Archive for the ‘ANDAR-ANDAR’ Category

h1

Rumah di Tengah Ilalang

Juni 22, 2009

Cerpen Endang Supriadi

ILALANG yang Buana babat dengan sebilah arit seakan tak pernah habis. Selalu muncul tunas baru keesokan harinya. Dan ilalang itu tumbuh merata mengelilingi rumah sewaan yang dia tempati tiga hari lalu bersama Dinda, wanita yang dinikahi secara siri. Mereka memutuskan tinggal bersama di kampung itu tanpa sepengetahuan orang tua mereka masing-masing. Kehidupan mereka bak ilalang. Mereka belajar hidup jauh dari orang tua dan keramaian. Orang tua mereka yang berseteru, sama-sama tidak tahu dimana anak-anaknya kini berada.

Read the rest of this entry ?

Iklan
h1

Gong Xi Fat Cay

Januari 26, 2009
HO TEK TSENG SIN

HO TEK TSENG SIN

h1

Pesta Emosial Atas Kemenangan Obama

November 7, 2008

La, la, la,

La, la, la.

Hey, hey, hey

Goodbye.

Sekitar 2.000 orang berkumpul di depan Gedung Putih, merayakan kemenangan calon presiden yang baru, Barack Obama. Mereka menyanyi, menari, menangis terharu, serta saling menyalami dan memeluk satu sama lain sebagai ekspresi kebahagiaan.

Hari itu kegembiraan diluapkan di luar kantor tempat Presiden George W Bush berkantor. Januari mendatang, Bush secara resmi mundur dan menyerahkan jabatannya kepada Obama.

Seperti ada cinta yang meluap ke udara saat kegembiraan tercurah oleh setiap orang. Di antara kerumunan massa, Ted Howard (64), pria berdarah Afro-Amerika, tak mampu menyembunyikan emosinya. Ia memeluk teman-teman di sekitarnya yang juga sangat bergembira.

”Saya tak pernah mengira dapat menyaksikan hari yang seperti ini,” tuturnya. Howard pernah mengalami momen penting ketika memberikan suara pertamanya untuk Presiden John F Kennedy tahun 1960. Dia juga menyaksikan prosesi pemakaman Presiden AS akibat dibunuh tahun 1963. Namun, momen kali ini, menurut dia, lebih bernilai spiritual ketimbang politis. ”Saya betul-betul merasa emosional,” tambahnya.

Beberapa blok di sebelah utara Gedung Putih, ribuan orang juga memenuhi jalan yang dipilih sebagai tempat perayaan. Band perkusi bertabuhan, sementara orang-orang menari bersama di bawah sorotan lampu-lampu malam. Sejumlah orang memanjat lampu-lampu merah dan berdiri di atas halte. Mereka mengangkat-angkat poster Obama. Bunyi-bunyian klakson ikut menyemarakkan suasana malam itu.

”Kita tengah melalui momen terpenting dalam hidup,” ujar Sarah Reed (21), mahasiswa George Washington University.

”Kami akhirnya melakukannya. Ini merupakan pertama kalinya saya merasa bangga menjadi warga Amerika,” tambah wanita yang memulas jidatnya dengan nama Obama.

Di Times Square New York, warga menari dan meneriakkan kegembiraannya. Mereka berteriak, ”Obama! Obama!”

Di Philadelphia, ribuan warga kulit hitam dan putih berkumpul di City Hall, sesaat setelah mendengar kemenangan Obama lewat radio mobil. Para pengendara seketika langsung berhenti di tengah jalan dan membuka pintu mobil mereka. Kondisi ini mengakibatkan kemacetan parah.

Di Chicago, kampung halaman Obama, diperkirakan 125.000 orang berkumpul di Grant Park, dalam malam yang tidak biasanya menjadi hangat itu. Mereka menyambut pidato Obama. Tak sedikit yang menangis terharu di hadapan calon presiden idola mereka.

Pemimpin Hak-hak Sipil Jesse Jackson, yang juga pernah mencalonkan diri sebagai presiden tahun 1984 dan 1988, tetapi gagal pada nominasi Partai Demokrat, berada di antara kerumunan massa. Ia tampak menitikkan air mata kebahagiaan.

Kemenangan Obama dirayakan secara berbeda di mana-mana, baik sederhana maupun besar-besaran, tetapi semua orang diliputi oleh sentimen yang sama—kebahagiaan murni.

”Hari ini saya bangga menjadi warga kulit hitam Amerika,” kata Rosemary Morris. ”Ini adalah hari yang sangat baik, sangat baik, sangat baik,” tambahnya.

”Ini sangat menakjubkan, momen bersejarah untuk Amerika,” ujar Andrew Bernard, desainer produksi film. ”Saya ingin anak saya juga datang dan menyaksikannya,” tambahnya. Sementara itu, polisi berupaya keras mengontrol kerumunan di jalan.

Di Cleveland, para pendukung Obama berpesta dalam rumah dan melaksanakan pesta sampanye dan saling tos. ”Untuk sejarah baru AS,” teriak mereka.***

Sumber KOMPAS

h1

Bergunjing Sampai Mati

Oktober 11, 2008

Di tahun-tahun terakhir hidupnya, Arthur Schopenhauer, filsuf inspirator Nietzsche, sering makan malam di salah satu hotel di Frankfurt yang sering dipenuhi tentara Inggris. Setiap sebelum makan, dia menaruh sekeping koin emas di meja, dan selesai makan, dia akan mengambil dan memasukkan koin itu ke saku. Kebiasaan aneh tersebut menggelitik seorang pelayan untuk menanyakannya. Schopenhauer menjelaskan bahwa dia membuat taruhan dengan dirinya sendiri: bila tentara-tentara Inggris tersebut berbicara apa pun selain kuda, anjing, dan perempuan, Schopenhauer akan memasukkan koin tersebut ke kotak amal.

Inilah yang merangsang Martin Heidegger sehingga memikirkan ihwal proses kejatuhan manusia secara eksistensial: terperangkapnya manusia ke dalam dunia umum atau dunia keseharian yang bersifat common sense. Dalam dunia kesehariannya, manusia dikelilingi dengan gunjingan. Gunjingan yang dimaksud bukan semata terbatas pada gosip yang mengumbar aib orang lain. Gunjingan di sini adalah berbagai perbincangan yang tidak substantif, tak mendasar, banal, minim refleksi, tak memiliki daya untuk merangsang membangun ruang penghayatan dan pengayaan diri sendiri, serta mengondisikan manusia dalam rantai rasa ingin tahu yang tak pernah berhenti terhadap berbagai fenomena yang dangkal.

Gunjingan sosial

Pergunjingan merupakan bagian dari kehidupan sosial manusia. Dalam kesehariannya manusia saling berbicara tentang berbagai hal ringan, sekadar berbasa-basi, dan bertukar canda. Hal itu memiliki dampak positif sangat besar bagi kehangatan dan keakraban dalam interaksi personal dan sosial manusia. Namun, segala sesuatu yang berlebihan pasti akan menjadi eksesif dan berdampak negatif, termasuk semua bentuk percakapan tadi. Salah satu percakapan eksesif adalah bergunjing dalam pengertian membuka dan menyebarkan aib orang lain.

Meski lelaki pun suka bergunjing, namun perempuanlah yang paling sering diidentikkan dengan pergunjingan seperti ini. Dalam pergunjingan jenis ini, tersirat hasrat dan kepuasan ketika bisa menelanjangi aib kehidupan orang lain, termasuk menikmati kehancuran orang lain dalam interaksi sosial. Umumnya agama mengutuk tabiat bergunjing ini. Dalam khazanah Islam, Imam Ali bin Abi Thalib, khalifah keempat, pernah berkata bahwa “Lidah itu laksana seekor binatang buas, bila dilepaskan pasti membunuh”. Kini kita lazim menyebutnya sebagai pembunuhan karakter.

Rasulullah saw. pernah menyatakan bahwa Mukmin yang bergunjing itu seperti memakan daging saudaranya sendiri. Dalam kata-kata manusia sekapasitas beliau, ini bukanlah semata sebuah ibarat. Pernah diriwayatkan, telah sampai kepada Rasulullah saw., kabar seorang perempuan yang bergunjing. Beliau memanggil perempuan itu dan memerintahkannya memuntahkan sesuatu dari mulutnya. Maka tunduklah segenap mikrokosmos dalam diri si perempuan pada perintah Rasulullah, sehingga keluarlah segumpal daging mentah dari tenggorokannya.

Bahkan Rasullulah saw., pernah menjelaskan kepada Mu`adz bin Jabal maksud QS An-Nâzi`ât [79]: 1-2, yaitu tentang penggambaran bahwa di mauthin akhirat, kelak azab neraka bagi seorang penggunjing adalah dicabik-cabik oleh anjing-anjing Jahanam. Cara dicabik-cabiknya, entah secara kasar atau pelan, bergantung kepada cara bergunjingnya: apakah secara vulgar atau halus berupa sindiran. Sedikit banyak, paparan bahwa isyarat-isyarat seperti ini bukanlah semata kiasan memang terasa asing bagi yang sudah terlalu terbiasa berpikir dengan logika abstrak modern beserta pandangan realitas nonhierarkisnya.

Di komunitas keagamaan, gunjingan biasanya terjadi dengan didahului apologi untuk (sok) mengambil hikmah. Namun, seringkali batasnya menjadi samar dan berekses sama: membunuh karakter. Karenanya, dengan tajam sekaligus akurat, Imam Ali bin Abi Thalib menandaskan bahwa pergunjingan adalah puncak kemampuan orang yang lemah.

Salah satu penyebab suburnya pergunjingan jenis ini dalam interaksi sosial adalah ekses dari pikiran menganggur yang tak mendapat “makanan” atau “pekerjaan” yang tepat. Misalnya, ibu rumah tangga yang kesehariannya memang disibukkan dengan urusan pekerjaan rumah. Namun sayangnya, seringkali yang letih hanyalah fisiknya, sementara pikirannya belum cukup terpenuhi hak kerjanya. Akibatnya, interaksi antarperempuan sering mengondisikan mereka untuk saling menjejali “makanan” maupun “pekerjaan pikiran” berupa gunjingan remeh-temeh dan aib orang lain. Agama, dalam hal memenuhi hak pikiran, umumnya menyarankan manusia untuk berefleksi ihwal dirinya sendiri: rahasia besar misi hidup personal yang diamanahkan Tuhan; maupun juga ihwal kehidupan, alam semesta, dan sebagainya, yang -tentu saja- tidak melulu harus dipikirkan melalui metode filsafat atau teori ilmiah.

Gunjingan media

Abad-abad terakhir ini muncul sesuatu yang disebut oleh Walter J. Ong sebagai kelisanan sekunder melalui media elektronik seperti telepon (genggam), radio, televisi, dan internet. Pada masa dominasi media cetak berlaku slogan “man make newspapers”, namun pada masa dominasi media audio visual seperti saat ini yang berlaku adalah slogan “image make news”. Pergunjingan pun menjadi lebih canggih melalui pengolahan citra, yaitu sesuatu yang tampak oleh indera, akan tetapi tidak memiliki eksistensi substansial.

Citra ini juga terkait erat dengan hasrat untuk menjadi populer. Meski hasrat seperti ini sudah ada sejak awal keberadaan manusia, kini hasrat tersebut difasilitasi media, misalnya melalui reality show “pencari bakat”. Para mahasiswa, misalnya, tidak lagi berkumpul untuk berdemonstrasi, tetapi berbaris panjang untuk mengikuti audisi. Bahkan orang dari desa terpencil pun bersedia mengorbankan apa saja untuk mengikuti audisi tersebut (bahkan hingga terlilit utang kepada lintah darat). Menjadi “populer” diilusikan sebagai jalan keluar dari kemiskinan, atau mencapai kesuksesan dengan cepat. Maka televisi pun diramaikan oleh acara semacam itu. Namun ironisnya, seringkali hasil akhirnya tidak sesuai dengan tema awalnya. Misalnya, pemenang reality show menyanyi bukanlah orang yang bersuara paling bagus, tetapi yang kisah hidupnya paling memilukan penonton. Hal ini merupakan indikasi terlalu mudahnya penonton untuk larut dalam pergunjingan, baik ke dalam dirinya sendiri maupun ke luar dirinya, mengenai hal-hal yang di luar konteks kemampuan menyanyi para kontestannya.

Bukan hanya itu. Kini, cukup berpacaran dengan pesohor atau tampil sekali dua kali di suatu sinetron, bisa dianggap sebagai selebritis. Penisbatan selebritis inilah yang menjadi modal citra untuk menjadikan diri sebagai objek incaran para juru tulis gosip (sebutan “wartawan” gosip, menurut saya, agak berlebihan), yang pada akhirnya bisa meningkatkan popularitas dirinya sendiri. Para juru tulis itu bertindak dengan mengatasnamakan masyarakat yang disebutnya “berhak tahu”. Dalam kacamata sosial, tampak jelas bahwa yang dimaksud para juru tulis itu dengan “masyarakat berhak tahu” sebenarnya berarti “masyarakat berhasrat menggunjingkan”.

Meski dilematis, selebritis membutuhkan juru tulis gosip untuk melanggengkan popularitasnya. Namun konsekuensinya, kehidupan pribadi mereka menjadi seperti berada di bawah mikroskop media. Maka, hampir sepertiga acara televisi kita dipenuhi infotainment. MUI pun angkat bicara, mengeluarkan fatwa mengharamkan infotainment. Namun, di tengah hiruk pikuk industri media, fatwa tersebut hanyalah jeritan sunyi yang segera terlupakan.

Selain itu, kini televisi lokal diramaikan pula oleh acara bergunjing lainnya, yaitu talk show. Ada baiknya kita perhatikan dulu Oprah Winfrey Show. Kebanyakan panelis yang dihadirkan adalah orang-orang biasa yang mempunyai sisi menarik dalam kehidupannya. Perhatikan bagaimana orang-orang biasa itu menjawab pertanyaan Oprah dengan cukup reflektif. Oprah, misalnya, pernah menghadirkan Richard Gere dan Susan Sarandon. Oprah memperlihatkan kepada keduanya foto mereka sewaktu muda dan bertanya apa pendapat mereka tentang orang dalam foto tersebut. Keduanya menjawab dengan sebuah refleksi yang nyaris sejenis: orang yang ada di foto itu keras kepala, tidak mau menerima saran siapa pun, egois. Saya sering membayangkan jika itu dilakukan pada selebritis kita. Sangat mungkin reaksinya akan berupa teriakan histeris malu, untuk kemudian berujar tentang hal-hal yang tidak esensial dari stimulus berupa fotonya itu.

Setidaknya, pengungkapan yang sederhana namun reflektif dari para panelis itulah yang membedakan kualitas talk show di masyarakat Barat dengan Indonesia. Maklum, bagaimana pun tradisi literasi di kalangan masyarakat Barat jauh lebih kuat, sehingga para panelis tersebut lebih bisa mengambil jarak dari pengalamannya sendiri untuk berefleksi. Sementara Indonesia cenderung bertradisi lisan, sehingga kualitas talk show-nya pun lebih menyerupai pergunjingan yang terlalu banyak diimbuhi lelucon berlebihan.

Gunjingan politik

Heidegger menegaskan bahwa manusia adalah satu-satunya makhluk yang bisa bertanya tentang “ada”: kenapa saya ada di sini, siapa saya, dari mana saya, mau ke mana, dan berbagai pertanyaan eksistensial lainnya. Keadaan “terjatuh” itu disebut Heidegger sebagai faktisitas. Terkait dengan perenungan akan “ada” tersebut, Yasraf Amir Piliang menganalisis tentang berubahnya “ada yang autentik” menjadi “ada sebagai citra”. Orang mengalami ilusi eksis dan autentik ketika tampil sebagai citra, yaitu ada di dalam televisi, tabloid, internet, dan sebagainya, yang notabene hanya hadir sebagai citra yang tidak autentik.

Terkait citra, Yasraf mengamati bahwa persilangan antara politik, media, dunia hiburan, sosial, dan ekonomi menciptakan semacam kategori ontologi politik berupa “ada hibrida”. “Ada politik” kini menjadi bagian tak terpisahkan dari “ada sebagai citra”. Kini, apa beda antara berita politik dan gosip infotainment?

Selebritis terjun ke dunia politik bukanlah perkara baru di dunia. Namun di Indonesia, tampaknya pertimbangan modal citra yang dimiliki seorang selebritis –meski tak punya pengalaman politik sama sekali– lebih dominan ketimbang pertimbangan kemampuannya untuk memimpin. Maka, ketika diwawancara tentang apa yang akan dilakukannya seandainya terpilih nanti, ucapan yang meluncur pun lebih menyerupai pergunjingan klise yang tidak memperlihatkan adanya visi autentik untuk dijalankan semasa kepemimpinannya nanti.

Kegombalan politis seperti ini tak berbeda dengan pergunjingan yang seringkali diusung politikus nonselebritis melalui janji-janji politik ketika kampanye. Yasraf menunjukkan adanya semacam dinding pemantul atau reflektor, sehingga yang tampil di dunia realitas adalah citra murni (berbagai kemasan ide, gagasan, keyakinan, proyeksi, dan janji-janji), akan tetapi semuanya tidak pernah menembus dunia realitas, dalam pengertian tidak pernah diinternalisasikan ke dalam berbagai tindakan nyata. Setiap kali citra dan tanda itu akan memasuki dunia realitas, ia selalu berbalik arah dan memantul kembali ke dalam jagat simbiosis ideologi citra, tidak pernah menjadi realitas nyata.

Bukan hanya itu, Yasraf pun menguraikan, “Perangkap citra tidak saja melupakan insan politik terhadap perenungan eksistensial, tetapi citra itu sendiri menipu mereka seakan-akan citra itu sendiri adalah eksistensi. Dengan terbenamnya aktor-aktor politik dan dunia politik mereka ke dalam dunia citra, tidak saja gerbang menuju permenungan eksistensi tertutup rapat, akan tetapi lebih jauh lagi ontologi citra itu menawarkan perenungan palsu. Misalnya, ada (tokoh, aktor, institusi) politik di dalam televisi adalah ada dalam bentuk citra (ontology of image), akan tetapi ia dianggap sebagai bentuk keberadaan. Di dalam virtualitas dunia citra, obrolan banal politik (di dalam berbagai media virtual) membenamkan manusia dalam keseharian, yang di dalamnya obrolan banal yang diperantarai oleh media (elektronik, digital) menjadikan berbagai kepalsuan dan kesemuan menjadi bagian inheren dunia politik.”

Gunjingan ilmiah

Diakui atau tidak, sebagian besar akademisi Indonesia juga masih terjebak dalam atmosfer tradisi lisan. Salah satu penyebabnya adalah tidak adanya tradisi sabbathical, atau cuti mengajar untuk menulis karya ilmiah. Padahal, jantung kehidupan dunia ilmiah di zaman ini adalah tulisan, bukan ucapan (yang tidak dipahat menjadi bentuk tertulis). Runyamnya lagi, dengan berbagai alasan penghidupan, banyak akademisi yang menjadi lebih antusias untuk mengerjakan projek ketimbang bergiat menghidupkan kegiatan ilmiah. Bahkan, kegiatan penelitian pun sudah berubah menjadi peluang untuk bisa mendapat dana untuk membeli mobil baru, bukan pengetahuan baru. Gelar formal akademis lebih sering menjadi kebanggaan ketimbang kualitas keilmuan yang dimilikinya.

Minimnya tradisi menulis ilmiah di kalangan akademisi Indonesia membuat transfer pengetahuan pun lebih bersifat oral ketimbang tekstual. Akibatnya, seringkali pengetahuan tersebut cenderung bersifat konservatif, terlebih dengan adanya atmosfir feodalisme di banyak perguruan tinggi Indonesia. Dialektika pengetahuan yang tak terjadi secara tekstual, semakin terhambat secara lisan akibat arogansi senioritas.

Memang banyak juga bermunculan komunitas ilmiah, baik di dalam maupun di luar lingkungan kampus. Namun, diskusi yang terjadi di sebagian komunitas itu lebih cenderung berisi gunjingan atau obrolan ke sana-kemari yang tidak produktif dalam bentuk tertulis. Heidegger menyebutnya sebagai idle talking. Hal ini, misalnya, bisa terasa di beberapa komunitas cendekiawan berlabel Islam yang antusias dengan projek Islamisasi Pengetahuan, sebuah usaha yang sangat patut memperoleh apresiasi. Namun projek bercita-cita luhur ini sayangnya seringkali disarati dengan gunjingan pseudo-ilmiah yang dilakukan secara utak-atik-gathuk. Misalnya, mengkaji peristiwa Isra Miraj menggunakan Fisika cahaya atau Astronomi. Padahal, Fisika maupun Astronomi dalam paradigma sains jelas-jelas tidak mengakui adanya realitas lain selain realitas fisik ini. Lagi pula, perlu berapa juta tahun cahaya bagi Rasulullah saw., untuk melintasi galaksi yang belum kita ketahui batasnya ini?

Solusi paling pas untuk menghindari pergunjingan di komunitas ilmiah adalah dengan focused-group discussion. Moderator setidaknya bisa menjaga alur pembicaraan agar tidak melantur ke mana-mana, dan setiap partisipan mempunyai kesempatan berpendapat, sehingga ada pendalaman eksplorasi masalah dan diharapkan bisa lebih produktif menghasilkan tulisan-tulisan ilmiah yang bernas.

Meski demikian, manusia itu selalu berkembang dalam hidupnya. Dia tidak akan pernah bisa betah hanya dijejali dengan gunjingan, apa pun bentuknya, sebagaimana dijelaskan tadi. Ibaratnya, tidak mungkin manusia hanya makan permen terus menerus, tanpa pernah mendapatkan makanan dengan asupan gizi, mineral, protein, vitamin, dan lain sebagainya, yang dibutuhkan tubuhnya. Oleh karena itu, dalam fase-fase tertentu dalam hidupnya, manusia akan tergerak untuk mencari hal-hal yang lebih esensial untuk memperkaya penghayatan hidupnya, meskipun arus di sekelilingnya seakan mengondisikannya untuk terus bergunjing sampai mati.***

Alfathri Adlin, Anggota Forum Studi Kebudayaan ITB, editor Jalasutra.

Sumber PR

h1

Pembantu

Februari 16, 2008
Namanya juga “pembantu”, artinya hanya membantu. Namun, dalam praktik sehari-hari para pembantu ini mendapat limpahan seluruh tugas. Katakanlah sederhananya mencuci, memasak, menyetrika, bersih-bersih, mencuci mobil, hingga membantu anak majikan mengerjakan PR sekolah! Kita sering lupa. Padahal, pembantu juga manusia, mereka punya keterbatasan tenaga.

Tugas multifungsi pembantu membuat para pembantu tidak lagi duduk nyaman di kursinya. Kursinya kadang terasa panas bisa juga adem ayem, tergantung tuan yang memberikan petunjuk. Tapi kadang pembantu juga digoblok-goblok karena dianggap tidak becus mengamankan kebijakan-kebijakan yang dilisankan tuannya.

Kadang pula pembantu tidak bisa mengerjakan apa-apa karena memang pekerjaannya diambil sang tuan. Tapi tidak jarang juga pembantu menjadi tuan-tuan bagi pembantu-pembantu lainnya. Hal ini menggambarkan sebuah trandensi moral. Betapa moral menjadi tidak bermoral ketika tuan menyuruh dan menggoblok-goblokan pembantu tapi si tuan tidak pernah mengerti tugas pokok dan pungsi pembantu.

Sangat ironis, ketika pembantu menjadi sangat pintar dan memiliki moral tinggi. Namun tuannya katakanlah tukang judi, mabuk-mabukan alias suka pergi ke kape atawa diskotik. Atau jangan-jangan jadi tukang lacur atau menjadi pelacur sekalian. Kerjanya hanya marah-marah dan marah. Tidak tega melihat uang nganggur, punya uang pembantu, uang dapur langsung diembat diludaskan di meja kasino.

Aha …. jelas ini preseden tidak bagus. Tapi anehnya, para pembantu selalu setia dan saking setianya kerap menginjak para pembantu lainnya. Katakanlah tuannya merasa tidak nyaman dengan pembantu yang berseliweran, diberikankan kewenangan. Ada yang menjadi kepala pembantu, kepala masak, kepala dapur, kepala menghidangkan makanan dan seterusnya.

Akhirnya para pembantu mengejar kedudukan dalam pembantu. Mereka tidak lagi berpikir bagaimana menjadi pembantu yang baik dan benar sesuai ejaan yang disempurnakan. Betapa pembantu menjadi menjijikan ketika tuannya datang menggonggong seperti anjing. Dan tidak jarang mengeong menjilati sepatu mengkilatnya.

