h1

Perempuan Membatu di Kamar

Agustus 7, 2009

Seorang perempuan terlelap bersarang kelambu. Rambutnya terikat pada empat tiang sudut ranjang. Tubuhnya meliuk horizontal disergap cahaya lilin membentuk silhuet. Dadanya bergerak lembut seperti tengah melakukan perlawanan. Umpama Diah Pitaloka menerima azab dari keris yang dihunusnya. Mencari buih ombak yang tidak pernah mencium pantai.

Kapal saat melepas jangkar. Puluhan prajurit mengiringi Prabu Maharaja bersama putrinya Diah Pitaloka Citraresmi. Setumpuk penganan dan gemerincing emas permata menghuni dak. Sang Prabu dan putrinya melambaikan tangan pada rakyatnya yang mengantar di tepi sungai Citanduy. Keduabelah pihak tidak menganggap itu lambaian terakhir.

Meski diiringi rasa suka cita dan do’a seluruh rakyat Kerajaan Galuh, wilwatikta berkata lain. Pasir yang terhampar menjadi klabu, kerikilnya menghujam tajam ke telapak kaki. Ketika mereka menjejakan di negeri asing yang menyambutnya dengan seringai srigala. Gajah Mada, dengan dingin tanpa basa-basi melemparkan ribuan jarum ke ulu hati Prabu Maharaja.

Auman harimau menderu lapat-lapat. Perempuan itu menggeliat dan mendesis. Mengerjapkan mata dan tidak mengubah posisi tidurnya. Ia pun menguap tanpa ditutupi telapak tangan. Mengibaskan tangan. Lantas bergumam pelan, “belum juga datang?” Lalu tidur lagi. Suasana kembali hening. Malam pun luruh pada embun. Mencari jejak matahari yang terkubur.

Dangding, diam-diam menyelinap dari angin-angin mengitari kelambu. Suaranya lembut, pelan namun mengandung daya magis. Api yang membakar sumbu lilin, meliuk-liuk. Ujungnya mematuk-matuk ke segala penjuru arah mata angin. Ajaib, silhuet yang ditimbulkan dari tubuh perempuan itu pun berubah-ubah. Kadang menyerupai darah menganak sungai.

Menyerupai lolongan serigala pada malam purnama. Membentuk akar-akar yang semrawut mencari ruang-ruang tak terbatas. Menjadi tumpukan arca batu tertusuk anak panah. Kadang pula jadi ribuan lolongan kesakitan seperti dalam perang bubat. Menyerahkan harga dirinya pada mata tumbak. Bukan budak, bukan pula upeti sebagai taklukan.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: