h1

Jaipong Nyaris Bernama Bojongan

September 18, 2007

Oleh :Hazmirullah/”Pikiran Rakyat”

 jaipongan.gif

NAMA jaipong saya dengar ketika menyaksikan topeng banjet di Bekasi. Pada sesi melawak, ada ungkapan, ja ipong…prak ping pung…ja ipong. Saya sempat tanya, apa ada yang punya istilah itu. Ternyata tidak punya. Kemudian saya putuskan, karya tari saya dinamakan jaipong.” Demikian dikatakan Gugum Gumbira ketika menuntaskan kisah perjalanan keseniannya dalam mencipta jaipong.

Kisah itu dituturkannya kepada khalayak dalam seminar bertajuk “Seni Pertunjukan di Tatar Sunda”, di Gedung Lengkung Sekolah Pascasarjana Universitas Gadjamada Yogyakarta, Rabu (5/9) lalu. Acara itu merupakan rangkaian kegiatan bertajuk “Gelar Seni Budaya Sunda” yang digagas Hapsari: Ajang Kreasi Seni Tradisi Indonesia. “Terus terang, saya reuwas berada di sini. Saya bukan berasal dari kalangan akademisi. Lagi pula, saya tidak biasa membicarakan kesenian di tempat seperti ini,” tuturnya, dalam litotes.

Membicarakan jaipong, memang, tak akan lengkap jika tidak membicarakan sosok Gugum Gumbira. Ternyata, proses penciptaan jaipong begitu panjang dan melelahkan. Penuh intrik dan berbalut penistaan dan caci-maki. Siapa sangka kemudian, jaipong menjadi gebrakan ketiga dalam khazanah seni tari Sunda.

Gugum Gumbira mengaku sempat bingung mencari nama untuk karya seni tari yang diciptakannya itu. Ia sempat hendak menggunakan istilah “ketuk tilu perkembangan”. Tapi, ia takut dimarahi oleh seniman ketuk tilu. “Sebab, sejak awal, kesenian yang saya buat sudah dicap kesenian haram jadah. Makanya, niat untuk menggunakan nama itu saya urungkan. Kemudian, sempat muncul pula ‘bojongan’. Kata ini saya ambil karena tempat tinggal saya di Bojongloa,” tutur Gugum, seniman kelahiran Bandung April 1945 itu.

**

GUGUM lahir di lingkungan keluarga yang senang dengan kesenian tradisi Sunda, terutama silat. Sang ayah adalah seorang guru silat. “Karenanya, sejak kecil, saya sudah akrab dengan silat. Saya sering ditanya ayah mengenai nama dan kegunaan jurus-jurus silat. Kalau tidak tahu, saya langsung dipukul,” katanya mengenang.

Saat kelas 5 SD, kata Gugum, dirinya diajak sang ayah berkeliling dari satu perguruan ke perguruan lainnya. Tujuannya melihat secara langsung, sekaligus menyesuaikan, gerakan-gerakan silat yang sudah diterimanya. “Dari sana saya tahu bahwa gerakan-gerakan silat yang ditampilkan tak memiliki pola tertentu. Semua tergantung kita. Akan tetapi, tetap ada frame-nya. Penggunaan jurus harus tepat,” katanya.

Semasa SMP, Gugum tetap akrab dengan kesenian tradisi Sunda. Ia bersekolah di dekat Stasiun Bandung. Kebetulan, tak jauh dari sana, ada sebuah “warung” yang kerap menggelar pertunjukan longser. “Ketika masuk SMA, pergaulan saya berubah. Saat itu, saya bergaul dengan anak-anak dari kalangan the haves. Selera seni saya pun berubah. Saya akrab dengan chacha dan rock ‘n roll. Waktu itu, anak-anak muda perkotaan memang senang yang demikian,” ucap dia.

Gugum menjelaskan, pada zaman itu, penduduk Kota Bandung terdiri dari dua bagian, yakni komunitas utara dan komunitas selatan. Batasnya adalah rel kereta api. “Sebenarnya, saya berasal dari komunitas selatan yang identik dengan cap ‘kampungan’,” ujar Gugum.