Perilaku pembantu menjadi berubah, tidak layak menjadi pemimpin pembantu pun akan berusaha menjadi pemimpin pembantu. Padahal dia tidak bisa masak, menjerang air, atau mengepel dan mencuci mobil. Yang penting banyak gelar ngaregreg di pundaknya apakah raden, pangeran atau apalah sebutannya. Jelas semuanya hanya mengejar bagaimana rasanya menjadi pemimpin pembantu.

Begitu tuannya tahu, bahwa pembantunya akan terus menggonggong dan menjilati sampai lupa. Bagaimana menyejahterakan pembantu yang memang pembantu? Aturan standar gaji yang seharusnya diterima di potong. Malah ada hak yang tidak pernah diberikan. Katanlah uang lauk pauk pembantu. Tuan hanya memikirkan bagaimana caranya mengecat rumah supaya tetap kelihatan bagus.

Bagaimana taman tidak ada relief dan air pancurannya, supaya ada. Meski uang tidak ada. Akhirnya tuan menjadi tukang penghutang kelas kakap. Namanya kakap, tentu segala di caplok, apa itu plangton, ikan kecil, rebon udang, belut dan sebangsanya. Namun tidak juga memerhatikan nasibnya. Nasibnya hanya menjadi dimangsa dan dimangsa.

Kadang pembantu perlu dikasihani juga. Tapi kadang tidak perlu dikasihani. Apalagi sekarang pembantu memiliki nilai tawar tinggi. Bahkan ke depannya akan menjadi sosok menakutkan bagi para tuannya. Betapa tidak, jika sekarang tuannya mengharapkan balas jasa dengan meminta bantuan pembantu untuk suatu perkara. Tentunya jika sudah goal, apa yang terjadi?

Pembantu akan melawan karena dianggap punya jasa besar. Tapi bagaimana andaikan tidak mampu meloloskan kepentingan tuannya. Dan yang lain memerolehnya, bukan kah akan menjadi rusak juga rumah itu?***

h1

Gadis ABG Diperkosa di Tengah Sawah

November 1, 2007

Gara-gara Menolak Cinta

NASIB malang menimpa Melati (bukan nama sebenarnya -red.), anak baru gede (ABG) berusia 18 tahun warga Desa/Kec. Sukra, Kab. Indramayu. Pasalnya, belum lama ini ia telah menjadi korban aksi perkosaan Har (23) yang masih tetangganya sendiri.

Perilaku bejat Har terhadap korban diduga dilakukan setelah cintanya ditolak. Marah karena kegadisannya direnggut paksa oleh Har, Melati bersama orang tuanya akhirnya melaporkan kasus tersebut ke Polsek Sukra. Keruan saja, Har pemuda yang gelap mata setelah cintanya ditolak itu, kini harus berurusan dengan aparat kepolisian.

 

Keterangan yang dihimpun “PR”, Rabu (31/10) menyebutkan, Har dan Melati sebenarnya masih bertetangga dekat. Diduga karena sering bertemu, benih-benih cinta mulai tumbuh di hati Har. Apalagi kendati masih terbilang belia, Melati tergolong gadis cantik dan menarik.

 

Suatu ketika, terdorong oleh perasaan yang menggebu, akhirnya Har berniat mengutarakan cintanya kepada Melati. Lantas, Har pun mulai mengatur strategi agar bisa secara langsung mengutarakan maksud hatinya itu kepada Melati.

 

Saat yang ditunggu-tunggu itu pun tiba. Ceritanya, pada Selasa (30/10) malam, Melati terlihat sedang mengendarai sepeda motor menuju ke suatu tempat. Belakangan diketahui, Melati akan bersilaturahmi ke rumah gurunya di desa tetangga.

 

Har yang sudah sejak lama menaruh hati, tidak membuang kesempatan itu. Sebelum Melati tiba di tempat tujuan, Har pun menghadangnya. Kepada gadis pujaannya itu, Har berkata ingin menyatakan sesuatu yang teramat penting. Melati yang tidak menaruh rasa curiga, tentu saja menuruti keinginan Har. Apalagi, Melati telah mengenal betul sosok Har, pemuda tetangganya itu.

 

Dengan mengendarai sepeda motor yang dibawa Melati, keduanya lalu berboncengan. Hanya saja, arah sepeda motor yang dikemudikan Har tidak menuju ke jalur rumah guru yang akan didatangi oleh Melati. Mengetahui hal itu, Melati pun mulai menegur Har. Namun, dengan entengnya Har menyatakan bahwa dirinya ingin mengutarakan isi hatinya di tempat yang sepi.

 

Lagi-lagi Melati menurut dan tidak menaruh curiga. Ketika sampai di areal pesawahan masih di desa setempat, Har menghentikan sepeda motornya. Di tempat itu, ia lalu mengutarakan cintanya yang sudah lama terpendam kepada Melati.

 

Di luar dugaan, Melati menolak pernyataan cinta dari Har. Diduga marah karena cintanya ditolak, Har pun mulai naik pitam. Tanpa belas kasihan, ia lalu menyeret Melati ke tengah sawah. Tidak cukup sampai di situ, Har lalu memperkosanya. Di bawah ancaman Har, korban terpaksa menyerahkan kehormatannya.

 

Usai melampiaskan nafsu bejatnya, Har kemudian membereskan pakaiannya yang berserakan. Kesempatan itu digunakan Melati untuk kabur. Malam itu juga, Melati bersama orang tuanya melaporkan Har kepada polisi atas tuduhan pemerkosaan.

 

Kapolsek Sukra AKP Jaya Hardiantho, S.H., saat dikonfirmasi membenarkan terjadinya peristiwa asusila tersebut. Pihaknya sudah memintai keterangan dari sejumlah saksi, termasuk meminta keterangan langsung dari korban.

 

“Kasusnya sudah kami limpahkan ke Polres Indramayu. Sejumlah barang bukti yang mendukung dugaan terjadinya pemerkosaan juga telah diserahkan,” kata AKP Jaya Hardiantho. (Marsis Santoso/”PR”)***

h1

Kenanga, Sang Gadis Lugu Itu Diperkosa

Oktober 26, 2007

SEORANG gadis di Cimahi, sebut saja Kenanga (15), diperkosa remaja tanggung berinisial AA (16) di salah satu rumah kosong, Kp. Cibaligo Kel. Cibeureum Kec. Cimahi Selatan Kota Cimahi. Pelaku terlebih dahulu mencekoki korban dengan minuman keras. Kini, pelaku sudah di tahanan Mapolres Kota Cimahi.

Peristiwa itu terjadi Selasa (16/10) petang. Tersangka mengajak korban bertemu di salah satu rumah kosong. Tak menaruh curiga, korban menerima ajakan itu. “Keduanya memang sudah saling kenal,” ujar Kepala Satuan Reserse Kriminal, AKP Arif Fajarudin, S.H., S.I.K., mewakili Kapolres Kota Cimahi, Kamis (25/10).

 

**

 

RUPANYA, tersangka sudah menyiapkan satu muslihat. Sudah lama ia memendam asmara terhadap korban. Namun, cintanya bertepuk sebelah tangan. “Di rumah kosong itu, tersangka menyuguhkan segelas minuman keras. Korban yang masih polos menenggak minuman itu,” katanya.

 

Karuan saja, korban teler. Pucuk dicinta ulam tiba. Tersangka melaksanakan aksi yang direncanakannya. Semula, ia mencumbu lalu memperkosanya. Dalam keadaan belum sepenuhnya sadar, korban diantarkan pulang.

 

”Keluarga melihat perubahan perilaku korban. Semula, korban enggan bicara. Tapi, setelah dipaksa, barulah korban membeberkan peristiwa itu. Tiga hari kemudian, kejadian itu baru dilaporkan ke polisi,” ucap Arif.

 

Berdasarkan laporan itu, polisi mencokok tersangka dengan tuduhan pemerkosaan atau perbuatan cabul terhadap anak di bawah umur. Tersangka mengakui segala perbuatannya. ”Kami menjeratkan Pasal 82 UU No. 23/2002 tentang perlindungan anak dan Pasal 286 juncto Pasal 290 KUH-Pidana. Ancaman hukumannya mencapai 15 tahun penjara,” kata Arif Fajarudin.(Hazmirullah/”PR”)***