Archive for September, 2008

h1

Catatan Sejarah “Kantata Takwa”

September 1, 2008

Jogja-NETPAC Asian Film Festival (JAFF) ke-3 baru saja digelar di Yogyakarta, 9-13 Agustus. Terpilih sebagai film terbaik adalah ”Kantata Takwa” garapan duet sutradara Gotot Prakosa dan Eros Djarot.

Film semi-dokumenter tersebut berhak meraih Golden Hanoman Award, penghargaan untuk film Asia terbaik yang dikompetisikan dalam program Asian Feature Film di JAFF. Film ini mengalahkan Death in The Land of Encantos (karya sutradara Lav Diaz dari Filipina), yang terpilih sebagai pemenang Silver Hanoman Award; Fiksi (sutradara Mouly Surya/Indonesia); Raami (Babak Shirinsefat/Iran-Azerbaijan); dan Dreams From The Third World (Kan Lume/Singapura).

Selain Golden Hanoman Award, Kantata Takwa berhak mendapat Geber Award, yakni penghargaan film terbaik pilihan komunitas film (komunitas pembuat film dan penggemar film/kineklub) di Yogyakarta. ”Film ini adalah sebuah karya dokumentasi sosial monumental yang mewakili semangat zamannya dan masih relevan hingga saat ini. Film ini juga menggambarkan ketaatan dan kesetiaan dalam sebuah proses,” kata Abraham Mudito mewakili juri komunitas ini.

Dramatisasi konser

Sesuai dengan judulnya, inti film Kantata Takwa adalah rekaman konser Kantata Takwa yang digelar di beberapa kota di Indonesia pada periode 1990- 1994. Konser ini memiliki arti sangat penting, baik dalam sejarah musik Indonesia maupun dalam sejarah pergerakan nasional bangsa ini.

Di puncak kekuasaan rezim Orde Baru yang pekat dengan korupsi, kolusi, dan nepotisme serta represi terhadap segala bentuk kreativitas masyarakat yang dianggap membahayakan stabilitas nasional, sekelompok seniman meneriakkan ekspresi untuk melawan semua itu dalam sebuah konser kolosal yang dihadiri puluhan ribu penonton.

Kantata Takwa tak saja merekam potongan-potongan momen terpenting konser tersebut, tetapi juga berhasil merekam energi konser yang didukung para legenda musik Indonesia, seperti Iwan Fals, Sawung Jabo, Jockie Surjoprajogo, Donny Fatah, Embong Rahardjo, Totok Tewel, Innisisri, dan didukung oleh penyair WS Rendra dan pengusaha-musisi Setiawan Djody itu. ”Saya bukan orang Indonesia dan tak terlalu mengenal karya para musisi ini maupun merasakan apa yang terjadi pada masa itu, tetapi saya bisa memahami dan menangkap semuanya dari film ini,” ujar Katinka van Heeren, peneliti dari Universitas Leiden, Belanda, yang menjadi salah satu juri kompetisi JAFF.

Selain itu, film ini berusaha memberi bentuk lain film dokumenter dengan memasukkan adegan-adegan terskenario yang memberi konteks, visualisasi, dan dramatisasi terhadap isi setiap lagu yang dibawakan dalam konser. ”Saya dan Eros waktu itu tidak berniat membuat film dokumentasi, tetapi ingin lebih jauh dari itu. Yang kami lakukan sebenarnya adalah dokumentasi gagasan dari para pemrakarsa konser itu,” kata Gotot Prakosa, salah satu sutradara Kantata Takwa.

Film dibuka dengan adegan pengejaran beberapa orang berambut gondrong dan bertelanjang dada oleh sekelompok serdadu berjubah panjang dan mengenakan masker gas. Adegan ini menggambarkan represi aparat keamanan zaman Orde Baru terhadap para aktivis politik maupun seniman kritis era itu.

Setelah pembukaan itu, adegan beralih ke sebuah gubuk, tempat penyair WS Rendra terbangun gelisah di tengah malam dan menyitir salah satu puisinya yang berjudul ”Kesaksian”. Puisi ini, yang digubah menjadi salah satu lagu dalam konser Kantata Takwa, menjadi semacam ”benang merah” film dari awal hingga akhir.

Adegan-adegan pembuka tersebut sempat membuat saya berpikir film ini memiliki sebuah plot cerita utuh. Namun, pada perkembangannya, film ini hanya menampilkan potongan-potongan visualisasi isi dan lirik lagu digabungkan dengan potongan- potongan rekaman konser. Hanya adegan pengejaran ”aktivis” oleh ”tentara” yang terus ada sampai akhir.

Bahkan ada beberapa adegan yang terasa berpanjang-panjang, seperti saat Rendra membacakan sebuah puisi di dalam setting penjara. Meski begitu, ada beberapa adegan yang terasa kuat dan menggelitik, seperti saat Iwan Fals (masih gondrong, berkumis, dan telanjang dada) ngobrol dengan belasan anak kecil di tepi sungai sebelum menyanyikan Bento. Atau adegan dialog antara Iwan dan Sawung Jabo di tengah kegelapan yang memaknai lagu Hio.

Masih relevan

Menurut Gotot, penyelesaian film ini membutuhkan waktu 18 tahun karena terkendala masalah keuangan untuk menutup biaya pasca-produksi yang besar. Namun, terlepas dari masalah klasik tersebut, rilis Kantata Takwa pada tahun ini—saat peringatan 100 tahun Kebangkitan Nasional— menjadi sangat tepat.

Kita dapat menyaksikan betapa berbagai masalah yang disindir dan dikritik keras melalui film itu masih terasa relevan dengan kondisi bangsa saat ini. ”Delapan belas tahun sudah lewat, tetapi ternyata kondisi bangsa ini belum berubah,” tutur Gotot.

JAFF 2008 mengambil tema ”Metamorfosa”, dengan penekanan pada dua isu penting, yakni perubahan di Asia Tenggara dan korelasi antara Islam dan media. Menurut Presiden JAFF Garin Nugroho, kedua isu itu dipilih karena dalam kurun waktu lima tahun terakhir, Asia Tenggara mengalami perubahan sosial politik luar biasa, seiring dengan makin pentingnya pengaruh Islam di kawasan ini.***

sumber KOMPAS

Iklan