Archive for the ‘WARUNG CURHAT’ Category

h1

Korupsi Dalam Sastra Sunda

Juni 16, 2009

DJASÉPUDIN*)

“Rék leutik rék gedé korupsi mah sarua baé dosana. Nu matak mun rék korupsi tong kagok-kagok, héhéhé…”

Mau kecil mau besar korupsi tetap sama dosanya. Maka, jika hendak korupsi jangan tanggung, he..he..he.. (Teten Masduki, Lalayang Girimukti/V/Agustus-Oktober 2002)

Read the rest of this entry ?

Iklan
h1

Neblog Itu Tidak Penting

Mei 5, 2009

Sekian lama, tidak masuk dan mengisi blog ini bukan tidak kangen atau merasa tidak peduli terhadap pertumbuhan blog yang dibuat dengan susah payah ini. Namun ada perasaan, bahwa ngeblog tidak lah penting. Tidak membuat orang menjadi terkenal (yang berobsesi terkenal) atau setidak-tidaknya tempat “buang hajat”. Betapa kecilnya kita harus menyandarkan perasaan pada blog yang mati dan tidak pernah menjadi pencerahan bagi orang lain. Justru yang terjadi sebaliknya.

Read the rest of this entry ?

h1

“Ewuh Pakewuh” Rupiah Terhadap Dolar, Ganti Saja!

November 20, 2008

Kondisi ekonomi dunia yang terus gonjang-ganjing berdampak terhadap negara-negara berkembang, termasuk Indonesia. Perekonomian Indonesia belum juga “menarik nafas” sudah diancam keterpurukan ke lembah kemiskinan lebih dalam. Memang diakui pelbagai pihak, dewasa ini ketergantungan ekonomi antar negara semakin kuat. Namun, pondasinya tidak sekokoh negara-negara maju. Sehingga kerap ada guncangan, ekonomi Indonesia turut terguncang.

Paska porak porandanya perekonomian Tahun 1998, semua mata mulai terbuka bahwa pertumbuhan ekonomi yang dianggap maju pesat (saat itu disebutnya rencana pembangunan lima tahun tahap tinggal landas) betul-betul kandas di tengah jalan. Selama tiga puluh dua tahun, ekonomi Indonesia disebutnya ekonomi semu (tidak mengarah ke liberal atau sosialis). Soemitro yang menjadi embah ekonomi Indonesia telah menganjurkan, “Pertumbuhan ekonomi akan cepat di dukung dana negara yang kuat. Guna meningkatkan anggaran ada dua hal yaitu meminjam dari negara donor dan investasi,”

Petuah yang sakral itu diterapkan sepenuhnya oleh Soeharto. Meningkatkan pinjaman dari negara donor untuk meningkatkan pembangunan serta membuka lebar-lebar kran investasi. Namun dalam prakteknya, terjadi disorientasi. Sistim ekonomi Pancasila dikebiri dengan ekonomi liberal dan sosialis semu. Penggerakan sektor-sektor ekonomi tidak berbasiskan kerakyatan. Atau setidak-tidaknya memberikan ruang untuk masyarakat melakukan apresiasi terhadap pertumbuhan ekonomi. Masyarakat hanya dijadikan penonton, bukan pelaku ekonomi.

Dampaknya sekarang, perekonomian Indonesia hanya mengandalkan impor. Mulai dari kebutuhan bayi, sampai barang mewah. Betapa kecutnya, ketika kita tidak menemukan barang original buatan dalam negeri. Mungkin hanya batik dan jamu, itu pun kini sudah diklaim Malaysia. Sebagai contoh, susu hanya bisa dipenuhi oleh produksi lokal, tidak jauh dari 30 persen dari total kebutuhan. Sedangkan sisanya diimpor dari Australia dan negara lainnya.

Begitu pun hasil peternakan, seperti daging sapi. Jika sudah demikian, muncul pertanyaan. Bagaimana dengan kebesaran pendudukan Indonesia yang konon mampuh melakukan swasembada pangan? Setiap daerah, dalam laporan akhir tahunnya, selalu menyebutkan mengalami surplus beras dan kebutuhan pokok lainnya. Betapa hebatnya, laporan itu. Artinya, rakyat Indonesia tidak pernah kekurangan sandang pangan bahkan mungkin papan.

Namun selalu kita dengar isakan mereka tentang kemiskinan yang meraja lela. Penganggur setiap tahun bertambah, kendati dalam laporan angkanya dapat diturunkan. Lapangan pekerjaan terus bertambah baik di sektor riil dan jasa. Tapi ketika ada bursa lowongan kerja di buka lebar-lebar, yang datang bukan ratusan tapi ribuan. Begitu pun dengan terjadinya migrasi dan urbanisasi dari desa ke kota, setiap tahun tidak pernah berkurang.

Sampai-sampai Ibu kota Indonesia (Jakarta) sesak oleh pendatang. Begitu sesaknya, Pemrov DKI menerapkan aturan tidak manusia. Merajia KTP, dan melakukan deportasi kepada masyarakat pendatang. Masyarakat pendatang pun tidak pernah kapok diperlakukan seperti itu, bagaikan sudah tidak memiliki lagi hati dan harga diri. Setiap hari di layar kaca, kita saksikan pedagang-pedagang di gusur (bahasa pemerintah ditertibkan).

Bukan kah sama halnya bahwa hak dasar sebagai warga negara Indonesia untuk memeroleh penghidupan yang layak dan aman tidak berhasil diterapkan oleh pemimpin Bangsa Indonesia. Tidak saja pemimpin yang sekarang. Mulai dari Soekarno, Soeharto, BJ. Habibi, Gusdur, dan Megawati. Semuanya tidak mampu memberikan peningkatan ekonomi secara signifikan. Betapa sedihnya ketika terjadi hiruk pikuk di gedung DPR/MPR yang konon refresentatif rakyat Indonesia.

Setiap tahun menghasilkan undang-undang, tapi apa hasilnya bagi rakyat yang terus digerus kemiskinan karena susahnya memeroleh penghasilan sepadan dengan kebutuhan. Bagaimana, mereka tidak menjerit terhimpit kemiskinan, harga-harga sudah tidak berlebel rupiah lagi tapi dolar Amerika. Ketika kita belanja, tentu menggunakan rupiah. Tapi, di balik itu, jumlah harga yang disodorkan sama senilai dengan harga dolar.

Contoh tidak sederhana, kebutuhan ondoerdil kendaraan setiap melonjak-lonjak dengan alasan dolar. Begitu pun dengan barang elektronik. Jika sudah demikian, tahun mendatang seluruh barang akan dibandrol dengan dolar. Artinya, penjajahan terhadap rakyat Indonesia tidak pernah berakhir. Namun tidak kasat mata, ibarat kita membaca komik, semuanya terasa hitam putih. Tokoh antagonis dan protagonisnya jelas. Begitu pun bidang ekonomi tokoh kapitaslis, sosialis telah menghancurkan sisi kemanusiaan rakyat Indonesia dari segala aspek.****

h1

Di Atap Kita Bersetubuh

Maret 16, 2008
ketika takut menyelinap diam-diam di ruang tamu.
ada sebait puisi tergeletak di atas meja, tumpah ke dalam mangkuk.
tangan gemetar di atas bahu, membawa sebatang lilin yang terperangkap gelap.
ada bisikan yang menguap diantara daun pintu dan jendela.
uang logam terbanting di pintu dan mengendap dalam angan-angan.
siapa engkau yang terbang di atas kepunden, membawa secarik alamat.
namun tidak juga ditemukan.
angin yang bertiup dari celah-celan dinding, menyapa diam-diam ke tengkuk-ku.
mengajak-ku bercengkrama dengan sekaleng first drink.
membacakan mantera diantara jelaga yang dilempar ke penggorengan.
ah …. mengapa kau masih diam, sayang?
tak terdengarkah jantungku yang bertalu-talu
membawakan rebana dengan secangkir kopi pait
mengajak mu bersetubuh di atas atap
ah…………. kenapa membisu sayang,
masih ada bantal guling yang tidak pernah setia menemani malam
tidak pernah menghadirkan mimpi
meski sekejap ….
ah ………… sayang ………..
dimana senyummu yang kerap mengikut sandalku?
h1

Jangan Sekolahkan Anak Kita

Maret 3, 2008
Dunia pendidikan dewasa ini terasa semakin kacau balau, khususnya yang terjadi di sekolah-sekolah. Tidak terkecuali. Mungkin sekolah swasta sudah jelas statusnya dan orientasinya. Meski dinaungi oleh mahluk yang bernama yayasan. Mungkin juga tidak perlu dipersoalkan.

Yang menjadi persoalan ialah sekolah-sekolah negeri. Sekolah milik pemerintah, belakangan mengalami perubahan orientasi dari mendidikan jadi cord bisnis. Alias orientasi dagang. Alis berorientasi keuntungan! Betapa tidak, pemerintah telah mengucurkan dana bantuan operasional sekolah alias BOS.
Artinya kebutuhan sekolah untuk sarana dan prasana pendidikan sudah terpenuhi. Namun kenyataan di lapangan, ini terjadi di Kabupaten Kuningan. Pihak pengelola sekolah mulai dari SD sampai SMA, (SMA tidak memeroleh BOS) telah menjadikan dunia pendidikan jadi dunia dagang.
Contoh kecil, sekolah mengakali kepada siswanya untuk membeli buku lembar kerja siswa (LKS). Celakanya lagi, memberikan pekerjaan rumah (PR) kepada siswa melalui LKS pagi dan siang. Artinya PR pagi berbeda LKS-nya dengan PR siang hari untuk dikerjakan di rumah.
Padahal buku sumber sudah di drop melalui BOS. Tidak itu saja, sekolah tetap memungut uang kepada siswa dengan dalih program pramuka, PMR dan seterusnya. Itu baru di tingkat SD.
Lebih parah lagi, tingkat SMP. Siswa harus membeli sepatu dengan lebel sekolahnya dengan harga Rp. 80.000,- gesper, kaos kaki, baju dan rok seragam. Semuanya berlebelkan sekolah bersangkutan.
Jika siswa tidak menggunakan atribut yang berlebelkan sekolahnya kena hukuman disiplin. Itu baru dari satu sisi. Belum LKS, buku sumber mata pelajaran. Dan SPP tetap berlaku namun bahasanya menjadi bantuan program penggemukan pengelola sekolah atau disingkat BP 3.
Betapa kacaunya dunia pendidikan. Sementara orang tua tidak pernah ribut dengan bayarannya meski harus banting tulang menyediakan biaya sekolah kendati mahal. Namun tidak menjamin anaknya masuk sekolah vaforit. Atau setidak-tidaknya berkualitas.
Tapi apa lacur. Dunia pendidikan hanya menuntut dan menuntut tidak saja pada pemerintah tapi juga pada orang tua siswa. Artinya, dunia pendidikan menjadi dua mata pisau yang sama tajamnya. “gorok sana … gorok sini ….” ah memang keterlaluan.
Jika sudah carut marut begini, untuk memerbaiki dunia pendidikan hanya cukup dengan satu cara. Yaitu “Jangan sekolahkan anak-anak kita di sekolah paling sedikit 6 tahun” biarkan anak kita, kita didik di rumah. Tidak harus masuk sekolah. Logikanya, jika selama enam tahun itu tidak ada yang masuk sekolah dan terjadi di seluruh Indonesia. Maka dunia pendidikan akan berubah!***

h1

Februari 21, 2008

kutuliskan hati yang kian merah di atas capung

merayap diantara bunga-bunga jaitun

“kemari lah kupu-kupu yang hilang keindahan”

sebait puisi tumpah di atas piring,

kau masih diam dengan secangkir kopi

menatap perahu yang kian tenggalam dalam matahari

“kemarilah kupu-kupu yang diam dalam kepompong”

lidah tercampakan ke dalam comberann

kau masih diam menerawang mencari lampion

lemparkan sauh, ke telaga tak berair

mencari kuda yang menguap diantara cahaya

“ah kau masih diam dalam angan-angan”

kemarilah sayang, tidak kah kau mengerti,

kokok ayam ditelan embun pagi

sampai kapan kau lemparkan air mata ke dalam baskom?

masihkah kau tersenyum pahit pada tempayan gosong?

sayang, aku masih menyintai mu dalam labirin

h1

Martabat

Desember 12, 2007

Suka Hardjana

Waktu masih duduk di bangku sekolah rakyat saya sering kesulitan membedakan kata martabat dan martabak. Buat anak kecil yang baru mulai belajar tahu memang agak sulit membedakan kedua kata itu.

Pertama, tentu karena kedua kata itu bukan kata bahasa Indonesia asli, melainkan contekan kata dari bahasa Arab. Kedua, karena di samping tak saling berkaitan, kedua kata benda tersebut sama sekali berbeda makna dan pengertian.

Buat anak kecil tentu lebih mudah memahami kata martabak. Martabak itu nyata, menarik perhatian, dan enak rasanya. Tetapi, martabat? Abstrak! Senyatanya tidak nyata. Ia hanya ada di benak angan-angan hasil bentukan abstraksi simbolis yang menjadi bagian konsep citra sosial dalam tata pergaulan antarmanusia. Kenyataan maya, kata orang zaman sekarang. Wajar bila anak-anak belum dapat memahami konsep semu di balik makna kata martabat.

Sejatinya, martabat hanyalah kesemuan (abstraksi sosial) yang seolah-olah. Hasil rekayasa adab manusia. Ia terbentuk melalui bangunan status yang diciptakan (diperkenalkan) sebagai hasil adopsi pergaulan manusia beradab. Konon, makin tinggi per/adab/an, makin berjenjang pula bangunan status sosial yang diciptakan manusia melalui adanya kebutuhan eksistensi ke koneksitas citra martabat.

Martabat adalah citra. Ia bangunan konstruksi sosial yang dianggap. Martabat lantas menjadi bagian penting bagi keberadaan manusia—baik pribadi maupun kelompok. Demikian pentingnya asumsi martabat manusia sampai-sampai ia menjadi pertaruhan hidup-mati bagi orang per orang, kelompok, maupun suku-suku bangsa tertentu.

Anehnya, manusia pilihan penuh martabat, seperti Jesus, Budha Gautama, Gandhi, Ibu Theresia, dan para sufi, sepertinya justru tidak begitu memusingkan martabat duniawi bagi dirinya sendiri: “Kerajaanku tidak ada di Bumi,” kata Jesus.

Mungkin paradoks ini bisa dibaca, semakin ciut (minder) citra martabat seseorang atau kelompok masyarakat dan suku/bangsa, semakin rusuh pula mereka merisaukan bangunan citra martabatnya. Orang lalu sering mudah marah, mudah merasa tersinggung, terhina, direndahkan, diremehkan, dilecehkan, disepelekan, tak dihargai, tak dihormati—merasa direndahkan harga diri dan martabatnya. Bagaimanakah sebenarnya martabat sehingga orang sering harus mati-matian mempertahankannya?

Martabat adalah asumsi dasar tingkat kemandirian eksistensi dalam adab tata pergaulan antarmanusia. Kecuali Hanoman dalam cerita wayang epik Mahabharata, makhluk binatang tak mengenal citra martabat. Semakin tinggi asumsi adab tata pergaulan antarmanusia, semakin tinggi pula pencitraan bangunan martabat yang dia angankan.

Dalam jenjangan status sosial hubungan antarmanusia, martabat sering dihubung-hubungkan dengan kekuasaan, kepangkatan, kedudukan dan jabatan, darah keturunan dan lingkungan, gelar, kekayaan dan sebagainya, sesuatu yang parameternya sumir dan diragukan.

Semua orang tahu, tak jarang orang berpangkat, berkuasa, berkedudukan, bergelar atau kaya ompong nama baik dan martabatnya karena terpeleset tingkah laku buruk di tataran umum.

Martabat juga sering dikorelasikan dengan nama baik, wibawa, kehormatan dan harga diri seseorang, kelompok, atau golongan masyarakat tertentu. Walaupun sama-sama abstrak, tetapi nama baik, wibawa, kehormatan, dan harga diri dipercaya sebagai elemen mendasar yang melatarbelakangi citra martabat seseorang.

Secara klasik, elemen-elemen mendasar yang menandai bobot martabat seseorang diyakini bersumber dari perilaku budi baik dan prestasi yang menimbulkan prestise sebagai modal personal. Dalam acuan lebih dekat saya kira tidak banyak orang yang tidak setuju bila dikatakan Bung Hatta, HAMKA, Ki Hadjar Dewantara, Agus Salim, dan Hamengku Buwono IX adalah contoh manusia Indonesia yang perilaku budi baik dan prestasi mereka (sebagai modal personal) melahirkan martabat yang membangkitkan rasa hormat hingga hari ini.

Dalam kondisi bangsa dan negara yang sedang kita lakoni saat ini, barangkali perilaku budi baik dan prestasi yang menimbulkan prestise sebagai modal personal untuk meraih bobot martabat (moral value) lebih baik perlu dikampanyekan kepada semua orang dan golongan.

Walau lebih sulit dari memberantas korupsi dan menegakkan hukum, cara yang diusulkan di atas akan jauh lebih efektif dan berguna daripada terus-menerus melampiaskan jargon politik pepesan kosong berbunyi nyaring budaya unggul, bangsa besar, kita telah …., kita juga bisa…. dan seterusnya.

Rasa minder dan kesumat harga diri tak akan membangunkan rasa hormat yang melahirkan martabat. Martabat hanya bisa dibangun dengan perilaku budi baik dan prestasi yang menimbulkan rasa hormat. Bukan karena sekadar kestabilan politik ragawi, kemakmuran surgawi dan kekuatan pertahanan militer otot-kawat-tulang besi. Banyak bangsa dan negara yang tergerogoti martabatnya justru karena kekuatan stabilitas politik, ekonomi dan pertahanannya yang represif dan menjadikan dirinya sebagai sumber petaka eksploitasi bagi orang dan bangsa lain.

Ekspansi kolonialisme baru dalam selubung neoliberalisme yang agresif dan mengabaikan martabat dan rasa hormat pihak liyan harus dicermati bila orang tak hendak dianggap keledai kampung oleh bangsa lain yang merasa lebih maju.

Martabat memang bukan martabak. Biar semu, tetapi terus dikejar orang. Seperti orang mengejar bayang-bayang sendiri. Sebagai modal personal, martabat hanya bisa dikejar dengan perbuatan nyata perilaku budi baik dan prestasi yang menimbulkan rasa hormat. Martabat tak mungkin diraih hanya dengan sekadar membangun wacana. Karena wacana itulah yang sesungguhnya semu dalam pengertian martabat sebenarnya.***

sumber KOMPAS