Archive for Maret, 2009

h1

Antara Secangkir Kopi, Pisang Goreng dan Situ Gintung

Maret 28, 2009

Secangkir kopi dan sepiring pisang goreng masih mengepul di meja. Matahari, belum terbangun dari peraduannya. Namun geliatnya terasa dan terlihat secara kasat mata, mulai hangat dan cahayanya berwarna kuning telor. Sehabis subuh yang ditelah ayam jago, diikuti cericit burung di dahan. Terasa segar untuk menatap siang yang ranum dengan harapan bertumpuk dalam benak.

Santapan pagi sudah terbiasa itu, terasa lain di hari biasanya. Lebih nikmat, lebih gurih dan lebih menyenangkan. Betapa tidak, awan putih berarakan meninggalkan sisa biru di cakrawala. Tidak secuil pun melintas mega hitam yang kerap menyapa setiap pagi bertalu-talu menyanyikan irama kuyu. Angin semilir, menerap kulit menyegarkan menggerakan pucuk-pucuk pohon.

Read the rest of this entry ?

Iklan
h1

Anjing Kampung Guk! Guk! Guk!

Maret 11, 2009

Cerpen Leopold Indrawan

AKU LAHIR bersama dua orang saudaraku. Lahir di semak-semak dekat jalan raya. Kami semua jantan berbulu hitam. Waktu masih kecil, yang kami kenal cuma mama. Menyusui dari mama. Berlindung pada mama. Menjadi buntut kedua, ketiga, dan keempat bagi mama. Sampai pada akhirnya, mama ditangkap oleh manusia. Mama menyuruh kami bersembunyi. Kami menurut saja, tetapi semenjak itu mama tidak pernah kembali.

“Ia sudah disajikan di atas piring. Menjadi RW.”

Read the rest of this entry ?

h1

Panon nu Kawisaya

Maret 6, 2009

Panonpoe geus lingsir kari layung ngabarak na dangdaunan, taneuh, kenteng jeung beungeut cai. Dina spion, layung mancawura langit kahuruan. Endah. Ngan sakolepat dipencrong, panon muru deui hideungna aspal kawas oray bedul nyiklak-nyiklakeun daun pare. Hayang gancang nepi ka imah. Hayang meureumkeun kongkolak panon nu kawisaya.

Read the rest of this entry ?

h1

Kubunuh Kau Berulang-ulang

Maret 4, 2009

Oleh : Benny Benke

Satu

MENGAPA kau bunuh putri semata wayangku. Tidakkah kau tau, dia adalah satu-satunya harta yang aku miliki di dunia ini. Satu-satunya alasan mengapa aku masih dan bisa bertahan untuk hidup. Mengapa dengan segala kebiadaban kau renggut dia dari kehidupanku. Tidakkah kau sedikit saja mempunyai peri kemanusiaan.

Akan aku balas atas semua yang telah kau lakukan kepada putriku, kepada hidupku. Aku akan membunuhmu secara pelan-pelan. Pelan sekali, supaya kau juga bisa merasakan betapa perihnya hidupku ini. Aku akan mencari cara yang paling keji, sebelum menyudahimu, sebagaimana telah kau sudahi riwayat putriku.

Read the rest of this entry ?