Archive for Juli, 2008

h1

Akrobat Kata-kata

Juli 28, 2008

F Rahardi

Dalam acara Temu Sastra, Masyarakat Sastra Asia Tenggara di Palangkaraya, Kalimantan Tengah, 14 Juli lalu, cerpenis Hamsad Rangkuti membuat pernyataan bahwa ”Pengarang muda cenderung berakrobat kata-kata”.

Dampak dari akrobat kata-kata ini—masih menurut Hamsad—akan membuat tema karya sastra (prosa) menjadi tersembunyi, bahkan hilang (Kompas, 15/7). Beberapa tahun lalu, Hamsad juga pernah membuat pernyataan yang kontroversial, bahwa sastra = kebohongan. Ketika itu saya mencoba meluruskannya, bahwa sastra yang lahir berdasarkan imajinasi, beda dengan kebohongan. Tulisan saya yang meluruskan Hamsad di Kompas ini kemudian dimuat dalam salah satu kumpulan cerpennya.

Kali ini pun, pernyataan Hamsad salah. Memang bahwa tren penulisan prosa dewasa ini cenderung mengutamakan style, menomorduakan tokoh, plot, dan setting. Secara otomatis tokoh, plot, dan setting bisa menjadi kabur, atau hilang sama sekali. Ini sebenarnya sudah dimulai oleh Iwan Simatupang pada tahun 1960-an. Tren seperti ini sebenarnya merupakan perkembangan sastra dunia dan terjadi secara alamiah. Dalam sastra klasik, misalnya Mahabharata, dan Ramayana, tokoh menjadi hal utama.

Kekuatan tokoh inilah yang secara otomatis menciptakan plot. Setting bisa dibuat di mana saja. Ketika epik ini disadur menjadi Parwa maupun Kakawin oleh para pujangga kita, setting India dipindah menjadi setting Jawa, dengan gunung, sungai, flora, dan fauna Jawa pula. Kekuatan epik asli bukan hilang, malahan justru bertambah. Pada perkembangan lebih lanjut, terutama pada prosa yang ditujukan semata-mata sebagai hiburan, plot menjadi hal utama. Tokoh diciptakan demi kelancaran plot. Itulah yang terjadi pada ”sastra sinetron kita”.

”Style” bukan akrobat

Dalam acara-acara seperti di Palangkaraya itu, seyogianya Hamsad cukup bercerita, bagaimana proses kreatifnya berlangsung. Ini tidak akan pernah salah dan akan sangat bermanfaat bagi publik sastra. Style dalam prosa bukan sebuah akrobat kata-kata. Hari Minggu (13/7), Kompas memuat cerpen Triyanto Triwikromo, Dalam Hujan Hijau Friedenau; dan esai Afrizal Malna, Kota yang Tenggelam dalam Seribu Karangan Bunga. Cerpen dan esai inilah, dugaan saya, yang membuat Hamsad melontarkan ”Akrobat Kata-kata” itu.

Kekuatan cerpen Triyanto, dan esai Afrizal, justru pada style. Tema (materi) yang digarap oleh cerpenis dan penyair dalam cerpen dan esai ini justru tampil sangat kuat. Bukan tersembunyi, atau malahan hilang. Yang hilang (atau kabur), hanya tokoh, plot, mungkin juga setting. Menguatnya style dalam karya sastra memang selalu secara otomatis disertai oleh menguatnya semacam ”pesan”, atau istilah Hamsad tema. Kekuatan novel Saman karya Ayu Utami juga pada style, berupa pencapaian keterampilan linguistik, yang sekaligus juga menguatkan tema.

Eksplorasi terhadap style ini telah mengakibatkan prosa menjadi seperti puisi, puisi menjadi seperti esai, dan esai menjadi semenarik cerpen. Sekat antara prosa, puisi, dan esai menjadi cair. Hal serupa juga terjadi pada seni rupa. Pelukis, pematung, pegrafis konvensional tetap eksis. Tetapi lahir genre ”perupa”, yang karya utamanya bukan lukisan, bukan patung, dan bukan grafis. Kadang karya para perupa ini disebut seni instalasi, kadang disebut pop art, ada pula yang punkist.

Kembali ke sederhana

Eksplorasi sangat diperlukan, untuk menembus kebekuan, kejenuhan, kemandekan, dan sebutan lainnya. Eksplorasi akan menghasilkan energi ekstra, menimbulkan kesegaran, menghilangkan kantuk. Istilah Hamsad ”Akrobat Kata-kata” sebenarnya sangat tepat asalkan jangan ditambahi dengan teori sastra, yang tidak dia kuasai dengan baik. Akrobat memang menimbulkan dinamika yang sangat menarik. Baik bagi para pelaku akrobat sendiri maupun bagi para penonton.

Ketika eksplorasi sampai ke titik sublim, seniman akan kembali sederhana, kembali rendah hati, kembali menulis secara bersahaja, tetapi dengan kekuatan luar biasa. Sutardji yang mengeksplorasi kata habis-habisan, akhirnya sampai ke: Kalian – Pun! Sitor Situmorang sampai ke: Malam Lebaran – Bulan di atas kuburan. Ketika semua orang duduk-duduk santai menikmati gamelan atau musik klasik, akrobat dengan iringan musik mars, akan sangat menarik, akrobat akan menjadi tren.

Kalau akrobat laku, semua akan berakrobat. Istilah yang kalau tak salah pernah disampaikan Bre Redana, dan juga Bambang Bujono: ”Semua mengAfrizal”. Dan ketika semua orang bermain akrobat, dengan iringan musik yang ramai, maka beberapa orang yang duduk tenang di pinggir lapangan, justru akan kembali menjadi tontonan menarik. Lalu ketika semua orang berpura-pura menjadi sederhana, berpura-pura menulis Haiku, maka orang-orang kembali ngantuk. Ini hanya sebuah lingkaran siklus: thesis, sinthesis, dan antithesis.

”Jealous” pada yang ”muda”

Istilah ”pengarang muda” sebenarnya juga sebuah pelecehan. Tidak pernah ada pengarang muda, tidak pernah ada pengarang jompo. Kualitas karya tidak pernah paralel dengan usia. Chairil Anwar berkarya pada usia sangat belia, dan dia mati muda. Tetapi HB Jassin tidak pernah sekali pun menyebut Chairil sebagai ”penyair muda”. Dewan Kesenian Jakarta pernah ceroboh dengan membuat acara ”Penyair Muda di Depan Forum”, yang mendapat kritik tajam dari berbagai pihak pada tahun 1970-an.

Raja Dangdut Rhoma Irama seperti kebakaran jenggot ketika menyaksikan Inul Daratista bergoyang ngebor. Goyang Inul lalu dibantai habis-habisan dan dianggap sebagai ”porno aksi”, sebuah terminologi khas Indonesia, yang dengan gamblang menunjukkan kebodohan bangsa. Banyak kalangan yang membela Inul, dan mengatakan bahwa Rhoma Irama cemburu ketika ada penyanyi baru, yang tiba-tiba meroket. Saya menduga, ada unsur kecemburuan Hamsad pada generasi yang jauh lebih genius ini.

Dengan sangat terpaksa, saya kembali mengulang tulisan saya di ruangan ini, entah berapa tahun yang lalu. Hamsad sebaiknya mensyukuri bakat alam, kesederhanaan, dan kepiawaiannya mengolah itu semua, dengan cara yang sangat bersahaja. Kalau toh Anda tergoda untuk mengomentari Triyanto, dan Afrizal, bagus juga menyebut ”Akrobat Kata-kata”, tetapi cukuplah dengan ditambah: ”Akrobat kata-kata mereka memang hebat! Abang mana bisa kalau disuruh yang seperti itu!”

F Rahardi Penyair, Wartawan

(Sumber KOMPAS)

Iklan
h1

Menolak Kutukan Bangsa Kuli

Juli 28, 2008

Irwan Julianto

Nyinyir rasanya mengutip ucapan yang sudah puluhan, ratusan, atau malahan mungkin ribuan kali dilontarkan oleh Soekarno agar bangsa Indonesia jangan mau menjadi bangsa kuli dan menjadi kuli bangsa-bangsa lain.

Namun, ketika memberikan amanat pada peringatan Hari Pahlawan 10 November 1965 di Istana Negara, Soekarno justru pesimistis bahwa bangsa Indonesia telah menjadi bangsa yang dikhawatirkannya itu, the Indonesian people have become a nation of coolies and a coolie amongst nations. Soekarno mengatakan, ia mencupliknya dari seorang sarjana Belanda.

Berbagai penulis menyebut ucapan eine Nation von Kuli und Kuli unter den nationen itu aslinya dilontarkan oleh Helfferich, warga Jerman. Tidak jelas apakah ia adalah Emil atau Theodor Helfferich, dua orang Jerman bersaudara yang datang ke Pulau Jawa pada awal tahun 1900-an dan membeli tanah seluas 900 hektar di daerah Cikopo, Bogor, dan menjadikannya kebun teh. Tahun 1928, Emil dan Theodor kembali ke Jerman dan menyerahkan pengelolaan kebun teh kepada seorang warga Jerman lain. Kebun teh itu kemudian diambil alih Belanda tahun 1939 setelah Jerman menginvasi Belanda, tetapi tahun 1943 dikembalikan oleh tentara pendudukan Jepang kepada sekutunya, Jerman.

Jika benar yang mengucapkan kalimat ”bangsa kuli” itu adalah Emil atau Theodor Helfferich, tak jelas kapan diucapkan dan pada kesempatan apa. Hanya, menurut Soekarno, waktu itu bangsa Indonesia hidup dengan 2,5 sen seorang sehari sehingga tak bisa mempunyai rumah yang layak, tak bisa mengirim anak ke sekolah sehingga tetap akan menjadi bangsa kecil dan bodoh.

Pledoi Soekarno Indonesia Menggugat mencoba menjelaskan bahwa memang imperialisme Belanda membutuhkan bangsa Indonesia yang bodoh agar bisa diperlakukan sebagai kuli yang percaya bahwa hanya bangsa kulit putih yang mampu berbuat benar. Dalam perjalanannya, bangsa Indonesia seolah terjebak pada situasi self fulfilling prophecy, ramalan atau kutukan yang menjadi kenyataan. Menurut Hatta, seperti dikutip menantunya, Sri-Edi Swasono, stigma sebagai bangsa kuli yang inferior seolah dipercaya memang sudah suratan takdir oleh bangsa Indonesia sendiri dan hal ini dinilai Hatta sebagai ”kerusakan sosial” akibat penindasan VOC, cultuurstelsel, dan kebengisan dalam pelaksanaan Agrarische Wet 1870.

Jika Anda membaca buku tipis Jalan Raya Pos, Jalan Daendels (2005) karya Pramoedya Ananta Toer, ada kutipan ucapan ”Indonesia adalah negeri budak. Budak di antara bangsa dan budak bagi bangsa-bangsa lain” yang dicantumkan di awal pengantar penerbit dan pada sampul belakang, tetapi tak tercantum dalam isi buku. Itu tak lain adalah ucapan tokoh Minke (personifikasi tokoh pers nasional RM Tirto Adhisoerjo) dalam tetralogi Bumi Manusia. Pada saat bangsa Indonesia tahun ini memperingati 100 tahun Kebangkitan Nasional dan tepat 200 tahun mulai dibangun/dilebarkannya Jalan Pos Anyer- Panarukan oleh Gubernur Jenderal Belanda Herman Willem Daendels, penolakan terhadap ”kutukan” dan stigma ”bangsa kuli” menjadi relevan.

Sudah cukup banyak kisah tragis warga Indonesia yang tewas, dihukum mati, dipenjara, disiksa, dan diperkosa sebagai tenaga kerja di luar negeri. Kisah dramatis seperti yang dialami Nirmala Bonat hingga Ceriyati seperti tak ada habisnya diberitakan, tetapi tetap saja akan terjadi hingga kini dan mungkin belasan tahun ke depan. Impian Soekarno ketika merumuskan Pancasila tentang satu masyarakat bangsa dan tatanan dunia yang adil dan makmur tanpa exploitation de l’homme par l’homme agaknya bagaikan suatu utopia yang jauh dan nyaris muskil jadi kenyataan.

Apa sebab? Jawabnya dapat diterangkan oleh sebuah aksioma atau dalil yang pernah tercantum dalam buku teks ekologi Fundamentals of Ecology karya Eugene P Odum pada awal tahun 1970-an, ”Suatu ekosistem yang lebih tertata akan mengambil keuntungan dari ekosistem di sekitarnya yang kurang tertata.” Implikasinya, kota yang lebih tertata ketimbang desa akan menyedot sumber daya desa-desa di sekitarnya. Negara yang maju akan menyedot potensi negara-negara miskin dan sedang berkembang.

Sejarah umat manusia telah membuktikan, eksploitasi komunitas atau bangsa yang lebih kuat (secara militer, ekonomi, hingga teknologi, dan kemampuan sumber daya manusianya) terhadap komunitas-komunitas dan bangsa-bangsa lain telah terjadi sejak zaman prasejarah dan terus berlangsung hingga dewasa ini. Individu yang tak/kurang berdaya akan diperdaya dieksploitasi oleh individu yang licik dan culas. Para TKI (tenaga kerja Indonesia), khususnya para TKW (tenaga kerja wanita), adalah sasaran empuk eksploitasi, penipuan, hingga pemerkosaan para calo, perusahaan jasa tenaga kerja Indonesia (PJTKI) yang nakal, petugas pemerintah (kantor tenaga kerja, imigrasi, Deplu), biro penyaluran tenaga kerja di luar negeri, hingga majikan yang bengis. Apalagi, mayoritas pekerja migran Indonesia adalah pembantu rumah tangga yang kurang terampil.

Seperti halnya kekayaan hutan, tambang, dan lautan Indonesia yang menjadi sumber penjarahan pihak-pihak yang serakah, baik di dalam maupun di luar negeri, jutaan pekerja migran kita juga menjadi sumber korupsi.

Masuk di nalar kitakah jika penyusunan UU Pertambangan kita dibuat dan didiktekan sebuah negara asing dan dicantumkan dalam situs web mereka? Hasilnya, sewa lahan hutan lindung cuma beberapa ratus rupiah per meter persegi dan bisa disewa sampai 90 tahun!

Sesungguhnya, kedaulatan dan martabat kita sebagai negara dan bangsa merdeka perlu kita gugat lagi jika kita memang menolak menjadi kuli bangsa- bangsa lain!***

(SUMBER KOMPAS)