuasif.</p>
<p style="text-align:justify;">Menyodorkan versi identitas yang paling acceptable menjadi strategi politik citra. Ruang publik dinilai sebagai panggung, dimana aspek physical appearance menjadi daya tarik untuk mendapatkan surplus impresi. Tubuh dan penampilan justru menjadi modal politik yang lebih magnetis. Mendongkrak akseptabilitas publik dengan cara menampilkan potret pribadi yang lebih persuasif, dilakukan para capres/cawapres dengan membakukan sejumlah pencirian personal. Aspek-aspek pencirian personal dilakukan dengan teknik mimik, gestik, efek gestur dan postur, teknik voicing dan performative act serta penanaman elemen karisma dalam sebuah tindakan komunikasi. Bahasa tubuh lalu menjadi bahasa politik juga.</p>
<p style="text-align:center;">**</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>DILIHAT </strong>dari segi physical appearance, figur SBY adalah sosok yang paling terkontrol dalam menjaga penampilan. Dia sadar pada posisinya sebagai leading role dalam momen politik, dimana dirinya selalu menjadi pusat perhatian publik. SBY menggunakan hampir semua ketrampilan teknis aktor: teknik mimik, gestik, efek gestur dan postur, teknik voicing dan performative act serta penanaman elemen karisma. SBY menggunakan keunggulan sosok fisiknya yang tinggi besar, dibalut teknik kostum yang formal, rapi, dan berkesan elegan, untuk meneguhkan versi identitas yang hendak diproduksinya untuk memperoleh impresi publik. Semua sinyal tersebut digunakan secara berkelanjutan untuk mengirimkan pesan politisnya: Saya pemimpin yang melindungi; bapak yang berkarisma; dan sosok ing ngarso sing tulodo.</p>
<p style="text-align:justify;">JK menampilkan kontras radikal yang dipertahankan SBY. JK barangkali menyadari bahwa kekuatannya tidak terletak pada physical appearance. JK juga menyadari posisi politisnya, terutama dari aspek personal popularity dan political authority, bahwa dirinya berada dalam kategori second line actor. Oleh karena itu, JK menampilkan versi identitas yang berkesan lebih spontan; menyederhanakan vokabuler pilihan kata agar tetap sesuai dengan common-sense; memproduksi sense of humor, dan kecerdikannya untuk menggunakan teknik aside, yaitu bicara langsung kepada subjek yang paling dekat dengan eye-contact yang lebih presisi. Semua presentasi itu dapat mendongkrak versi identitas JK dalam ruang publik, untuk memperoleh impresi sebagai pribadi yang lebih hangat, informal, unik.</p>
<p style="text-align:justify;">Megawati adalah tipe tubuh yang berkesan lebih defensif. Pilihannya untuk membalut tubuh dengan warna gelap, gaya bicaranya yang lebih datar, pilihan kata dan argumen yang lebih normatif, menjelaskan versi identitas yang tidak begitu dinamis. Keunggulan Megawati sebagai sosok politikus adalah posisi otherness-nya sebagai perempuan capres, serta posisi historisnya sebagai puteri proklamator. Jadi, modal politik Megawati adalah tubuh fisikalnya bisa menjadi realitas the other sekaligus menjadi tubuh simbolis Sukarnoisme. Sungguh pun aspek nostalgik dan romantisasi revolusi tidak lagi efektif pada situasi politik Indonesia yang sudah lebih pragmatis dan kehilangan semangat visionernya itu, namun tubuh defensif Megawati masih mampu menjadi penampung bagi resistensi wong cilik. Retorika politiknya, meski tanpa didukung kefasihan seorang orator, dapat memiliki kekuatan sebuah oracle.</p>
<p style="text-align:justify;">SBY, JK, Megawati, bersanding dengan pasangan yang punya sisi konstruktif maupun kontraproduktif. Boediono tampak tidak nyaman di ruang publik. Bahasa tubuhnya tidak cukup menampilkan persuasi maupun otoritas. Boediono mungkin lebih berkarakter sebagai desainer buku program pertunjukan yang teliti, bukan sebagai stage manager yang direktif. Wiranto belum mudah menyamankan dirinya dalam sosok sipil. Pengalaman leadership-nya dalam karier kemiliteran yang syarat pengalaman, selalu membayang dalam setiap argumennya yang dibikin tanpa teatrikalitas gestur, sehingga Wiranto tampak sebagai karakter yang lebih arif. Tetapi, itu semua tidak cukup menjelaskan mengapa dirinya kalah populer dengan SBY, yang dulu pernah berada di bawah hierarkinya. Prabowo dapat dibandingkan dengan tipe aktor debutan yang penuh passion, namun kurang intensif berlatih. Pidatonya di ruang publik nampak penuh gelora, eksplosif; seperti sosok yang hendak meruntuhkan kemapanan. Namun, kefasihan sebagai orator belum cukup dimiliki. Seruannya tampak jadi simplistik, dan dengan teknik voicing dan tone emotion yang tinggi, dia tampak sebagai komandan yang kurang sabar menunggu klimaks.</p>
<p style="text-align:justify;">Demokrasi juga membutuhkan stage, sebagai bagian dari strategi untuk mendapatkan tingkat kohesi publik yang lebih nyata. Dalam konteks ini, setiap pasangan capres/cawapres menentukan model pencitraan misi dan estetika politik yang berbeda, yaitu dengan memperlihatkan daya persuasifnya dalam sebuah realitas spatial. Pada tahap deklarasi ini, wacana dan estetika dibuat dalam bentuk dramatisasi pemanggungan yang terintegrasi.</p>
<p style="text-align:center;">**</p>
<p style="text-align:justify;">Pasangan SBY dan Boediono mendeklarasikan pencapresannya dalam indoor stage yang dibuat megah di Sasana Budaya Ganesha (Sabuga) Bandung. Dramatisasi dibuat dengan atmosfer yang lebih khidmat. Warna kostum yang bernuansa merah secara sadar digunakan pasangan SBY-Boediono, sebagai elemen estetik untuk memperkuat aksentuasi kehadirannya sebagai pusat dari seluruh drama. SBY menjadi pusat normatif dan idealisasi politik, dan kata-kata yang disampaikannya dengan gaya grand style itu, terangkat menjadi sebuah sakralitas tertentu. Seluruh hadirin dikondisikan untuk mengalami kepuasan optis, dan itu merupakan jalan untuk sampai pada political chatarsis. Deklarasi SBY-Boediono merevitalisasi peristiwa politik pada teater Yunani antik, yaitu peristiwa kolosal di sebuah amphitheater untuk menegaskan potensi omnipower-nya.</p>
<p style="text-align:justify;">JK-WIN memilih tugu proklamasi sebagai panggung dekralasi pasangan ini. Ini adalah sebuah outdoor stage dalam format nonkolosal, tapi memiliki potensi semiotik yang khas. Dengan memilih tugu proklamasi, JK-WIN hendak melibatkan karakter politiknya dengan simbolisasi proklamasi. Pidato dekralasi JK bahkan mengadopsi gaya dan frasa proklamasi Soekarno-Hatta, tapi yang dinyatakan dengan nuansa yang lebih santai dan tanpa kepalan tangan. Inilah model pemanggungan politik dengan scenery historis, dengan menggunakan estetika silhouette. JK menggunakan teknik pembayangan proklamasi untuk menegaskan bahwa slogan politiknya: &#8220;Lebih Cepat, Lebih Baik&#8221; merupakan penjelmaan baru dari elan proklamasi itu. JK memang tidak cukup memikat sebagai passionate orator, namun dalam medan interaksi face to face, JK adalah tipe stage persuader yang paling unggul. Deklarasi di Tugu Proklamasi itu memang tidak jadi sebuah monumentalitas politik, meski berada dalam latar yang penuh dengan makna historis yang monumental.</p>
<p style="text-align:justify;">Megawati-Prabowo melaksanakan deklarasi dalam sebuah crowd stage di Bantargebang. Sebuah usaha untuk mengidentifikasi realitas wong cilik dan simbolisasi keprihatinan. Pasangan ini hendak menonjolkan kontras drama dengan model pemanggungan yang dinilai elitis dan eksklusif. Bantargebang adalah korpus pembuangan, disejajarkan dengan nasib rakyat yang terbuang dari dominasi neolib. Rakyat yang terasosiasikan sebagai sampah politik ini, hendak digalang dan diangkat menjadi aktor pembangunan yang sesungguhnya. Tapi di Bantargebang jugalah paradoks rakyat tak terpungkiri: rakyat bisa menjadi kekuatan yang eksplosif, namun ekses masifnya adalah chaos dan gampang cair. Deklarasi Megawati-Prabowo memperlihatkan ironi tersebut. Crowd stage menjadi konsentrasi keriuhan, tanpa intensifikasi untuk menjadi energi kolektif. Panggung utama tidak jadi pusat makna, karena massa terfragmentasi perhatiannya. Kehadiran Rendra dengan sajak &#8220;Krawang-Bekasi&#8221; Chairil, justru menjadi canggung dan tidak berhasil memompa tangga dramatik. Panggung Bantargebang tak terubah statusnya: massa ingin cepat menjauh dari sengatan terik dan sampah itu.</p>
<p style="text-align:justify;">Para kandidat capres/cawapres bisa dipastikan bukanlah pemerhati aktif teater. Meminta mereka untuk ke sana, juga bukan permintaan yang proporsional. Tetapi sejumlah aspek dari seni teater telah ikut diaplikasikan dalam strategi pencitraan dan modus sosialisasi politik mereka. Atau ini lebih tepat : sudut pandang teater bisa ikut memprediksikan bentuk aktualisasi kepemimpinan para calon penerima mandat rakyat ini.</p>
<p style="text-align:justify;">SBY adalah tipe man of speech. Keahliannya unggul dalam eskplanasi teoritik; canggih dalam penguasaan vokabuler; sistematik dalam bertutur dan mengurai, dan aspek body language-nya mampu memberikan penguatan pada potensi otoritasnya, untuk menjadi rujukan dan magnet simbolis bagi pemujanya. Penampilan fisiknya yang sehat dan tegap, membangkitkan sensasi afektif; personifikasi yang tepat sebagai &#8220;pelindung&#8221; dan protagonis pertunjukan. Korpusnya selalu efektif menjadi faktor pembeda di antara yang lain, memungkinkan sosok ini jadi aktor sentral. Implikasi dari aktor sentral ini adalah: sosok ini akan menjadi figur yang untouchable dan jadi model yang lebih mulus untuk pengkultusan. SBY sendiri tampak mengadopsi kecenderungan menjadi &#8220;the ruler father&#8221;, yang dulu pernah menjadi trademark yang efektif dalam masa kepemimpinan Soeharto. Bedanya adalah, bagi Soeharto, strategi bicara menjadi magi politik, pada SBY kefasihan bicara menjadi eksibisi politik. Teater SBY adalah tipe teater didaktis.</p>
<p style="text-align:justify;">Megawati adalah kendaraan sekaligus jalan untuk romantisasi nasionalisme Indonesia, yang sedang longsor. Retorika politiknya tidak pernah jauh beranjak dari perkara kedaulatan dan perjuangan rakyat. Tapi figur Megawati sendiri tidak menjelmakan suatu dinamisme wacana atau mengakselerasi politik revolusioner. Mega hanya memenuhi kebutuhan emotional rapportment bagi wong cilik. Pencapresannya untuk kali kedua, memberi isyarat untuk menandingi totalisasi hak laki-laki dalam ranah kekuasaan. Ibu Mega serupa posisi tokoh NINI dalam drama `Ozone` ciptaan Arifin C.Noer. Tokoh NINI berkata begini, &#8220;Perempuan adalah Ibu kebudayaan, sungguh-sungguh ibu dan sungguh-sungguh Empu. Perempuan adalah lambang konstruksi, lambang pembangunan, sementara laki-laki lambang destruksi&#8221;. Dalam kontestasi capres, follow spot mungkin tidak akan terarah pada Megawati. Tapi kehadirannya di sekitar panggung politik makro Indonesia memberi pesan fundamental: harmoni adalah eksistensi.</p>
<p style="text-align:justify;">JK adalah elemen non-Jawa dalam mitologi kekuasaan Indonesia. JK sering diasosiasikan sebagai cermin dari coastal culture: pembawa misi budaya pantai; lebih spontan, tidak hierarkis, fleksibel, bertindak cepat sesuai peluang dan karena disemai oleh pengalaman berdagang, katanya berani juga ambil risiko. JK adalah tipe man of action. Gaya bicara JK tidak canggih, tapi lugas. Tidak protokoler, tapi kuriositasnya tinggi. Tidak sistematis, tapi bisa meringkas wacana menjadi premis yang cerdas. Dalam drama yang plotnya tersendat, JK bisa memainkan karakter ganda: sebagai antagonis sekaligus hero. Dari sisi penampilan fisiknya yang terhitung average, JK memang tak bisa menjulang sendirian sebagai figur tunggal. Dia lebih manageable sebagai sosok aktor di lini tengah, menyerukan kemandirian dan langsung mencobakan aksinya. Mengakselerasi rencana dan mengaplikasikannya dalam program cepat. Kadang tidak mulus, karena infrastruktur birokrasi dan finansial tidak memihaknya. JK adalah sosok ing madya mangun karso. JK yang asli Bugis, tidak dibebani kesantunan khas priyayi Jawa. Dia bicara terbuka di wilayah front stage: melontar kritik, jenaka pun bisa. Teater JK adalah teater eskpresionis.</p>
<p style="text-align:justify;">Pemimpin bukan barang jadi. Tak ada sekolah atau gelar yang cukup untuk seorang pemimpin. Pemimpin menjadi bagian proses, tapi dialah yang selalu terlibat, mempercepat proses itu untuk menampakkan bentuk definitifnya. Fase kontestasi kekuasaan di Indonesia memasuki wilayah kompetisi yang makin terbuka. Panggung besarnya lebih menyerupai bentuk teater arena. Eksklusivitas dan hierarki bukan lagi kata kunci untuk memperoleh simpati dan kohesi. Daya tarik teater arena lebih pada aktualisasi dan aksi, untuk membangun interaksi. Apresiasi penonton akan diberikan bagi setiap jengkal aktualisasi yang tepat sasaran. Bukan retorika canggih atau atraksi individu yang menjelmakan aktualisasi itu. Inti dari teater adalah penemuan bersama. Pemimpin membuka stimuli dan rakyat menguji. Pada rentang antara stimuli dan verifikasi itulah, pemimpin hadir; kadang sebagai jembatan kadang sebagai komandan.</p>
<p style="text-align:justify;">Citra hanya kemasan salon. Masih laku dijual, tapi mustahil jadi sejarah. Pemimpin yang bertahan pada citra hanya akan sampai pada klimaks yang prematur. Dan klimaks yang prematur adalah antiklimaks yang sesungguhnya. Selamat menyaksikan teater capres.***</p>
<p style="text-align:right;">*). Aktor dan sutradara teater, penulis teks drama (sumber PR)</p>
<br />Posted in SECANGKIR KOPI Tagged: capres, jk-win, mega-pro, sby-boediono <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/marjinal0606.wordpress.com/157/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/marjinal0606.wordpress.com/157/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/marjinal0606.wordpress.com/157/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/marjinal0606.wordpress.com/157/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/marjinal0606.wordpress.com/157/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/marjinal0606.wordpress.com/157/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/marjinal0606.wordpress.com/157/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/marjinal0606.wordpress.com/157/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/marjinal0606.wordpress.com/157/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/marjinal0606.wordpress.com/157/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/marjinal0606.wordpress.com/157/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/marjinal0606.wordpress.com/157/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/marjinal0606.wordpress.com/157/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/marjinal0606.wordpress.com/157/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=marjinal0606.wordpress.com&amp;blog=1688390&amp;post=157&amp;subd=marjinal0606&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://marjinal0606.wordpress.com/2009/06/16/teater-capres-dan-kontestasi-citra/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/3cab78dc3ed683557364ea054a6f75f0?s=96&#38;d=monsterid" medium="image">
			<media:title type="html">greenhome</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Ny Mufidah, Dagang Jilbab : “Ini Pilpres, Bu!”</title>
		<link>http://marjinal0606.wordpress.com/2009/06/11/ny-mufidah-dagang-%e2%80%9cjilbab%e2%80%9d-%e2%80%9cini-pilpres-bu%e2%80%9d-2/</link>
		<comments>http://marjinal0606.wordpress.com/2009/06/11/ny-mufidah-dagang-%e2%80%9cjilbab%e2%80%9d-%e2%80%9cini-pilpres-bu%e2%80%9d-2/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 11 Jun 2009 10:42:38 +0000</pubDate>
		<dc:creator>marjinal0606</dc:creator>
				<category><![CDATA[POLITIKA ISENG]]></category>
		<category><![CDATA[kompasiana]]></category>
		<category><![CDATA[mufiah kalla]]></category>
		<category><![CDATA[pilpres]]></category>
		<category><![CDATA[wiranto]]></category>
		<category><![CDATA[wordpress.com]]></category>
		<category><![CDATA[yusuf kalla]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://marjinal0606.wordpress.com/?p=152</guid>
		<description><![CDATA[Istri Yusuf Kalla, Ny Mufidah sangat cerdas dan memanfaatkan peluang sekecil apapun menjadi lahan usaha, minimal untuk dirinya. Pemanfaatan situasi pun ia jalani dengan kecerdasan, misalnya memanfaatkan momentum pemilihan presiden (pilpres) dengan isyu jilbab. “Jilbab” dalam kontek religiusitas tidak bisa dibantah tapi dalam kontek lain masih diperdebatkan. Kaum “puritan” dengan mengembuskan isyu itu ditangkap Ny [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=marjinal0606.wordpress.com&amp;blog=1688390&amp;post=152&amp;subd=marjinal0606&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:justify;">Istri Yusuf Kalla, Ny Mufidah sangat cerdas dan memanfaatkan peluang sekecil apapun menjadi lahan usaha, minimal untuk dirinya. Pemanfaatan situasi pun ia jalani dengan kecerdasan, misalnya memanfaatkan momentum pemilihan presiden (pilpres) dengan isyu jilbab. “Jilbab” dalam kontek religiusitas tidak bisa dibantah tapi dalam kontek lain masih diperdebatkan.</p>
<p style="text-align:justify;"><span id="more-152"></span>Kaum “puritan” dengan mengembuskan isyu itu ditangkap Ny Mufidah dengan kecerdasan seorang pengusaha tulen. Tidak mungkin jika intuisi pejabat akan memanfaatkan situasi dengan cara melakukan usaha. Seorang pengusaha tulen, ketika menerima gagasan dan ditopang dana cukup langsung “diembat”. Tanpa perlu pikir panjang.</p>
<p style="text-align:justify;">Ia pun tidak sungkan merogoh kocek untuk membuat “jilbab” dengan merek namanya sendiri dan istri Wiranto (pasangan capres suaminya) yakni Uga. Kontan aksi dagangnya melahirkan pro kontra. Pro kontra hal biasa, namun yang dilakukannya menjelang Pilpres. Karena mendadak mungkin label merk dan usahanya belum didaftarkan ke Notaris sebagai Hak Cipta atau ke Deperidag.</p>
<p style="text-align:justify;">Persoalan ini memang kecil, tapi ketika masyarakat pedagang “ribut” menjadi demam “jilbab” bermerk dadakan itu menjadi luar biasa. Lalu orang belajar menganalisa dan menyambung-nyambungkan hal itu dalam Pilpres. Ketika mereka disanjung karena menggunakan busana muslimah, ternyata setelah itu menjadi pedagang, ini sebuah persoalan baru.</p>
<p style="text-align:justify;">Persoalan barunya, kenapa sih harus dagang dengan merk pasangan ibu calon presiden dan wakil presiden? Apakah salah kalau istri calon penghuni istana berdagang? Dua pertanyaan itu dijawab tetangga saya sebut saja Kartanagara (bukan nama sebenarnya) dengan lantang.</p>
<p style="text-align:justify;">“Salah! Mau dagang jilbab, saat sekarang tidak tepat. Sama saja artinya mereka hanya memiliki otak bisnis, otak dagang bukan otak yang berisi untuk memakmurkan rakyat!” ucapnya berapi-api.</p>
<p style="text-align:justify;">Calon ibu presiden atau bapak presiden, kata teman saya, jangan membuat blunder dengan perilaku dan atau ucapan. Jelas berdagang jilbab apalagi tidak memiliki ijin resmi jangan dilakukan. Bahasa tubuh Ny Mufidah itu memerlihatkan pada masyarakat bahwa ia sangat cerdas dan bertalenta pebisnis. Bacaan berikutnya, jangan-jangan nanti kalau duduk tidak mengurusi rakyat.</p>
<p style="text-align:justify;">Tapi sabaliknya akan memanfaatkan kebijakan suaminya dalam mengurus negara untuk usaha pribadinya. Contoh kecil, negara membutuhkan kertas cetakan. Seumpamanya kop surat dinas dan amplop dinas, itu peluang kecil maka ia pun akan “mencaploknya” dengan menggunakan jasa penyediaan alat tulis kantor (ATK). Belum lagi penyediaan barang dan jasa.</p>
<p style="text-align:justify;">“Sahwat bisnisnya seharusnya ditunda atau dimasukan ke laci meja dan dikunci untuk beberapa saat. Meski pun berhati ‘kedondong’ dalam tataran sesensitif pilpres tidak perlu diperlihatkan. Berlaku lah sopan dan memiliki etika umum bukan khusus sampai jadi terlebih dahulu. Nanti kalau sudah jadi ibu presiden dan mengangkangi istana boleh dikeluarkan seluruh berahi bisnisnya,” ucapnya menyindir.***</p>
<br />Posted in POLITIKA ISENG Tagged: kompasiana, mufiah kalla, pilpres, wiranto, wordpress.com, yusuf kalla <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/marjinal0606.wordpress.com/152/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/marjinal0606.wordpress.com/152/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/marjinal0606.wordpress.com/152/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/marjinal0606.wordpress.com/152/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/marjinal0606.wordpress.com/152/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/marjinal0606.wordpress.com/152/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/marjinal0606.wordpress.com/152/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/marjinal0606.wordpress.com/152/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/marjinal0606.wordpress.com/152/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/marjinal0606.wordpress.com/152/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/marjinal0606.wordpress.com/152/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/marjinal0606.wordpress.com/152/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/marjinal0606.wordpress.com/152/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/marjinal0606.wordpress.com/152/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=marjinal0606.wordpress.com&amp;blog=1688390&amp;post=152&amp;subd=marjinal0606&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://marjinal0606.wordpress.com/2009/06/11/ny-mufidah-dagang-%e2%80%9cjilbab%e2%80%9d-%e2%80%9cini-pilpres-bu%e2%80%9d-2/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/3cab78dc3ed683557364ea054a6f75f0?s=96&#38;d=monsterid" medium="image">
			<media:title type="html">greenhome</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Manohara, Aib atas Kepongahan Negeri Malay</title>
		<link>http://marjinal0606.wordpress.com/2009/06/01/manohara-aib-atas-kepongahan-negeri-malay/</link>
		<comments>http://marjinal0606.wordpress.com/2009/06/01/manohara-aib-atas-kepongahan-negeri-malay/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 01 Jun 2009 10:30:25 +0000</pubDate>
		<dc:creator>marjinal0606</dc:creator>
				<category><![CDATA[SECANGKIR KOPI]]></category>
		<category><![CDATA[aib]]></category>
		<category><![CDATA[kompasiana]]></category>
		<category><![CDATA[manohara odelia pinot]]></category>
		<category><![CDATA[wordpress]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://marjinal0606.wordpress.com/?p=148</guid>
		<description><![CDATA[Kasus Manohara Odelia Pinot, merupakan rangkaian panjang pelecehan orang-orang Malay (baca: Malaysia) terhadap warga negara Indonesia yang tinggal sementara di sana. Pelecahan yang bertubi-tubi, sekarang sepertinya mendapatkan batunya bagi Malay, khususnya Kerajaan Kelantan. Betapa tidak, aib yang selama ini ditutup-tutupi terkuak sudah atas keburukan behavioral mereka. Sejak negara Malay mengalami kemajuan signifikan Tahun 90-an baik [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=marjinal0606.wordpress.com&amp;blog=1688390&amp;post=148&amp;subd=marjinal0606&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:justify;">Kasus Manohara Odelia Pinot, merupakan rangkaian panjang pelecehan orang-orang Malay (baca: Malaysia) terhadap warga negara Indonesia yang tinggal sementara di sana. Pelecahan yang bertubi-tubi, sekarang sepertinya mendapatkan batunya bagi Malay, khususnya Kerajaan Kelantan. Betapa tidak, aib yang selama ini ditutup-tutupi terkuak sudah atas keburukan behavioral mereka.<br />
<span id="more-148"></span>Sejak negara Malay mengalami kemajuan signifikan Tahun 90-an baik di bidang ekonomi, sosial dan pendidikan. Membuat negara itu menjadi pongah terhadap negara tetangganya di ASEAN, khususnya Indonesia. Betapa tidak, negara Indonesia, misalnya dilecehkan secara keji. Namun dengan kearifan luar biasa Bangsa Indonesia tidak pernah meladeninya.<br />
Entah sejak kapan keberanian orang-orang Malay melakukan pelecehan terhadap Indonesia. Namun pernah suatu ketika, Soekarno merasa tersinggung dan marah sehingga melakukan perintah “ganyang Malayasia” kontak fisik pun tidak bisa dhindarkan. Tapi Malay waktu itu mundur teratur dan mengalah. Rupa-rupanya kejadian itu, tidak dijadikan momentum introspeksi.<br />
Sikap pongahnya terus berlangsung, Tahun 70-an “iming-iming” memberikan gaji besar kepada guru orang Indonesia yang mau pindah ke sana. Penawaran itu, tidak disikapi Negara Indnesia, sehingga eksodus besar-besaran pun terjadi. Dampaknya, guru yang saat itu memiliki rasa nasionalsime jeblog dan harga diri mencapai titik nadir lebih memilih pergi ke Malay.<br />
Sejak itu, pendidikan di sana konon katanya maju kendati masih banyak mahasiswanya yang di kirim ke Universitas di Indonesia. Celakanya lagi, setelah sekian juta penduduk Malay mengenyam pendidikan dari guru-guru berasal dari Indonesia. Sedangkan pendidikan di Indonesia sendiri mengalami penurunan kualitas sangat drastis alias jauh tertinggal.<br />
Malay terus melakukan pemajuan dengan sentmen anti Indonesia terus berlangsung. Sikap menjengkelkan itu terus berulang dengan arogansi luar biasa. Pelecehan yang mengemuka ke publik saat Malay menjadi tuan rumah Tomas Cup dengan membentang poster “Garuda Fall”. Kejadian itu terus berlanjut dalam pertandingan sepakbola setiap SEA GAMES.<br />
Lebih tragisnya, kepongahan itu dilanjutkan dengan pencaplokan sipadan dan ligitan dua pulau milik Indonesia. Selain itu melakukan ilegal loging terhadap kayu-kayu asal Kalimantan yang melibatkan pengusaha Malay dan pribumi. Selain itu, penghinaan dan penyiksaan terhadap tenaga kerja Indonesia (TKI) merupakan salah satu penghinaan terbesar sepanjang republik ini berdiri.<br />
Mungkin saja penghinaan lain yang terus ditularkan adalah untuk menutupi sikap curang orang-orang Malay. Curang dengan ilegal logingnya, curang dengan jual beli BBM yang konon menurut salah satu televisi swasta hasil investigasinya berasal dari nyolong. Begitu pun pasir untuk pembangunannya di hamir negara bagian di Malay berasal dari laut Indonesia.<br />
Colong menyolong, alias maling memaling orang-orang Malay terhadap kekayaan bumi Indonesia teramat banyak. Sehingga harus menutupi dengan sikap arogan agar tidak terlacak perbuatannya. Sikap seperti ini seharusnya ditindak tegas oleh pemerintah Indonesia. Menindak ilegal loging dari Kalimantan, Aceh, Sulawesi dan sekitarnya yang masih rawan di colong.<br />
Begitu pun maling-maling kecil dari perusahaan perkebunan Malay yang mencuri orang-orang Indonesia untuk dipekerjakan di sana. Sebab mereka ogah mengeluarkan uang dan jika kepepet langsung menyerahkan para TKI dengan alasan ilegal dan seterusnya. Kelemahan ini harus segera ditutup agar Malay tidak memiliki celah sembunyi di atas kesalahan negara lain.***</p>
<br />Posted in SECANGKIR KOPI Tagged: aib, kompasiana, manohara odelia pinot, wordpress <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/marjinal0606.wordpress.com/148/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/marjinal0606.wordpress.com/148/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/marjinal0606.wordpress.com/148/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/marjinal0606.wordpress.com/148/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/marjinal0606.wordpress.com/148/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/marjinal0606.wordpress.com/148/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/marjinal0606.wordpress.com/148/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/marjinal0606.wordpress.com/148/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/marjinal0606.wordpress.com/148/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/marjinal0606.wordpress.com/148/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/marjinal0606.wordpress.com/148/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/marjinal0606.wordpress.com/148/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/marjinal0606.wordpress.com/148/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/marjinal0606.wordpress.com/148/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=marjinal0606.wordpress.com&amp;blog=1688390&amp;post=148&amp;subd=marjinal0606&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://marjinal0606.wordpress.com/2009/06/01/manohara-aib-atas-kepongahan-negeri-malay/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/3cab78dc3ed683557364ea054a6f75f0?s=96&#38;d=monsterid" medium="image">
			<media:title type="html">greenhome</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>
