Archive for September 18th, 2007

h1

Jaipong Nyaris Bernama Bojongan

September 18, 2007

Oleh :Hazmirullah/”Pikiran Rakyat”

 jaipongan.gif

NAMA jaipong saya dengar ketika menyaksikan topeng banjet di Bekasi. Pada sesi melawak, ada ungkapan, ja ipong…prak ping pung…ja ipong. Saya sempat tanya, apa ada yang punya istilah itu. Ternyata tidak punya. Kemudian saya putuskan, karya tari saya dinamakan jaipong.” Demikian dikatakan Gugum Gumbira ketika menuntaskan kisah perjalanan keseniannya dalam mencipta jaipong.

Kisah itu dituturkannya kepada khalayak dalam seminar bertajuk “Seni Pertunjukan di Tatar Sunda”, di Gedung Lengkung Sekolah Pascasarjana Universitas Gadjamada Yogyakarta, Rabu (5/9) lalu. Acara itu merupakan rangkaian kegiatan bertajuk “Gelar Seni Budaya Sunda” yang digagas Hapsari: Ajang Kreasi Seni Tradisi Indonesia. “Terus terang, saya reuwas berada di sini. Saya bukan berasal dari kalangan akademisi. Lagi pula, saya tidak biasa membicarakan kesenian di tempat seperti ini,” tuturnya, dalam litotes.

Membicarakan jaipong, memang, tak akan lengkap jika tidak membicarakan sosok Gugum Gumbira. Ternyata, proses penciptaan jaipong begitu panjang dan melelahkan. Penuh intrik dan berbalut penistaan dan caci-maki. Siapa sangka kemudian, jaipong menjadi gebrakan ketiga dalam khazanah seni tari Sunda.

Gugum Gumbira mengaku sempat bingung mencari nama untuk karya seni tari yang diciptakannya itu. Ia sempat hendak menggunakan istilah “ketuk tilu perkembangan”. Tapi, ia takut dimarahi oleh seniman ketuk tilu. “Sebab, sejak awal, kesenian yang saya buat sudah dicap kesenian haram jadah. Makanya, niat untuk menggunakan nama itu saya urungkan. Kemudian, sempat muncul pula ‘bojongan’. Kata ini saya ambil karena tempat tinggal saya di Bojongloa,” tutur Gugum, seniman kelahiran Bandung April 1945 itu.

**

GUGUM lahir di lingkungan keluarga yang senang dengan kesenian tradisi Sunda, terutama silat. Sang ayah adalah seorang guru silat. “Karenanya, sejak kecil, saya sudah akrab dengan silat. Saya sering ditanya ayah mengenai nama dan kegunaan jurus-jurus silat. Kalau tidak tahu, saya langsung dipukul,” katanya mengenang.

Saat kelas 5 SD, kata Gugum, dirinya diajak sang ayah berkeliling dari satu perguruan ke perguruan lainnya. Tujuannya melihat secara langsung, sekaligus menyesuaikan, gerakan-gerakan silat yang sudah diterimanya. “Dari sana saya tahu bahwa gerakan-gerakan silat yang ditampilkan tak memiliki pola tertentu. Semua tergantung kita. Akan tetapi, tetap ada frame-nya. Penggunaan jurus harus tepat,” katanya.

Semasa SMP, Gugum tetap akrab dengan kesenian tradisi Sunda. Ia bersekolah di dekat Stasiun Bandung. Kebetulan, tak jauh dari sana, ada sebuah “warung” yang kerap menggelar pertunjukan longser. “Ketika masuk SMA, pergaulan saya berubah. Saat itu, saya bergaul dengan anak-anak dari kalangan the haves. Selera seni saya pun berubah. Saya akrab dengan chacha dan rock ‘n roll. Waktu itu, anak-anak muda perkotaan memang senang yang demikian,” ucap dia.

Gugum menjelaskan, pada zaman itu, penduduk Kota Bandung terdiri dari dua bagian, yakni komunitas utara dan komunitas selatan. Batasnya adalah rel kereta api. “Sebenarnya, saya berasal dari komunitas selatan yang identik dengan cap ‘kampungan’,” ujar Gugum.

**

MUSIBAH besar terjadi. Pemerintahan Soekarno melarang warga untuk melaksanakan segala kegiatan yang berbau asing, termasuk kesenian. “Terus terang, saya jadi pusing. Harus gimana ya. Sementara, kaki dan tangan saya gemetaran. Telinga pengen dengar chacha dan rock ‘n roll. Setelah berpikir, saya putuskan untuk kembali ke etnik, kembali ke rumah. Kemudian, saya perdalam, saya luluh ke dalam kesenian Sunda. Kembali kepada gerak-gerak silat, ketuk tilu, dan sebagainya,” katanya.

Gugum sempat disuruh sang ayah bertandang ke rumah uwak, di Sumedang. Kebetulan, kakak ayahnya itu adalah tokoh Tari Tayub. “Tak lama, saya kembali. Saya bilang ke ayah, ini mah yang anak muda tidak mau. Kalau silat, masih mau. Tapi, tidak mau ibing kembang. Pengennya ibing eusi aja,” ungkapnya.

Sang ayah kemudian meminta Gugum memperlihatkan tarian yang disenanginya. Lalu, Gugum memperlihatkan gerakan-gerakan chacha. “Ayah saya bilang, wah ini mah kayak monyet. Saya ditendang. Ketika saya bilang chacha untuk pergaulan, ayah langsung marah, pergaulan apa, jelek begitu! Lalu, ayah memperlihatkan kepada saya gerakan-gerakan, terutama untuk memikat perempuan di lantai dansa,” katanya.

Tahun 1967, Gugum memutuskan untuk berkunjung ke kantong-kantong kesenian tradisi di seantero Jawa Barat. Dia berbekal sepucuk surat dari sang ayah. “Saya mulai dari daerah-daerah di sekitar Bandung, seperti Majalaya, Ciparay. Lebih dari 40 tokoh saya temui. Enaknya, saya nanya langsung prung. Dengan demikian, saya segera bisa merasakan apakah ia tokoh atau bukan. Lagi pula, seluruh gerakan diperlihatkan kepada saya,” tutur Gugum.

Dari perjalanan itu, Gugum menemukan banyak hal. Mengenai jurus-jurus silat, mengenai ketuk tilu, ronggeng, topeng, tayub, bangreng, hingga kunthulan. “Singkatnya, saya kemas gerakan-gerakan itu untuk menjadi tarian. Saya obrolkan dengan senior dan guru. Akhirnya, gerakan-gerakan itu disetujui. Waktu gerakan tercipta, saya belum memiliki musiknya,” ujarnya.

Suatu ketika, Gugum diundang oleh salah seorang gurunya untuk menyaksikan kesenian topeng Banjet. Di situ, Gugum menyaksikan seorang penabuh kendang nan piawai. “Tabuhannya, dari matra ke matra, tidak lagi terikat dengan pakem tradisional. Saya ambil dia untuk digabungkan dengan ensambel gamelan. Sampai di sini, sudah banyak yang menentang. Singkat cerita, musik pengiring tercipta. Demikian juga dengan juru kawih. Tapi, saya belum siap melemparnya ke publik,” katanya.

Rupanya, gerakan Gugum diketahui oleh sebuah lembaga. Lembaga itu meminta Gugum mementaskan karyanya ke Festival Folklor Asia di Hongkong. “Kita seadanya saja tampil. Tapi, mendapat sambutan luar biasa. Kita kembali, ada sebuah seminar yang membahas karya saya ini. Luar biasa pula sambutannya. Tapi, saya harus menerima konsekuensi. Dihina, dicaci-maki, bahkan dilarang mentas melalui keputusan gubernur. Saya berhadapan dengan berbagai pihak. Berat bagi saya. Tapi, untunglah, akhirnya, semuanya selesai. Jaipong lahir,” ungkap Gugum Gumbira.***

Iklan
h1

Aktor, di Dalam dan di Luar Panggung

September 18, 2007

Oleh : Ahda Imran

PIANO memainkan nomor “Polonaise” karya Fredrick Chopin. Pertunjukan pun dimulai. Lampu dipadamkan, redup, dan penonton bertepuk tangan. Robert (Mohamad Sunjaya) dan John (Wrachma Rachladi Adji) muncul di ruang kostum (rias). Robert, aktor tua itu, menggerutu ihwal penonton pertunjukan yang baru saja selesai mereka mainkan. Namun, sambil membersihkan make-up dan mengganti kostum, kedua aktor itu tetap merasa puas. Pertunjukan berlangsung dengan sukses meski keduanya berbeda pendapat tentang adegan terakhir.

Sampai di sini jelas, baru saja terjadi peristiwa menarik yang mengaburkan batas antara awal dan akhir sebuah pertunjukan teater. Suara piano, lampu yang padam, dan kemudian redup, bagi penonton adalah intro pertunjukan yang karena itu mereka bertepuk tangan sebagaimana lazimnya. Ternyata, dalam plot narasi pertunjukan itu sendiri di pentas, tepuk tangan penonton tersebut bukanlah awal pertunjukan, melainkan akhir dari sebuah pertunjukan. Dengan kata lain, tepuk tangan penonton demi menyambut awal pertunjukan, dipakai sebagai akhir dari pertunjukan yang baru saja dimainkan oleh Robert dan John. Maka, tepuk tangan penonton itu agaknya bisa dimaknai dari dua hal; di luar dan di dalam peristiwa teater. Ada pertunjukan dalam pertunjukan.

Inilah awal yang disuguhkan oleh mainteater dan Actor UnLimited (AUL) dalam produksi bersama mereka “Kehidupan di Teater” karya David Mamet, dengan sutradara Wawan Sofwan di Auditorium Pusat Kebudayaan Prancis (CCF) Bandung, 7-8 September 2007 pekan lalu.

Lakon yang bertutur tentang kesunyian Robert (Mohamad Sunjaya), seorang aktor tua di tengah persahabatannya dengan aktor muda berbakat John (Wrahma Rachladi Adji) ini, agaknya memang diniatkan untuk mengurai batas antara realitas di dalam dan di luar teater, sehingga keduanya luluh namun sekaligus juga tetap merawat identitasnya sebagai sebuah pertunjukan.

Dari awal hingga akhir, dengan rangkaian adegan-adegan pendek yang stacato atau menyerupai mozaik, pertunjukan bergerak dengan gagasan membawa seluruh bagian yang ada dalam kehidupan teater ke pentas. Sebutlah ruang rias/kostum. Ruang ini dihadirkan ke pentas dalam dua pemaknaan; sebagai ruang bagi Robert dan John dalam narasi pertunjukan dan juga sebagai ruang bagi kedua aktor yang memainkannya. Artinya, ruang itu menjadi bagian utuh dari peristiwa di dalam dan di luar pertunjukan.

**

NAMUN, pusat dari seluruh gagasan ini adalah pengaburan batas antara tokoh yang diperankan dan aktor yang memerankannya. Paling tidak kesan itulah yang ingin dimunculkan, sehingga terjadi pengaburan batas antara identitas Robert dan Mohamad Sunjaya (Kang Yoyon). Kedua identitas itu dipertemukan agar sekurang-kurangnya orang menjadi tergerak untuk menemukan adanya sisi hubungan di antara keduanya. Bahkan lebih jauh, orang tergoda untuk bertanya, siapa memerankan siapa; apakah Kang Yoyon yang memerankan Robert, atau Robert yang berperan sebagai Kang Yoyon?

Pertanyaan tersebut muncul tidaklah cukup karena pemakluman bahwa

pertunjukan itu memang diniatkan untuk mensyukuri 70 tahun usia Kang Yoyon, aktor teater paling senior di Indonesia itu. Sebab lain, karena adanya dua biografi yang sama antara Robert dan Kang Yoyon; dua orang aktor yang hidup di masa tuanya seraya tetap bersikukuh mencintai panggung teater. Kehadiran John (Wrachma), aktor muda berbakat dan penuh semangat masa depan, bisa dipahami sebagai representasi dari waktu yang membawa kesadaran pada keduanya ihwal kesunyian.

Tak hanya itu. Kesatuan hubungan antara realitas Robert dan Kang Yoyon juga terasa dari sudut perwatakannya. Dari mulai perhatiannya pada detail segala sesuatu, caranya memandang permasalahan, hingga situasi emosionalnya. Termasuk bagaimana Kang Yoyon melakukan improvisasi dialog menegaskan hubungan biografisnya dengan Robert. Sembari memuji masakan yang tengah dimakannya, Kang Yoyon menyebut “restoran Mister Sung dekat hospital”. Bagi mereka yang mengenal nama dan tempat yang disebutnya akan paham bahwa itu tentu tak ada dalam naskah. Namun, ini makin menegaskan jawaban atas pertanyaan siapakah sebenarnya Robert.

Meski pada batas-batas tertentu Robert bukanlah Kang Yoyon, namun

kesunyian dan kesepian Robert yang amat mengharukan itu—terutama dalam adegan akhir ketika ia berdiri di pentas sambil mengucapkan terima kasih pada penonton di gedung pertunjukan yang kosong– sayup-sayup membawa ingatan pada apa yang pernah diungkapkan Kang Yoyon dalam sebuah wawancara. “Sepi itu sering mengintip saya di toko-toko buku. Bahkan mengejar saya ketika saya berlari. Sepi seperti mengikuti saya ketika saya berada di atas kereta. Sepi itu sesuatu yang licik. Itu sering saya alami” (Pikiran Rakyat 18 Agustus 2002).

Kesunyian seorang lelaki tua di penghujung kariernya sebagai aktor tentu dengan mudah mengingatkan kita pada tokoh Vasilli Vasillich dalam “Nyanyian Angsa” karya Anton Chekov. Bedanya, jika dalam “Nyanyian Angsa” konflik Vasilli Vasilliich dengan kesunyiaan eksistensialnya itu ia ledakan keluar, maka tokoh Robert dalam “Kehidupan di Teater” menarik kesunyian itu ke dalam dirinya. Tak ada ledakan, kecuali tangis yang diam-diam seperti ketika ia mengintip John berlatih.

Adanya kesan kuat hubungan antara biografi aktor (Kang Yoyon)

dengan tokoh yang diperankannya (Robert) tentu saja mengundang pertanyaan; apakah ini hanya sebuah kebetulan atau lakon tersebut memang sengaja diadaptasi dan diolah guna menjadikan pertunjukan tersebut sebagai “potret diri” kehidupan Kang Yoyon dalam konteks mensyukuri 70 tahun usianya?

“Kecuali adaptasi setting dan penyebutan nilai uang, semua asli dari naskah David Mamet. Saya sudah lama mengincar naskah ini dan yang paling cocok memainkannya saya pikir adalah Kang Yoyon. Kebetulan momennya pas dengan syukuran 70 tahun usia beliau,” ujar sutradara Wawan Sofwan.

Hubungan antara Robert dan Kang Yoyon memang menarik, namun sekaligus juga membuat pertunjukan itu hadir dengan semacam beban biografis yang menggeser fokus dan maknanya an sich sebuah pertunjukan, terutama bagi mereka yang mengenal dekat Kang Yoyon. Akan tetapi, agaknya beban biografis itu tidak akan dirasakan oleh mereka yang memang tidak mengenal Kang Yoyon. Mau tak mau, antara mereka yang mengenal dan tidak mengenal sosok Kang Yoyon, terdapat cara pandang berbeda dalam menikmati pertunjukan tersebut.(sumber Pikiran Rakyat)***

h1

Sumiyem Menantikan Ramadhan…

September 18, 2007

sumiyem-dagang.jpg

Jalan kaki seharian sambil gendong puluhan kilogram buah bukan hambatan bagi Sumiyem untuk  berpuasa. Ia sangat menantikan momen penuh rahmat itu.
Namun ia sedih. Baru saja ia kehilangan uang Rp50.000, suatu jumlah yang besar untuk  ukurannya. “Tadi saya sudah hitung ada Rp250.000. Sekarang kok tinggal Rp200.000. Cari uang Rp 50.000 kan susah om,” katanya dengan raut wajah lesu. 

Ia coba mengingat-ingat. “Apa saya keliru memberi kembalian ya? Tadi ada orang belanja pakai uang seratus ribu. Kalau jatuh dari sini (dompet lusuh yang selalu diselipkan pada kain panjang yang digunakan untuk mengendong keranjang) tidak mungkin,” katanya lagi.

Ia menjadi bersemangat begitu topik pembicaraan beralih ke soal Ramadhan dan puasa. “Bulan puasa saya tetap jualan. Isya Allah saya kuat, biasanya saya kuat. Pas puasa nanti kan musim mangga,” kata perempuan pedagang buah gedong asal Salatiga, Jawa Tengah, itu saat ditemui di Pejaten, Pasar Minggu, Jakarta Selatan, pekan lalu.

Sore itu dagangan Sumiyem tinggal sedikit: hanya ada dua buah melon dan tiga bundel kelengkeng ukuran setengah kilogram. “Melonnya manis, Rp8.000 aja. Kelengkeng Rp 7.000 atau Rp6.000 aja asal ambil semuanya,” katanya. Kalau saja tidak ada cerita uang hilang, hari itu ia memeroleh sedikit untung. 

Sumiyem sudah berjalan kaki seharian untuk menjajakan dagangannya. Pagi-pagi ia belanja aneka buah di Pasar Induk Kramat Jati, Jakarta Timur. “Sehari biasanya belanja 50 kilogram atau sekitar Rp200.000,” katanya. 

Dari Pasar Induk ia naik angkutan umum ke Pasar Minggu. Dari situ ia lalu menelusuri gang. Sebelum jembatan gantung yang menghubungkan daerah Condet dan Pasar Minggu di Sungai Ciliwung putus akibat banjir pada Februari lalu, ia berjalan kaki dari Kramat Jati ke Pasar Minggu. “Jembatannya belum diperbaiki, jadi harus naik angkot, sehari habis Rp4.000,” katanya.

***

Begitulah rutinitas Sumiyem setiap hari. “Ini berjuang demi anak,” katanya. Anaknya tiga orang. Dua orang masih duduk di sekolah menegah atas, satu sudah lulus. Ketiga anak bersama suaminya, seorang petani penggarap, tinggal di Salatiga.
Di Jakarta ia berjuang sendiri. Tempat tinggalnya di sebuah gang buntu di bibir Sungai  Ciliwung, daerah Pasar Minggu. “Kalau hujan besar, kontrakan kami kebanjiran. Di sana tukang buah seperti saya banyak,” katanya.

Perjuangan Sumiyem mencari sesuap nasi dengan berjalan kaki sambil mengendong puluhan kilogram buah bukan halangan untuk tetap berpuasa. Ia menuturkan, berdasarkan pengalaman tahun-tahun sebelumnya, ia menunaikan ibadah puasa secara tuntas. “Biasanya tidak pernah bolong (setiap hari berpuasa), kecuali kalau ada tamu (haid), kalau perempuan kan suka ada tamu,” katanya sambil tersenyum. 

Kisah Sumiyem barangkali merupakan potret kehidupan banyak orang di Ibukota dan di pelosok negeri ini. Bagi banyak pekerja sektor informal, yang pendapatannya cukup untuk hidup sehari, seperti pemulung, pedagang keliling yang berjalan kaki, kuli bangunan, kuli angkut atau petani, pekerjaan fisik yang berat bukan halangan untuk berpuasa. Meski hidupnya sepanjang hari sudah merupakan ’penderitaan’ tersendiri mereka tetap menantikan Ramadahan dalam sukacita dan menjalan ibadah puasa dengan penuh hikmat.

Kata Sumiyem, tidak ada masalah antara berjalan kaki berjam-jam sambil gendong buah dengan ibadah puasa. “Dijalani aja, buktinya saya bisa selama ini,” katanya.
Andre Moller, peneliti asal Swedia dengan disertasi tentang Ramadahan di Jawa menulis, salah satu ciri khas Ramadhan di Indonesia adalah minat dan rasa gembira yang mengiringi bulan puasa. Minat itu, kata Moller, dapat dilihat di bulan Sya’ban ketika orang- orang Islam membuat berbagai acara untuk menyambut bulan penuh berkah ini.
“Sekolah-sekolah dan TK-TK membuat arak-arakan keliling kota, pusat belanja
memberikan tawaran menarik, di rumah-rumah diadakan ritus khusus berupa ruwahan, dan kuburan-kuburan padat dikunjungi orang. Semua kegiatan ini berdasarkan kegembiraan atas izin-Nya ketemu bulan suci ini lagi,” tulis Muller (Bentara, 2 Feruari 2005).

Minat yang besar dan rasa gembira yang berkobar boleh jadi membuat orang mampu menjalankan puasa meski kondisi tampak demikian sulit. Menghindari makanan dan minuman selama kurang lebih 13 jam sehari selama bulan puasa tentu saja cukup berat. Namun, menurut pandangan orang Islam, ada imbalan yang jauh melebihi penderitaan pendek itu.
Selamat menunaikan ibadah puasa!***(sumber KCM)

h1

”Festival Penyair Nasional FKY XIX 2007” Lagi,

September 18, 2007

afrizal.jpg

TIGA puluh orang penyair berkumpul di Yogyakarta, tanggal 23-24 Agustus 2007 lalu. Mereka datang dari Medan, Payakumbuh, Pekanbaru, Batam, Serang, Jakarta, Bandung, Tasikmalaya, Cilacap, Madura, Surabaya, Gresik, Bali, NTB, Banjarmasin, Makassar, dan Yogyakarta sendiri. Para penyair itu diundang oleh Divisi Sastra “Festival Kesenian Yogyakarta (FKY) XIX” dalam tajuk program Festival Puisi Nasional, dengan mengusung tema “Puisi, Regenerasi, dan Masa Depan Keberagaman”. Pada acara tersebut diterbitkan buku Tongue in Your Ear, berisi esai karya-karya para penyair yang diundang dan mereka tampil membaca puisi selama dua malam di Sasono Siti Hinggil. Selain itu, digelar diskusi sastra. Diskusi diikuti seluruh penyair dan publik sastra Yogyakarta. Tema diskusi cukup menarik, yakni “Spirit Penciptaan dan Perlawanan: Menggugat Politik-Estetik Sastra Dekaden, Membangun Spirit Penyair Independen”. Seperti termaktub dalam pengantar kurator/editor, Saut Situmorang dan Raudal Tanjung Banua, pihak yang dominan bisa jadi media massa, komunitas, kritikus, wilayah/kota, lembaga kesenian, jaringan, program atau bahkan sistem. Pada satu sisi keberadaan “mereka” memang membawa dampak positif, namun di sisi yang lain menciptakan subjektivitas yang mendalam terhadap pelaku/karya yang ada, terutama dalam ranah politik sastra. Pengantar Saut Situmorang dan Raudal Tanjung Banua inilah yang menjadi hulu perbincangan dalam dua sesi diskusi di Ruang Seminar Taman Budaya Yogyakarta (24/8). Sebuah hulu perbincangan yang sebenarnya dengan mudah mengingatkan orang pada sejumlah perdebatan yang pernah terjadi seputar asumsi-asumsi ihwal dominasi dan hegemoni dalam politik sastra di Indonesia. Entah itu di awal tahun 1970-an yang melahirkan peristiwa Pengadilan Puisi, hingga di tahun 1990-an dengan isu Revitalisasi Sastra Pedalaman (RSP), sebagai reaksi perlawanan sejumlah sastrawan di berbagai daerah terhadap dominasi Jakarta sebagai pusat. ** BAHWA sayup-sayup forum diskusi “Festival Penyair Nasional FKY XIX” ini mengembuskan semangat Pernyataan Sikap Temu Komunitas Sastra Se-Indonesia (Ode Kampung II), yang diadakan di Serang Banten, 20-22 Juli 2007, yakni perlawanan terhadap dominasi sebuah komunitas sastra, agaknya kesan yang sukar dielakkan. Namun, diskusi sesi pertama berlangsung dingin dan hambar. Alih-alih bergerak langsung ke arah isu dominasi politik sastra dengan menunjuk sebuah komunitas, Afrizal dan Acep, meminjam ungkapan Wowok Hesti Prabowo, lebih banyak berbicara ihwal diri mereka sendiri. Jika Acep lebih banyak memaparkan proses kepenyairannya yang terkesan santai seraya di sana sini menceritakan pengalaman-pengalaman uniknya sebagai penyair di tengah masyarakat, Afrizal Malna bertutur panjang ihwal bagaimana kehadirannya sebagai penyair berlangsung dalam ruang yang penuh dengan ketegangan. “Saya tidak lagi percaya bahwa kesenian itu tulang punggung kebudayaan. Saya juga tidak lagi percaya bahwa sastra itu tulang punggung bahasa. Politik dan ekonomi hari ini jangan-jangan sebenarnya adalah tulang punggung kebudayaan. Ini berpengaruh besar pada politik sastra kita. Sejak Lekra, pergaulan politik kebudayaan kita tidak semakin maju. Politik sastra lebih dibaca sebagai politik kekuasaan. Saya tidak mau terlibat dengan politik kebudayaan seperti itu. Saya melakukan perlawanan perempuan di tengah kondisi yang harus dipecahkan. Perempuan itu menggunting, memecahkan, menjahit, dan menyatukannya kembali, tanpa membuang,” paparnya. Ada yang menarik dari pandangan penyair yang menyebut dirinya bukanlah bagian dari komunitas sastra Indonesia ini, yakni ia memandang betapa sastra Indonesia telah kehilangan sebuah generasi yang seharusnya sudah lahir. Generasi itu tak pernah lahir karena ternyata budaya lisan lebih dulu diterima ketimbang kualitas. Orang merasa punya eksistensi kalau sudah jadi bagian dari komunitas sastra Indonesia. Tiap penyair muncul, tetapi tidak dengan penawaran kualitas karya. Oleh karena itulah, ia percaya bahwa generasi yang cemerlang adalah mereka yang tidak bergaul dengan sastra Indonesia. Untuk menjadi cemerlang, sebaiknya seseorang harus keluar dari pergaulan sastra Indonesia. “Mainstream itu ada dalam kepala kita, bukan TUK,” katanya. ** BERBEDA dengan sesi pertama yang terasa hambar, sesi kedua diskusi terasa lebih “panas”. Ini tak lepas dari apa yang disampaikan oleh Wowok Hesti Prabowo sebagai pembicara, yang tanpa tedeng aling-aling “memprovokasi” forum diskusi dengan pandangan-pandangannya yang galak seraya menyebut TUK sebagai komunitas yang di matanya tak hanya telah mendominasi politik dan standar estetika sastra Indonesia, melainkan juga sebagai komunitas yang menurutnya adalah agen dari kebudayaan kapitalisme yang hendak menghancurkan nilai-nilai kebudayaan Indonesia. Termasuk dengan pemujaan kebebasan bereskspresi yang ujung-ujungnya adalah eksploitasi seksual dalam karya sastra. Perdebatan mulai muncul ketika Gus Tf menanggapi spirit perlawanan yang diembuskan Wowok lewat buletinnya Boemi Poetra. Dalam pandangan Gus Tf, perlawanan itu bisa saja dilakukan sebagai bagian dari dialektika pemikiran. Namun, bagaimana perlawanan itu dilakukan adalah soal yang lain. Terutama ia mengkritisi bahasa yang digunakan dalam buletin Boemi Poetra, yang dalam pandangan Gus Tf menggunakan bahasa yang kasar dan tidak menggunakan etika. Di tengah kalimat Gus Tf inilah Saut Situmorang sebagai moderator, memotong dengan semacam “pembelaan” bahwa di Eropa banyak bahasa seperti itu bukanlah sesuatu yang aneh dan tak pernah dipermasalahkan. “Itu kan di Eropa, sedangkan yang dimaksud Wowok tadi kan nilai-nilai yang ada di Indonesia,” sanggah Gus Tf. Terhadap pandangan Gus Tf, Wowok memiliki alasannya sendiri mengapa buletin itu menggunakan bahasa-bahasa semacam itu. “Apakah Ayu Utami dan sastrawan-sastrawan komunitas TUK yang mengumbar kelamin dalam karya mereka memakai etika?” Argumen Wowok mungkin benar, tetapi dengan ukuran apakah sebenarnya kita harus membandingkan etika dalam karya sastra dan etika dalam penulisan sebuah buletin? Lepas dari sejumlah perdebatan di forum diskusi, para penyair tetap bersemangat tampil membacakan karya mereka dengan berbagai gaya pemanggungan. Dari mulai dendang Minangkabau Irwan Syah (Jakarta), Tan Lio Ie (Denpasar) yang tampil dengan gitar dan menyanyikan puisinya, hingga Thompson Hs (Medan) yang membawa gitar Batak. Terakhir Saut Situmorang mengatakan bahwa “Festival Puisi Nasional FKY 2007” ini berhasil membentuk Forum Sastrawan Indonesia, yang akan diresmikan pada pertemuan pertamanya di Jambi bulan Mei 2008 mendatang. (Ahda Imran. sumber Pikiran Rakyat)***