**

MUSIBAH besar terjadi. Pemerintahan Soekarno melarang warga untuk melaksanakan segala kegiatan yang berbau asing, termasuk kesenian. “Terus terang, saya jadi pusing. Harus gimana ya. Sementara, kaki dan tangan saya gemetaran. Telinga pengen dengar chacha dan rock ‘n roll. Setelah berpikir, saya putuskan untuk kembali ke etnik, kembali ke rumah. Kemudian, saya perdalam, saya luluh ke dalam kesenian Sunda. Kembali kepada gerak-gerak silat, ketuk tilu, dan sebagainya,” katanya.

Gugum sempat disuruh sang ayah bertandang ke rumah uwak, di Sumedang. Kebetulan, kakak ayahnya itu adalah tokoh Tari Tayub. “Tak lama, saya kembali. Saya bilang ke ayah, ini mah yang anak muda tidak mau. Kalau silat, masih mau. Tapi, tidak mau ibing kembang. Pengennya ibing eusi aja,” ungkapnya.

Sang ayah kemudian meminta Gugum memperlihatkan tarian yang disenanginya. Lalu, Gugum memperlihatkan gerakan-gerakan chacha. “Ayah saya bilang, wah ini mah kayak monyet. Saya ditendang. Ketika saya bilang chacha untuk pergaulan, ayah langsung marah, pergaulan apa, jelek begitu! Lalu, ayah memperlihatkan kepada saya gerakan-gerakan, terutama untuk memikat perempuan di lantai dansa,” katanya.

Tahun 1967, Gugum memutuskan untuk berkunjung ke kantong-kantong kesenian tradisi di seantero Jawa Barat. Dia berbekal sepucuk surat dari sang ayah. “Saya mulai dari daerah-daerah di sekitar Bandung, seperti Majalaya, Ciparay. Lebih dari 40 tokoh saya temui. Enaknya, saya nanya langsung prung. Dengan demikian, saya segera bisa merasakan apakah ia tokoh atau bukan. Lagi pula, seluruh gerakan diperlihatkan kepada saya,” tutur Gugum.

Dari perjalanan itu, Gugum menemukan banyak hal. Mengenai jurus-jurus silat, mengenai ketuk tilu, ronggeng, topeng, tayub, bangreng, hingga kunthulan. “Singkatnya, saya kemas gerakan-gerakan itu untuk menjadi tarian. Saya obrolkan dengan senior dan guru. Akhirnya, gerakan-gerakan itu disetujui. Waktu gerakan tercipta, saya belum memiliki musiknya,” ujarnya.

Suatu ketika, Gugum diundang oleh salah seorang gurunya untuk menyaksikan kesenian topeng Banjet. Di situ, Gugum menyaksikan seorang penabuh kendang nan piawai. “Tabuhannya, dari matra ke matra, tidak lagi terikat dengan pakem tradisional. Saya ambil dia untuk digabungkan dengan ensambel gamelan. Sampai di sini, sudah banyak yang menentang. Singkat cerita, musik pengiring tercipta. Demikian juga dengan juru kawih. Tapi, saya belum siap melemparnya ke publik,” katanya.

Rupanya, gerakan Gugum diketahui oleh sebuah lembaga. Lembaga itu meminta Gugum mementaskan karyanya ke Festival Folklor Asia di Hongkong. “Kita seadanya saja tampil. Tapi, mendapat sambutan luar biasa. Kita kembali, ada sebuah seminar yang membahas karya saya ini. Luar biasa pula sambutannya. Tapi, saya harus menerima konsekuensi. Dihina, dicaci-maki, bahkan dilarang mentas melalui keputusan gubernur. Saya berhadapan dengan berbagai pihak. Berat bagi saya. Tapi, untunglah, akhirnya, semuanya selesai. Jaipong lahir,” ungkap Gugum Gumbira.***

Iklan

2 komentar

  1. nama saya faras siswa kelas 3 smk yadika 6 bekasi saya juga penggemar tari daerah meski saya laki2 saya senang budaya indonesia,,, apabila ada perlu dengan saya bisa kirim surat ke alamat Gg. Rambutan 1 Rt 001/11 jati mekar bekasi, 17422 atas nama (Surasman)


  2. ini ada penjelasan tarian daerah engga?



Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: