h1

Majalah Humor

Januari 1, 2010

Kalau tidak salah tahun 90-an masyrakat Jakarta digegerkan dengan terbitnya Majalah Humor. Kalau tidak salah pula, penggagasnya Arswendo Atmowiloto dan Gunawan Muhamad dan Ahmad Rangkuti. Dalam edisi pertamanya, ada sedikit ulasan mengenai alasan penerbitan Majalah Humor. Salah satunya bahwa masyarakat di Indonesia menyukai lawakan.

Namun dijelaskan pula materi tulisan melawak dan memiliki bobot.  Mereka pun membuat frame tulisan bagi penulis yang berminat dan dapat mengirimkan naskahnya.  Diantaranya tidak bersinggungan dengan SARA, tidak menghujat orang/pihak lain.  Selain itu tentunya harus segar, bukan duplikat, aktual dan bukan slepstick.

Masih banyak kriterianya. Edisi perdana pun laku seperti kacang goreng, banyak masyarakat yang menyukainya. Sebab mereka diberikan humor segar dan bernas. Isinya ada satir, dan guyonan dengan bahasa tidak vulgar. Meski awalnya mengernyitkan jidat karena belum paham, namun ujung-ujungnya tertawa setelah memahami isinya.

Begitu pun kemunculan film Warkop dengan trio Dono, Kasino dan Indro. Kalangan masyarakat menengah ke bawah antusias menonton film itu. Film mereka selalu box office, kenati kritikan selalu bermunculan karena mengandalkan slepstick-nya. Namun produser tidak bergeming, terus meluncurkan film-film Warkop.

Jauh sebelumnya, kita pun disuapi dagelan Benyamin S, Bagito, Srimulat bahkan Bapaknya Pelawak Indonesia Bing Slamet. Tradisi itu tidak berhenti sampai disana, selalu muncul generasi baru seperti Bagito, Patrio (yang dibesarkan radio SK), Empat Sekawan dll. Belakangan ada Tukul Arwana, Komeng, Budi Anduk, kelompok Ekstravaganza dan seterusnya.

Mereka telah menyita penonton televisi. Televisi pun tidak mau berhenti dan terus mengeksploitasi lawakan dari tanpa teks menjadi berpedoman terhadap teks. Alasannya sederhana, bahwa melawak harus memiliki bobot, bebet dan bibit. Sehingga yang ke luar tidak saja bahasa vulgar, body language seronok tapi memiliki etika dan estetika sebagai produk kesenian.

Kembali ke pembicaraan awal, Majalah Humor pada saat itu kelahirannya sebagai pelampiasan dari tekanan politik yang serba tertutup. Perenungannya, membuat tulisan satir tidak mungkin dibredel oleh Menteri Penerangan, kala itu. Kebebasan mengungkapkan aspirasi berbau politik dalam kemasan humor ternyata tidak efektif.

Salah satu buktinya Majalah Humor harus kandas di tengah jalan. Entah edisi ke berapa, mereka bertahan dengan humor cerdasnya. Begitu pun visualisasi humor di televisi entah sampai kapan akan bertahan? Sebab belakangan mulai kembali menyimak persoalan utama yakni “politik” seperti jamannya reformasi.

Jika pun koran membuat humor satir tidak lebih dari 0,001 persen. Katakan lah di SKU Kompas dengan Oom Pasikom-nya, Pojok, Pikiran Rakyat dengan Mang Ohle dll. Humor cerdas tidak selalu dimengerti setiap lapisan masyarakat. Hanya pengambil kebijakan dan orang-orang tertentu yang memahami dan kritikan itu berhasil merubah image.

Tujuan penulisan humor, tidak semata-mata menghasilkan ketawa – ketiwi setelah itu lupa dan tidak berbekas pada si pembacanya. Humor atawa lawakan, seyogyanya memberikan pencerahan terhadap pihak lain yang telah berbuat keliru dan kembali memerbaiki kesalahannya. Bukan sebaliknya. Artinya ada pesan moral disana.

Humor itu pun tidak harus terjebak pada kata-kata bias dan ringan. Kendati humor kadang ditafsirkan sebagai banyolan yang mendorong orang lain tertawa. Tapi apakah hanya sampai di sana tujuan membanyol? Mungkin ada perbedaan antara humor melalui audio visual dengan tulisan.  Bukan berarti sama dengan humor cara mati orang rusia dll-kan?

Saya teringat, ungkapan Jujuk Srimulat, “Ketika Taman Ria (tempat pertunjukan Srimulat) arus bubar karena sepi penonton. Saya pun harus mengamen!” Saya melihat ada kepahitan teramat dalam dari dunia lawak. Suatu ketika lawakan ditinggalkan begitu saja tanpa permisi dan menghaturkan salam setelah mereka terhibur.

Hal itu pun dialami kelompok-kelompok lawak tradisional seperti Lenong yg ditinggalkan penonton padahal Panggung Hiburan Ancol memberikan tempatnya setiap malam minggu (dulu). Begitu pun ketoprak, ludruk, longser, Calung, Gembyung (Di Sunda) dll. Mereka tertolong setelah ada televisi. Pertanyaannya, mengapa sampai mengalami stagnasi dan mati?

Hemat saya, ini persoalan trend atau tidak. Ketika sedang trend maka seluru energi kita tersedot abis ke arah sana. Namun jika tidak kolaps lah sudah. Begitu pun dengan ramainya taglin Ngocolaria di Kompasiana, ini hanya trend sesaat tidak mungkin abadi. Mereka akan kembali menjadi penulis serius kembali, setelah merasa bosan. beleive or not?***

Iklan

One comment

  1. Sip



Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: